Oleh Rizka Amalia
Kualitas sebuah bangsa tidak dibangun dalam waktu sekejap saja. Untuk itu, perlu perencanaan dan strategi yang mendukung agar sebuah bangsa dapat memiliki kualitas yang unggul, berdaya saing, dan senantiasa mengalami peningkatan yang baik. Dengan kualitas bangsa yang baik, maka peningkatan kesejahteraan masyarakatnya juga akan membaik.
Peningkatan kualitas bangsa dapat diupayakan melalui jalan literasi. Secara etimologis, literasi berasal dari bahasa Latin, yaitu literatus yang artinya ‘melek huruf’. Merujuk pada Dinas Perpustakaan Umum dan Kearsipan, literasi diartikan sebagai kemampuan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah, serta menggunakan potensi tersebut untuk mengolah informasi dan berpikir kritis. Literasi bukan sekadar melek huruf, melainkan keterampilan dinamis untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam masa yang sangat modern kini, literasi menjadi sebuah pilihan yang tepat untuk menciptakan kualitas bangsa dan membangun peradaban yang maju, seperti Cina, Korea Selatan, Jepang, atau Singapura, sebagai bangsa Timur yang lebih dulu mengalami kemajuan yang baik. Bangsa-bangsa tersebut terbukti menjadi bangsa yang maju karena literasinya yang juga maju.
Hal tersebut didukung dengan data terbaru yang dirilis oleh OECD (PISA 2022 yang hasilnya dirilis di 2023/2024), Singapura bahkan menempati posisi tertinggi secara global dalam hasil PISA. Singapura mendominasi semua kategori, dengan skor matematika 575 dan literasi membaca 543. Hasil tersebut disusul oleh Macao, Chinese Taipei, Hongkong, dan Jepang yang memiliki skor matematika tertinggi.
Dibandingkan negara-negara maju tersebut, Indonesia harus berpuas diri menduduki peringkat ke-70 dari 80 negara. Hal tersebut menjadi kenyataan pahit yang harusnya menggelitik jiwa dan menggugah nurani kita. Di saat semua orang telah melek huruf dan teknologi, Indonesia tetap saja tertinggal dari negara lain. Hal ini harus menjadi sebuah cambukan dan motivasi agar Indonesia tidak lagi menjadi negara yang tertinggal.
Belajar dari sejarah, bangsa yang melek literasi selalu diikuti dengan kesuksesan. Bahkan, berabad-abad yang lalu, tepatnya di masa Dinasti Abbasiyah dan di bawah kepemimpinan Harun Al Rasyid, Islam mencapai puncak kesuksesan dan kemajuan peradaban. Masyarakatnya dipenuhi orang-orang yang melek akan literasi. Budaya membaca, kegiatan penerjemahan, penelitian, serta penyusunan naskah tulisan benar-benar menjadi budaya dan kebutuhan di kalangan masyarakat. Hasilnya, Dinasti Abbasiyah tercatat sepanjang sejarah sebagai puncak kejayaan peradaban Islam atau dikenal sebagai The Golden Age of Islam.
Di masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, budaya, dan perluasan wilayah berjalan dengan sangat maju. Di masa ini juga, banyak bermunculan kaum intelektual dan para ilmuwan besar, seperti Al-Khwarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina di bidang kedokteran, dan Jabir bin Hayyan di bidang kimia. Bukankah kita juga merindukan masa-masa kejayaan tersebut? Semoga dengan adanya fakta tersebut, hal itu dapat menjadi motivasi bagi bangsa Indonesia untuk memperbaiki kualitas dirinya.
Sementara itu, yang tak kalah pentingnya, melalui esai ini, saya ingin menyampaikan kondisi literasi daerah yang akan saya tuju juga tergolong kondisi yang tak kalah memprihatinkan. Probolinggo yang dijuluki sebagai Kota Bayuangga (Bayu=Angin, Angga=Mangga & Anggur), Kota Mangga, dan Kota Angin ini masih tergolong rendah dalam bidang literasi. Literatur, komunitas, dan taman bacaan juga sangat minim. Termasuk aktivitas literasi juga masih minim.
Kondisi masyarakatnya masih banyak didominasi dengan pelaku usaha atau pedagang, petani, dan nelayan. Hal tersebut sebenarnya tidaklah salah karena mengingat kondisi geografisnya yang dikelilingi gunung dan laut. Meskipun begitu, sebenarnya upaya untuk meningkatkan literasi di daerah tersebut juga sudah baik. Akan tetapi, perlu ditingkatkan kembali pemahaman masyarakat akan literasi.
Dengan fakta tersebut, saya sebagai lulusan sastra Indonesia dan seorang ibu rumah tangga merasa terpanggil dan ingin berkontribusi untuk membangun terciptanya iklim yang baik dalam bidang literasi di kalangan masyarakat. Sebelum ini pun sebagai lulusan sastra dan seorang pengajar di Kabupatan Sidoarjo, saya aktif menjadi pegiat literasi dan tergabung dalam komunitas. Berbekal pengalaman tersebut, saya berharap dapat juga berkontribusi di daerah lain, khususnya di Probolinggo.
Sejujurnya, meski belum lama tinggal di Probolinggo, saya telah jatuh cinta dengan masyarakat di Probolinggo. Masyarakat di Probolinggo tidak hanya berasal dari suku Jawa, suku Madura di daerah ini juga sudah dikenal sejak lama tinggal dan menetap. Kondisi ini semakin unik dan menantang, terlebih ketika saya pribadi bertanya pada pengurus dewan keseniannya, organisasi yang harusnya didukung pemerintah sudah lama tidak mendapatkan bantuan dana untuk kegiatan seni dan budaya di mana bidang tersebut juga termasuk dalam bidang literasi.
Dengan adanya program Relawan Literasi Masyarakat, saya berharap dapat mengamalkan ilmu dan pengalaman yang selama ini sudah saya dapatkan dan terapkan sebelumnya di daerah di mana saya lahir dan besar, yakni Surabaya dan Sidoarjo. Dari keseluruhan kegiatan yang pernah saya lakukan, saya mendapati corak dan budaya di Probolinggo juga tidak berbeda jauh karakteristiknya.
Untuk itu, saya optimistis dapat mengikuti dan menjalankan program Relima ini. Besar harapan, saya juga bisa menjalankan program yang nantinya ditentukan dari Perpusnas RI melalui program Relima ini. {*}
*) Rizka Amalia, Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.




