• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Sabtu, 6 Juni 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Artikel dan Opini

Berbeda Tapi Satu: Merawat Toleransi dari Akar Rumput

by Radar Jatim
6 Juni 2026
in Artikel dan Opini
0
AI di Ruang Kelas, Antara Peluang Emas dan Ancaman Terselubung

Junaedi

26
VIEWS

Oleh Junaedi

Di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Jawa Timurada sebuah pemandangan yang mungkin terasa biasa bagi warganya, tetapi sesungguhnya luar biasa maknanya. Di sana, tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buda duduk bersama satu meja, berbagi makanan, berbagi cerita, bahkan tidur di rumah-rumah warga yang berbeda keyakinan dari mereka.

Ini bukan sekadar aktivitas seremonial. Bukan pula sekadar foto bersama untuk laporan kegiatan. Mereka sungguh-sungguh belajar hidup bersama dan warga desa itu menerimanya dengan hangat, seperti menerima saudara yang lama tidak pulang.

Inilah yang disebut toleransi dari akar rumput. Bukan toleransi yang lahir dari khotbah di podium atau dari peraturan atau regulasi yang ditandatangani pejabat. Melainkan toleransi yang tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: berbagi sumur, membantu panen bersama, mengantar tetangga yang sakit ke Puskesmas, tanpa bertanya terlebih dahulu apa agamanya.

Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang intoleransi yang sering mewarnai berita nasional, kisah-kisah seperti ini adalah pengingat penting: bahwa Indonesia, dan Jawa Timur khususnya, menyimpan kekayaan tradisi kerukunan yang telah teruji berabad-abad. Dan, kekayaan itu bukan untuk dikagumi dari jauh. Lebih dari itu, ia harus terus dirawat, diperkuat, dan diwariskan.

Toleransi Bukan Barang Impor

Sering kita mendengar seolah-olah toleransi adalah nilai yang datang dari luar, dari wacana hak asasi manusia internasional, dari tekanan asing, atau dari agenda tertentu. Padahal, jauh sebelum istilah itu ada, nenek moyang kita sudah mempraktikkannya dalam bentuk yang paling sederhana dan paling tulus: gotong royong.

Ketika membangun masjid, warga Nasrani ikut mengangkat batu bata. Ketika ada warga Hindu yang meninggal, tetangga Muslim datang membantu menyiapkan keperluan. Ketika panen tiba, semua tangan bekerja bersama tanpa memilih berdasarkan agama. Inilah DNA asli masyarakat Jawa Timur —dan masyarakat Indonesia pada umumnya— yang sejak lama telah menjadikan perbedaan bukan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai warna-warni yang mempercantik kehidupan bersama.

Bahkan dalam tradisi pesantren —yang menjadi tulang punggung pendidikan di Jawa Timur— nilai rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam) bukan sekadar hafalan. Ia adalah panduan hidup. Seorang santri diajarkan, bahwa memuliakan tetangga –apa pun agamanya–, adalah bagian dari ibadah. Menjaga kedamaian lingkungan adalah kewajiban yang sama pentingnya dengan menunaikan ibadah salat.

Ketika Akar Rumput Bergerak

Yang menggembirakan, semangat toleransi dari bawah ini kini mendapat ruang yang lebih terstruktur, tanpa kehilangan keasliannya.

Di berbagai penjuru Jawa Timur, Kampung Moderasi Beragama terus bermunculan. Di Kabupaten Malang, di Kota Kediri, di Kabupaten Kediri, komunitas-komunitas ini menjadi laboratorium hidup yang menguatkan, bahwa kerukunan bukan hanya diperbincangkan, tetapi dipraktikkan dalam kegiatan nyata sehari-hari.

Di Desa Tawang, Kabupaten Kediri, warga dari berbagai latar belakang agama bahkan diajak menanam ubi jalar bersama-sama. Sebuah metafora yang indah: dari tanah yang sama dan tangan yang berbeda, lahirlah hasil yang dinikmati bersama.

Kementerian Agama mencatat, bahwa sepanjang 2025, sebanyak 468 Desa Sadar Kerukunan telah dibina di seluruh Indonesia sebagai laboratorium hidup moderasi beragama. Ini bukan angka yang lahir dari meja rapat. Ini adalah cerminan dari gerakan nyata masyarakat yang percaya, bahwa kerukunan harus dirawat aktif, bukan sekadar dibiarkan mengalir sendiri.

Kerukunan, kata seorang pejabat Kemenag dengan bijak, bersifat dinamis. Ia harus terus dirawat secara berkelanjutan. Kalimat itu adalah kebenaran yang sederhana, namun sering terlupakan. Seperti halnya tanaman: ia tidak cukup ditanam sekali lalu ditinggalkan. Ia butuh disiram, dipupuk, dilindungi dari hama.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Mereka yang Rukun?

Melihat komunitas-komunitas yang berhasil menjaga kerukunan bertahun-tahun, ada pola menarik yang bisa kita pelajari bersama.

Pertama, mereka mengenal satu sama lain secara personal. Toleransi, misalnya, bukan hubungan antara umat Islam dan umat Kristen sebagai kelompok abstrak. Toleransi adalah hubungan antara Pak Hasan dan Pak Yohanes yang bertetangga, yang tahu anak masing-masing, yang pernah menolong satu sama lain di saat susah. Pengenalan personal adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh spanduk toleransi sekalipun.

Kedua, mereka berbagi ruang, bukan sekadar saling memberikan jarak. Ada perbedaan besar antara toleransi yang berarti ‘aku tidak mengganggumu’ dengan toleransi yang berarti ‘aku peduli padamu’. Yang pertama adalah batas minimal. Yang kedua adalah kerukunan sejati. Komunitas yang rukun tidak hanya menghindari konflik. Mereka secara aktif terlibat dalam kehidupan satu sama lain.

Ketiga, mereka punya tokoh yang menjadi teladan. Di setiap desa atau kampung yang dikenal toleran, selalu ada figur —bisa seorang kiai, seorang pendeta, seorang tokoh masyarakat— yang secara konsisten menunjukkan sikap menghormati perbedaan. Satu orang yang berani berdiri dan berkata ‘kita bersaudara’ di saat ketegangan memanas, bisa mengubah arah peristiwa secara dramatis.

Keempat, mereka menjaga tradisi kebersamaan. Kenduri, selamatan, kerja bakti, pasar rakyat, semua ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Ia adalah ritual kebersamaan yang secara tidak sadar terus memperbarui rasa persaudaraan. Ketika tradisi-tradisi ini mulai ditinggalkan —baik karena modernisasi maupun karena tekanan pandangan sempit— serat-serat sosial yang mengikat masyarakat pun mulai longgar.

Modal Luar Biasa

Jawa Timur bukan provinsi biasa dalam konteks toleransi. Ia adalah rumah bagi komunitas Muslim terbesar dengan ribuan pesantren yang mengajarkan Islam rahmah, sekaligus rumah bagi komunitas Hindu Tengger di lereng Bromo yang telah hidup damai berabad-abad, komunitas Katolik yang berakar kuat, dan puluhan suku serta budaya yang berdampingan.

Sarasehan “Inspirasi Toleransi dari Jawa Timur untuk Nusantara dan Dunia” yang digelar di Wonosalam, Jombang —dengan peserta dari berbagai kabupaten/kota— menunjukkan, bahwa Jawa Timur tidak hanya punya cerita toleransi untuk dinikmati sendiri. Ia punya tanggung jawab untuk menjadi inspirasi bagi seluruh Nusantara. Itu bukan kebanggaan yang kosong. Itu adalah amanah.

Merawat yang Sudah Ada, Membangun yang Belum Terjamah

Toleransi dari akar rumput tidak membutuhkan anggaran besar. Ia tidak membutuhkan seminar mewah atau baliho bergambar tokoh agama yang tersenyum bersama. Yang ia butuhkan jauh lebih sederhana: kemauan untuk menyapa tetangga yang berbeda, keberanian untuk hadir di momen penting bagi mereka, dan kesabaran untuk mendengarkan cerita orang yang keyakinannya berbeda dari kita.

Mulailah dari lingkungan terdekat. Kenali tetangga lintas agama Anda dengan sungguh-sungguh. Ajak anak-anak bermain bersama tanpa memisahkan berdasarkan agama. Hadiri undangan kenduri, syukuran, atau perayaan hari besar tetangga, bukan untuk ikut beribadah, tetapi untuk berbagi kebahagiaan.

Karena pada akhirnya, toleransi bukan tentang setuju atau tidak setuju dengan keyakinan orang lain. Toleransi adalah tentang mengakui, bahwa setiap manusia berhak hidup dalam damai di bumi yang sama, beribadah kepada Tuhannya masing-masing tanpa rasa takut, dan menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri.

‘Berbeda tapi satu’ bukanlah slogan. Itu adalah cara hidup yang telah diwariskan leluhur kita, dan sudah sepatutnya diteruskanlanggengkan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. {*}

*) Junaedi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: junaedi@uinsa.ac.id.

Tags: Akar RumputBerbeda Tapi SatuJunaediMerawat Toleransi

Related Posts

No Content Available
Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In