SURABAYA (RadarJatim.id) — Para praktisi bisnis dan pakar logistik maritim berbagi pengetahuan tentang perkembangan bisnis logistik maritim era 5.0 kepada para mahasiswa STIAMAK Barunawati Surabaya . Dikemas dalam seminar nasional bertema “Logistics 5.0: Building Resilient and Sustainable Supply Chains Through Digital Innovation, seminar berlangsung di gedung Pelindo Regional 3, Selasa (30/6/2026).
Ketua STIAMAK Barunawati Surabaya, Dr Gugus Wijonarko, MM, dalam open speech mengingatkan mahasiswa, dosen dan semua peserta akan pentingnya seminar tersebut.
“Kita dituntut tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi membangun ketahanan dan keberlanjutan rantai pasok global,” kata Gugus.
Menurut dia, ada tiga pesan utama yang penting untuk diperhatikan. Pertama, pilar teknologi dan manusia. Era logistics 5.0, katanya, sangat krusial bagi masa depan bangsa. Kedua, ketahanan terhadap disrupsi.
“Kita harus membekali diri dengan inovasi digital agar rantai pasok tidak mudah tumbang oleh krisis global,” lanjut Gugus.
Ketiga, tanggung jawab berkelanjutan. Inovasi teknologi yang diciptakan, lanjut Gugus, harus mendukung kelestarian lingkungan demi masa depan generasi penerus.
Kepada peserta seminar diingatkan, bagi mahasiswa bisa menyerap ilmu langsung dari pakar dan praktisi bisnis. Sementara bagi para dosen menjadi pemantik riset akademik yang berdampak nyata bagi industri.
Pakar Logistik Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya R.O. Saut Gurning, mengungkapkan, di era digital sekarang ini, hampir semua negara maju menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Kegiatan industrinya, semua mesin industrinya menggunakan AI. Di sini digitalisasi dipaksakan dan terpaksa. Hanya bagian atasnya saja yang digital, bawah-bawahannya sudah tidak nyambung. Kolaborasi digital di Indonesia belum menjadi kebutuhan kolektif,” kata Saut.
Sementara Wakil Ketua DPW ALFI Jawa Timur, Iko Sukma Handriadianto, mengatakan, digitalisasi sangat menunjang proses percepatan prosedur dan kepastian pada pengiriman logistik.
“Kami melayani jasa intermoda. Dari kapal dibongkar di TPS (Terminal Petikemas Surabaya, Red). Selanjutnya diangkut menggunakan kereta api. Semua butuh akurasi data dan kecepatan informasi. Jadi digitalisasi harus menyeluruh dan tidak bisa parsial,” kata Iko.
General Manajer PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Surabaya Antok Jatmiko, menjelaskan, bahwa MTI berkomitmen menjalankan tugas pemanfaatan teknologi secara maksimal. Memberikan pelayanan dengan cepat, transparan, efektif dan efisien.
“MTI bersinergi, berpartner dengan ALFI dan stakeholder lain untuk sama-sama untung,” kata Antok.
Dikatakan, berbeda dengan pandangan pelaku bisnis depo petikemas, menyatukan kepentingan bisnis itu tidak gampang. Alasannya, semua pelaku usaha mengejar keuntungan.
“Jujur, menyatukan berbagai kepentingan tidak gampang. Karena semua menginginkan ada pendapatan dan keuntungan bisnis,” kata Agung Kresno Sarwono, Ketua DPW Asdeki Jawa Timur.
Seminar nasional diikuti mahasiswa Prodi S1 Ilmu Administrasi Bisnis – konsentrasi Bisnis Pelabuhan dan Bisnis Logistik. Kegiatan kuliah dilaksanakan pagi dan sore. Kuliah lapangan dilaksanakan di Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Terminal Teluk Lamong (TTL), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK – JIIPE) Manyar Gresik, Terminal Petikemas Nilam Tanjung Perak dan Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS). (fai)







