BOJONEGORO (RadarJatim.id) — Meski kemampuan fiskal daerah mengalami penurunan pada 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro tetap mempertahankan komitmennya terhadap sektor pendidikan melalui program beasiswa. Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan pembinaan penerima beasiswa Pemkab Bojonegoro yang digelar pada Kamis (9/7/2026).
Sebanyak 203 mahasiswa dari 31 perguruan tinggi dihadirkan sebagai perwakilan seluruh penerima beasiswa tahun 2026 untuk mengikuti pembekalan sekaligus evaluasi pelaksanaan program.
Kegiatan diawali dengan laporan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Drs Ec M. Anwar Mukhtadlo, MSi. Ia menegaskan, bahwa dana beasiswa disalurkan secara transparan.
”Dana beasiswa ditransfer utuh 100 persen langsung ke rekening masing-masing mahasiswa tanpa potongan, tanpa pungutan liar, dan tidak ada pengembalian dana kepada pihak mana pun,” tegasnya.
Anwar menjelaskan, pencairan beasiswa sempat terlambat. Hal itu dipengaruhi oleh perbedaan tahun ajaran pada perguruan tinggi dengan tahun anggaran pemerintah daerah. Karena itu, sebagian besar beasiswa menggunakan sistem penggantian UKT, yakni mahasiswa membayar biaya kuliah terlebih dahulu sebelum diganti oleh Pemkab pada semester berikutnya. Sementara bagi penerima Beasiswa Keluarga Miskin, bantuan dapat diberikan sejak awal perkuliahan sesuai Peraturan Bupati Nomor 42 Tahun 2025.
Ia menambahkan, proses verifikasi Tahap 1B membutuhkan waktu lebih lama, karena banyaknya proposal yang masuk dan harus diverifikasi sesuai regulasi. Selain itu, jadwal pencairan juga dipengaruhi penutupan APBD pada pertengahan Desember yang kerap berbenturan dengan jadwal pembayaran UKT di sejumlah perguruan tinggi. Meski demikian, Dinas Pendidikan tetap menerima kritik dan masukan mahasiswa sebagai bahan evaluasi pelayanan.
Sementara Wakil Bupati Bojonegoro, Dra Nurul Azizah, MM, pada kesempatan tersebut mengajak mahasiswa membangun budaya bersyukur dan tidak mudah menyebarkan narasi negatif ketika menghadapi kendala teknis.
”Jangan mudah mengeluh atau membangun narasi negatif ketika terjadi keterlambatan teknis. Mari biasakan bersyukur dan berterima kasih atas setiap bantuan yang diterima,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul Azizah juga memaparkan, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bojonegoro saat ini berada pada angka 73,74 dengan rata-rata lama sekolah 7,8 tahun. Karena itu, Pemkab menargetkan peningkatan pendidikan minimal masyarakat hingga Diploma 1 (D1), sehingga Harapan Lama Sekolah dapat meningkat menjadi 13 tahun. Program beasiswa sendiri dikelompokkan ke dalam Beasiswa Keluarga Miskin dan Beasiswa Prestasi.
Ia juga mengungkapkan, kemampuan fiskal daerah menurun dari sekitar Rp 8 triliun pada 2023–2024 menjadi Rp 6,4 triliun pada 2026. Meski demikian, Pemkab tetap mengalokasikan anggaran besar untuk program beasiswa, karena memandang mahasiswa sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan Bojonegoro.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Bojonegoro, Drs Kusnandaka Tjatur Prasetijo, MSi, mengajak mahasiswa memiliki tujuan yang jelas selama menempuh pendidikan.
”Sebagai mahasiswa, kalian memiliki nalar berpikir yang lebih tinggi. Karena itu, lihatlah setiap persoalan dari berbagai sisi, bukan langsung menghujat,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro, Arif Afandy, SKom, MS, membagikan kisah perjuangannya meraih beasiswa hingga berhasil menempuh studi di New York University melalui LPDP. Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan yang sama untuk terus mengembangkan kompetensi.
”Saya memulai dari titik yang sama dengan kalian, yaitu sama-sama dibantu melalui beasiswa. Karena itu, jangan hanya mengejar IPK minimum, tetapi teruslah mengembangkan potensi diri agar memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Salah satu penerima beasiswa, Miftakhul Khoirun Nisa’, mengaku bantuan yang diterimanya telah meringankan sekitar 85 persen kebutuhan biaya pendidikan.
”Alhamdulillah, beasiswa ini sudah membantu sekitar 85 persen kebutuhan pendidikan saya. Memang masih ada biaya lain seperti sewa kos, tetapi bantuan ini sangat meringankan beban ekonomi keluarga,” ujarnya.
Penerima beasiswa lainnya, Leon Da’i Faizul Haq, juga mengaku, bahwa program tersebut memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan studinya. Menurutnya, bantuan beasiswa tidak hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga membuatnya dapat lebih fokus mengembangkan potensi diri.
“Dana beasiswa ini sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Saya jadi bisa lebih fokus mengembangkan potensi yang saya miliki tanpa terlalu terbebani memikirkan biaya UKT,” ujarnya.
Ia berharap agar program beasiswa terus diperluas agar mampu menjangkau lebih banyak pelajar berprestasi di Bojonegoro yang memiliki keterbatasan ekonomi. Menurutnya, kesempatan memperoleh beasiswa sejak lulus sekolah akan mendorong lebih banyak generasi muda melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tanpa terkendala biaya. (Lisha)







