SIDOARJO (RadarJatim.id) – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Sidoarjo merupakan salah satu sekolah yang menjadi percontohan pendidikan perubahan iklim. Pelaksanaanya sudah bisa berjalan dengan sangat baik, sehingga pada (8/5/2026) mendapatkan kunjungan dari Delegasi Australia.
Dialah Thea Stinear dan Mahnee Cooke, dua orang guru yang mengajar ilmu pengetahuan alam (sains), matematika, dan kesehatan di sebuah sekolah menengah (SMP/SMA) di Melbourne Australia. Mereka didampingi Koordinator Pendidikan Perubahan Iklim dari INOVASI (Inovasi untuk Anak Indonesia) Pusat Jakarta.
Thea Stinear menjelaskan bahwa kedatangannya untuk menjaring kolaborasi internasional. Ia katakana, kalau isu perubahan iklim kini menjadi salah satu fokus utama yang mulai diintegrasikan ke dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Melalui program kemitraan inovatif, organisasi internasional COOL (Cloud-Based Open Learning) bersama Bridge dan Pemerintah Australia, bergandengan tangan dengan para pendidik di Indonesia untuk menyelenggarakan program edukasi terkait perubahan iklim yang adaptif dan kontekstual.
Program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga membawa inovasi langsung ke dalam ruang kelas. Perwakilan dari tim penyelenggara mengungkapkan rasa antusiasnya karena dapat terlibat langsung dalam upaya meningkatkan kesadaran generasi muda Indonesia terhadap tantangan iklim global.

Meskipun didukung oleh lembaga dan instansi internasional, penyelenggara menyadari bahwa mereka tidak dapat berjalan sendiri. Kemitraan dengan para guru dan praktisi pendidikan di Indonesia menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
“Orang Indonesia lah yang paling tahu tentang murid-murid mereka, dan mereka pula yang paling memahami kondisi para guru di sini. Oleh karena itu, program ini menjadi wadah bagi kita untuk saling belajar,” ungkapnya.
Kehadiran mereka disambut langsung oleh Kepala MIN 1 Sidoarjo Sri Utami, S.Pd bersama jajarannya. Mereka diajak keliling sekolah, masuk kelas dan melihat kondisi halaman yang sudah sangat bagus, tumbuh-tumbuhan hias tidak saja di halaman tetapi juga adi teras sekolah, sudah sangat asri dan indah.
Termasuk juga sudah menggunakan tenaga surya untuk aliran listrik, pemilahan sampah, pengelolaan limbah air wudlu bisa untuk pemeliharaan ikan lele, juga kondisi kantin yang tanpa menggunakan sarana dari plastik.
Kepala MIN 1 Sidoajro Sri Utami mensampaikan permasalahan sebelum menjadi Pilot Project Pendidikan Perubahan Iklim. Ia terangkan lingkungan sekolah seperti minimnya tempat sampah terpilah, sistem drainase yang tersumbat, hingga suhu udara kelas yang panas kerap menjadi tantangan besar bagi pihak sekolah.
Kondisi kelas yang gerah seringkali membuat siswa merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun, sebuah sekolah berhasil melakukan transformasi besar-besaran untuk menciptakan iklim belajar yang sejuk, nyaman, dan aman bagi anak-anak.
Sebelum adanya pembenahan lingkungan, sekolah ini kerap kali dilanda banjir akibat buruknya sistem pembuangan air. Jika banjir melanda, pihak sekolah terpaksa meliburkan para siswa demi menjaga keamanan dan keselamatan mereka.
Namun kini, kondisi tersebut telah berubah total berkat pemasangan lubang biopori dan program penghijauan massal di area lapangan sekolah. “Alhamdulillah, setelah dipasang biopori dan ada banyak tanaman keras di sekitar lapangan, anak-anak sudah tidak pernah libur lagi. Kalaupun ada genangan air, sekarang menjadi cepat surut,” terangnya.
Komitmen sekolah dalam meningkatkan keanekaragaman hayati dibuktikan dengan langkah aktif membaca peluang kerja sama dengan instansi pemerintah. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 600 jenis tumbuhan yang ditanam di lingkungan sekolah hasil kolaborasi dengan beberapa pihak.

Merawat ratusan tanaman di lingkungan sekolah tentu bukan perkara mudah, terlebih untuk memastikan agar anak-anak tidak merusak tanaman yang ada. Oleh karena itu, pihak sekolah menerapkan edukasi yang konsisten setiap hari serta menumbuhkan rasa tanggung jawab langsung kepada siswa melalui konsep grow leadership.
Setiap siswa kini diwajibkan membawa bunga sendiri dari rumah dan bertanggung jawab penuh untuk merawatnya, mulai dari menyiram hingga memastikan tanaman tersebut tumbuh subur di sekolah.
“Selain itu, sekolah juga telah membagi tugas kebersihan (tupoksi) yang jelas di setiap kelas melalui jurnal petugas piket dan pengawas lingkungan (monem). Dengan keterlibatan aktif ini, siswa tidak hanya belajar mencintai lingkungan, tetapi juga melatih jiwa kepemimpinan dan kepedulian sejak dini,” tegas Bu Sri_sapaan akrabnya.(mad)






