SIDOARJO (RadarJatim.id) –– Puluhan siswa kelas 6 SD Negeri Sidokepung 1 Buduran sangat antusias mengikuti prosesi pelepasan, pada (13/6/2026) pagi di halaman sekolah.
Pelepasan siswa yang dikemas dalam ‘Purnawiyata’ bertemakan ‘Nggayuh Lintang, Ngukir Sejarah, Mbangun Kamulyan’ itu juga nampak dihadiri oleh para orang tua siswa masing-masing.
Menurut Kepala SDN Sidokepung 1 Buduran Sri Wahyuni, S.Pd menuturkan kalau tema yang diusung ini sebagai salah satu puncak dari pembiasaan Bahasa Jawa yang telah dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah.
Yaitu pembiasaan melestarikan Bahasa Jawa yang dilaksanakan setiap hari Selasa, semua warga sekolah memakai busana adat Jawa.
“Bukan itu saja gurunya pun juga memberikan pembelajaran Basa Jawa, berupa tembang dolanan, tembang macapat, uluk salam, perangane awak dan pengenalan aksara Jawa,” tuturnya.
Adapun dasar pembiasaan Bahasa Jawa ini adalah 1) Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 19 Tahun 2014 yang mewajibkan Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal wajib di semua jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA/SMK) di Jawa Timur dengan alokasi minimal 2 jam pelajaran per minggu.
2) Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menetapkan Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu dari tiga daerah prioritas pelaksanaan program Revitalisasi Bahasa Jawa pada tahun 2025 (bersama Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik).
“Bertujuan untuk pelestarian dan perlindungan Bahasa Jawa dengan sasaran guru utama SD dan SMP untuk menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Sri Wahyuni juga memberikan nasihat melalui Serat Wedhatama Pupuh Pocung, Anggitanipun KGPAA MANGKUNEGARA IV.
Ngelmu iku kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya Budya pangekese dur angkara

Makna nasihat secara keseluruhan, adalah ilmu yang sejati tidak cukup hanya dipelajari atau dihafalkan, tetapi harus diamalkan dalam tindakan nyata (laku).
Perjalanan menuntut ilmu dimulai dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus (kas). Keteguhan hati itulah yang membuat seseorang mantap dalam menjalani proses belajar dan berbuat baik.
“Dengan berpegang teguh pada budi pekerti luhur dan kesetiaan pada kebenaran, seseorang akan mampu mengendalikan dan menghancurkan sifat-sifat angkara murka dalam dirinya,” tutur Sri Wahyuni pada siswanya.(mad)







