• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Jumat, 12 Juni 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Artikel dan Opini

Budaya Lokal Masuk Algoritma: Antara Viral dan Lestari

by Radar Jatim
10 Juni 2026
in Artikel dan Opini
0
Pesantren dan Keadilan Restoratif: Menemukan Kembali Khazanah yang Terlupakan

Junaedi

35
VIEWS

Oleh Junaedi

Beberapa waktu lalu, sebuah video pendek memperlihatkan seorang remaja Surabaya menarikan Remo —tari khas Jawa Timuran— dengan iringan musik elektronik bertempo cepat. Video itu meledak di TikTok, ditonton jutaan kali dalam hitungan hari. Kolom komentar penuh pujian: “Keren banget!”, “Proud to be Javanese!”, hingga deretan bendera merah putih dari warganet mancanegara.

Di satu sisi, hati ini ikut berbunga. Tari Remo yang biasanya hanya dikenal di panggung-panggung formal kini menjangkau generasi yang sebelumnya lebih hafal koreografi dance challenge Korea. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tak mudah dijawab: apakah ini benar-benar pelestarian budaya, ataukah sekadar eksploitasi estetika demi raihan angka views?

Inilah dilema besar yang kini dihadapi budaya lokal di era algoritma.

Ketika Reog Masuk For Your Page

Jawa Timur adalah gudangnya kekayaan budaya. Reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Jaranan Trenggalek, Tong-Tong Sumenep, semuanya adalah warisan adiluhung yang telah melewati ratusan tahun. Tahun 2026 ini, sebelas event budaya Jawa Timur bahkan berhasil masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), kalender budaya nasional paling bergengsi.

Namun di luar panggung resmi itu, ada panggung lain yang justru lebih luas jangkauannya: layar ponsel. Dan, di sanalah budaya lokal kita sedang memasuki babak baru yang penuh peluang sekaligus jebakan.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini menjadi medium baru penyebaran budaya. Para kreator muda dengan modal ponsel dan kreativitas telah berhasil membawa kesenian daerah ke hadapan jutaan mata yang belum pernah menginjakkan kaki di Jawa Timur sekalipun. Ini prestasi yang sesungguhnya luar biasa.

Riset menunjukkan, bahwa platform berbasis video pendek, seperti TikTok, berperan signifikan dalam tiga aspek: sebagai medium ekspresi kreatif, sarana transmisi pengetahuan budaya, dan alat promosi yang memperluas jangkauan hingga ke tingkat global melalui viralitas. Generasi muda yang selama ini dianggap abai terhadap tradisi, justru menemukan cara mereka sendiri untuk reconnect, bukan dengan cara yang kaku, melainkan dengan pendekatan yang terasa hidup dan relevan.

Viralitas Bukan Jaminan Kelestarian

Namun ada yang perlu kita waspadai bersama. Algoritma media sosial bekerja bukan berdasarkan nilai budaya, melainkan berdasarkan engagement: seberapa banyak orang menonton, menyukai, dan membagikan konten. Artinya, konten budaya yang disederhanakan, dipotong konteksnya, atau bahkan dikemas secara sensasional justru akan lebih mudah viral dibandingkan konten yang mendalam dan otentik.

Inilah yang para peneliti sebut sebagai risiko simplifikasi dan distorsi makna. Sebuah tarian sakral yang sarat filosofi bisa berubah menjadi sekadar filter yang lucu. Musik gamelan yang memiliki hierarki dan aturan pertunjukan bisa direduksi menjadi background sound yang trendy. Busana adat yang penuh simbol bisa kehilangan maknanya ketika dipakai semata sebagai properti foto.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fenomena komodifikasi budaya. Ketika budaya lokal menjadi konten yang menghasilkan uang —lewat iklan, endorsement, atau monetisasi— ada godaan besar untuk terus memproduksi konten serupa demi keuntungan, tanpa benar-benar mendalami nilai yang dibawa. Budaya tidak lagi dirawat, melainkan dipanen.

Belajar dari Cara Gen Z Merawat Warisan

Meski begitu, kita tidak boleh hanya berdiri di sudut skeptis. Sebab, di antara arus konten yang dangkal, ada pula kreator-kreator muda yang benar-benar serius.

Di Banyuwangi, ada komunitas anak muda yang mendokumentasikan prosesi-prosesi adat suku Osing secara lengkap dan mengunggahnya dengan narasi edukatif. Di Ponorogo, ada remaja yang tidak hanya menarikan Reog di TikTok, tetapi juga menjelaskan makna topeng Dadak Merak hingga sejarah perjuangan di baliknya. Mereka tidak hanya mengejar viral, tetapi mereka ingin dipahami.

Inilah model pelestarian budaya digital yang seharusnya terus didorong: bukan sekadar tampil, melainkan bercerita. Bukan sekadar cantik di layar, melainkan kuat di akar.

Format storytelling, voice-over yang menjelaskan konteks, hingga live streaming yang mengajak penonton bertanya langsung kepada seniman. Semua ini adalah cara-cara yang terbukti efektif membangun apresiasi yang lebih dalam, bukan sekadar decak kagum sesaat.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tentu saja, tanggung jawab ini tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada para kreator muda. Ada peran yang harus dimainkan oleh banyak pihak.

Para seniman dan komunitas budaya perlu lebih aktif turun ke dunia digital, bukan hanya sebagai objek yang direkam orang lain, tetapi sebagai narasumber dan pencerita utama. Pemerintah daerah perlu mendukung ekosistem kreator budaya yang bertanggung jawab, bukan hanya sekadar mendorong viralitas demi promosi pariwisata. Lembaga pendidikan juga perlu memasukkan literasi budaya digital sebagai bagian dari kurikulum.

Dan kita sebagai masyarakat —sebagai penonton— perlu lebih kritis dan apresiatif. Jangan hanya scroll dan like tanpa memahami apa yang kita saksikan. Karena warisan budaya bukan konten hiburan semata. Ia adalah identitas kita.

Budaya lokal yang masuk algoritma adalah keniscayaan zaman. Kita tidak bisa, dan memang tidak perlu, menghentikannya. Yang perlu kita pastikan adalah, bahwa di balik angka views dan followers, ada nilai yang tetap terjaga, ada cerita yang tetap utuh. Di situ ada generasi yang tidak hanya bangga memamerkan budayanya, tetapi benar-benar memahami dan mencintainya.

Karena budaya yang hanya viral tanpa akar, suatu saat akan hilang ditelan tren berikutnya. Tapi budaya yang tumbuh dari pemahaman dan kecintaan, akan terus hidup, di panggung mana pun ia berdiri, termasuk di layar ponsel generasi masa depan. {*}

*) Junaedi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: junaedi@uinsa.ac.id.

Tags: AlgoritmaBudaya LokalJunaediLestariViral

Related Posts

AI di Ruang Kelas, Antara Peluang Emas dan Ancaman Terselubung

Berbeda Tapi Satu: Merawat Toleransi dari Akar Rumput

by Radar Jatim
6 Juni 2026
0

Oleh Junaedi Di Desa Arjowilangun,...

Lestarikan Budaya Lokal, Ratusan Siswa SD se-Kecamatan Benjeng Meriahkan Festival Damar Kurung

Lestarikan Budaya Lokal, Ratusan Siswa SD se-Kecamatan Benjeng Meriahkan Festival Damar Kurung

by Radar Jatim
23 Mei 2026
0

‎‎GRESIK (RadarJatim.id) – Suasana di...

Gresik Panen Warisan Budaya Tak Benda, dari Kupat Keteg hingga Pencak Macan

Gresik Panen Warisan Budaya Tak Benda, dari Kupat Keteg hingga Pencak Macan

by Radar Jatim
22 Februari 2026
0

MALANG (RadarJatim.id) -- Kabupaten Gresik...

Load More
Next Post
Penerima Bantuan Pangan di Pare – Kediri Bertambah, Capai 12.176 KPM

Penerima Bantuan Pangan di Pare - Kediri Bertambah, Capai 12.176 KPM

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In