Oleh Arik S. Wartono
Nika Dubrovsky merasa idenya bersama almarhum suaminya dirampas oleh ARTJOG untuk kepentingan festival yang secara ideologis berlawanan dengan nilai-nilai mereka.¹
Teks yang Berteriak, Sponsor yang Membungkam
Setiap festival besar selalu menulis teks kuratorial yang mulia: tentang pembebasan, reproduksi budaya, transmisi antargenerasi, tentang melawan eksklusi. ARTJOG 2026 tidak berbeda. Ia meminjam bahasa kritik. Ia meminjam nama besar. Ia meminjam David Graeber. Masalahnya: tubuh yang mendanai festival itu berdiri di seberang nafas gagasan yang dipinjamnya.
Nika Dubrovsky, co-author esai Another Art World bersama Graeber, adalah orang yang paling afdhol (lebih utama) membongkarnya. Ia menyebut apa yang terjadi sebagai skandal:
“A curious scandal is unfolding around ARTJOG’s use of @davidgraeber’s Another Art World (originally published by @e_flux).”²
Sebuah skandal yang ganjil sedang terjadi terkait penggunaan Another Art World karya @davidgraeber oleh ARTJOG, yang awalnya dimuat oleh @e_flux.
Di titik ini kita tidak sedang bicara soal hak cipta saja. Kita sedang bicara soal etika: bagaimana sebuah festival bisa mengibarkan panji kritik, sementara nafkahnya datang dari sumber yang dikritik oleh gagasan itu sendiri.
Co-Author yang Dihapus, Konteks yang Dibungkam
Dubrovsky mengoreksi satu hal mendasar: esai itu bukan milik Graeber seorang.
“Never mind that ‘Another Art World’ was co-written by @davidgraeber and me. Never mind that the project grew out of ideas around Proletkult—something David knew nothing about, but happily embraced and connected to German Romanticism.”³
Lupakan dulu bahwa Another Art World ditulis bersama oleh @davidgraeber dan saya. Lupakan juga, bahwa proyek itu tumbuh dari gagasan Proletkult, sesuatu yang David sendiri tidak paham, tapi dengan senang hati ia rangkai dengan romantisisme Jerman.
Proletkult adalah seni dari rakyat, untuk rakyat, melawan elit.⁴ Ketika ia dipotong dari akarnya, lalu ditempel pada pameran yang hidup dari dana keluarga kekuasaan, maka teks kuratorial berubah fungsi. Ia tidak lagi menjelaskan. Ia menutupi. Inilah bentuk hipokrisi paling halus: memakai bahasa kiri untuk membungkus uang oligarki.
Nama sebagai Mata Uang
Dubrovsky jujur soal logika industri seni:
“Of course, had David’s name not been on the essay, probably neither my name nor the essay itself would have attracted much attention. Brands work.”⁵
Tentu saja, jika nama David tidak tercantum dalam esai itu, mungkin baik nama saya maupun esai itu sendiri tidak akan mendapat banyak perhatian. Brands itu bekerja.
Ironinya menguat, karena tema ARTJOG 2026 sangat dekat dengan kerja Dubrovsky dan Graeber:
“The exhibition is about cultural reproduction, intergenerational transmission, and even includes children as participants—all ideas remarkably close to the Anthropology for Kids (a4kids.org) work David and I developed together.”⁶
Pameran ini tentang reproduksi budaya, transmisi antargenerasi, dan bahkan melibatkan anak-anak sebagai peserta—semua gagasan itu sangat dekat dengan kerja Anthropology for Kids yang David dan saya kembangkan bersama.
Gagasan dipakai. Nama dipakai. Tapi sumber dana bertentangan telak dengan isi gagasan. Dubrovsky menyebutnya ledakan:
“And now the whole thing has exploded because the festival invoked Graeber’s ideas while accepting sponsorship from the foundation of the president’s son – a notorious vampire.”⁷
Dan sekarang, semuanya meledak karena festival itu menggaungkan gagasan Graeber sementara menerima sponsor dari yayasan milik putra presiden, – seorang “vampir” yang terkenal.
Di sinilah kontradiksi menjadi telanjang: festival berbicara tentang pembebasan, sementara kantongnya diisi oleh kekuasaan yang menutup ruang pembebasan.
Kiri Juga Memakan Citranya Sendiri
Yang paling meresahkan bukan hanya sponsor, tapi pengakuan Dubrovsky tentang mekanisme:
“Here’s the truly uncomfortable thought: branding works just as ruthlessly on the left as it does on the right. Famous names become currencies.”⁸
Inilah pikiran yang benar-benar tidak nyaman: branding bekerja sama kejamnya di kubu kiri maupun kanan. Nama-nama besar berubah menjadi mata uang.
Ketika nama menjadi mata uang, maka kritik menjadi komoditas. Festival “kiri” bisa membeli Graeber, sama seperti pasar “kanan” membeli Basquiat. Keduanya menukar isi dengan citra. Keduanya membuat teks kuratorial menjadi katalog harga.
Dubrovsky bahkan menunjukkan jerat etisnya:
“The funniest part? If the @Graeber_social had behaved like a proper intellectual-property brand manager and demanded permission to use the Graeber name, the biennial might have had to negotiate with us—including some awkward conversations about sponsors. But if I simply ask to be acknowledged as a co-author, I risk looking petty.”⁹
Bagian paling lucu? Jika @Graeber_social bersikap seperti manajer merek kekayaan intelektual yang benar dan menuntut izin penggunaan nama Graeber, biennale mungkin harus bernegosiasi dengan kami, termasuk percakapan canggung soal sponsor. Tapi jika saya hanya meminta untuk diakui sebagai co-author, saya justru berisiko terlihat picik.
Menuntut keadilan dicap kecil hati. Diam berarti merestui. Itulah jebakan hipokrisi struktural.
Ironi yang Bernama Graeber
Graeber seumur hidup menolak utang, menolak negara, menolak seni yang dipisah dari kehidupan. Maka, ketika gagasan itu dipakai oleh festival yang menerima dana “vampir”, Dubrovsky hanya bisa menutup:
“That may be the most Graeberian irony of all.”¹⁰
Itu mungkin ironi yang paling Graeberian dari semuanya.
Ironi itu lahir dari pengalaman mereka sendiri di Venice Biennale 2019:
“In May 2019, just married a week before, we arrived at the Venice Biennale… We spent much of our first day in the Arsenale… trying to get past the… complex system of authorization numbers, bar codes, and color-coded passes…”¹¹
Pada Mei 2019, seminggu setelah menikah, kami tiba di Venice Biennale… Kami menghabiskan sebagian besar hari pertama di Arsenale… berusaha melewati sistem rumit nomor otorisasi, barcode, dan kartu akses berwarna….
Dari ruang yang penuh barikade itulah Another Art World lahir. Gagasan pembebasan yang tumbuh di dalam eksklusi. Kini ia dipajang di Yogyakarta, tapi dijaga oleh sponsor yang sama yang ingin ia lawan.
Seni Otonom Bukan Retorika
Saya membaca ini dari pinggir. Seni Otonom bukan berarti miskin. Otonom berarti menolak menjadi celengan narasi sponsor.
ARTJOG 2026 gagal di titik itu. Ia menulis teks yang berteriak melawan eksklusi, tapi struktur penyelenggaraannya mereproduksi eksklusi itu sendiri. Ia meminjam nama Graeber untuk atensi, tapi menghapus tubuh co-author dan konteks Proletkult.
Foucault sudah mengingatkan: semua ada bahaya.¹² Maka pilih bahaya yang kau kendalikan. Dubrovsky memilih bahaya bicara, meski ia dicap picik. Festival memilih bahaya diam, demi dana yang aman.
Penutup: Teks Tanpa Tubuh adalah Hiasan Dinding
Jika kuratorial hanya jadi dekorasi kata, maka ia tidak berbeda dengan logo sponsor. Keduanya sama: permukaan yang mengilap, kosong di dalam.
Nika Dubrovsky sudah menunjukkan bekas lukanya. Kita tinggal memilih: terus memajang teks yang berkhianat pada dirinya sendiri, atau merakit ulang festival yang tubuhnya sejalan dengan katanya.
Karena pada akhirnya, yang paling Graeberian bukanlah ironi. Yang paling Graeberian adalah keberanian menolak menjadi mata uang. {*}
Gresik, 3 Juli 2026
*) Arik S. Wartono, Pendiri Sanggar DAUN
CATATAN KAKI:
¹ Nika Dubrovsky, unggahan Instagram @mantapfunny, diakses 2 Juli 2026.
² Nika Dubrovsky, “A curious scandal is unfolding…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
³ Nika Dubrovsky, “Never mind that ‘Another Art World’ was co-written…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
⁴ Lihat Boris Groys, The Communist Postscript (London: Verso, 2009), 21–38, untuk konteks gagasan Proletkult sebagai seni proletar melawan elitisme borjuis.
⁵ Nika Dubrovsky, “Of course, had David’s name not been on the essay…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
⁶ Nika Dubrovsky, “The exhibition is about cultural reproduction…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
⁷ Nika Dubrovsky, “And now the whole thing has exploded…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
⁸ Nika Dubrovsky, “Here’s the truly uncomfortable thought…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
⁹ Nika Dubrovsky, “The funniest part? If the @Graeber_social had behaved…,” Instagram @mantapfunny, 2026.
¹⁰ Nika Dubrovsky, “That may be the most Graeberian irony of all,” Instagram @mantapfunny, 2026.
¹ David Graeber dan Nika Dubrovsky, “Another Art World, Part I: Art Communism and Artificial Scarcity,” e-flux Journal no. 102, September 2019, https://www.e-flux.com/journal/102/282991/another-art-world-part-i-art-communism-and-artificial-scarcity/
¹² Michel Foucault, “The Subject and Power,” Critical Inquiry 8, no. 4 (Summer 1982): 777–795.







