• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Jumat, 17 Juli 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Esai/Kolom

Nusantara Bukan Reruntuhan

by Radar Jatim
17 Juli 2026
in Esai/Kolom
0
Nusantara Bukan Reruntuhan

Arik S. Wartono

27
VIEWS

(Cara Membaca Diri Sendiri melalui Kajian Postkolonial)

Oleh Arik S. Wartono

Kita hidup di zaman yang rasanya akrab dengan zaman Ranggawarsita, kepercayaan publik terhadap para pengelola negara terasa kian terkikis. Kekuasaan diperjualbelikan. Kejujuran menjadi barang langka yang harus dicari dengan susah payah.

Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat, sepanjang tahun 2024 KPK menangani 154 perkara tindak pidana korupsi yang telah masuk tahap penyidikan.¹ Pengadaan barang dan jasa mendominasi dengan 68 kasus, disusul gratifikasi dan penyuapan dengan 63 kasus.²

Dari sisi aktor, pihak swasta menempati posisi tertinggi dengan 507 orang tersangkut perkara korupsi sepanjang periode 2021-2025.³ Data KPK juga mencatat 439 perkara pada tahun 2025. Sementara itu, pada semester I tahun 2026, KPK telah menangani 45 pelaku tindak pidana korupsi yang didominasi oleh pihak swasta serta kasus suap dan gratifikasi.

Saat ini, orang paling awam pun sudah bisa membaca bagaimana hukum tumpul ke atas tapi bisa sangat tajam ke bawah. Di sekolah anak-anak mulai bertanya, untuk apa jujur kalau yang curang yang menang?

Seratus enam puluh tahun lalu, Ranggawarsita juga melihat hal yang sama. Ia melihat raja yang menunduk pada Belanda. Ia melihat birokrasi yang menjual jabatan. Ia melihat rakyat yang lelah dan memilih diam.

Bedanya dengan kita, Ranggawarsita mencatat. Ia menuang seluruh kebusukan itu ke dalam bait-bait sastra yang merefleksikan zamannya. Dalam Serat Kalatidha ia memberi nama pada zamannya: ‘jaman édan’. Zaman edan, orang baik dianggap salah. Dalam Serat Wedhatama ia tidak berhenti mengeluh. Ia menawarkan jalan: ngèlmu iku kelakoné kanthi laku. Ilmu harus jadi tindakan.⁴

Catatan Ranggawarsita mungkin tidak menyembuhkan penyakit pada masanya. Raja tetap tunduk pada kuasa kolonial. Korupsi tetap jalan. Tapi catatannya lolos dari zaman. Ia menjadi cermin bagi kita yang hidup sekarang. Ia membuktikan satu hal: di tengah kerusakan, masih mungkin merumuskan cara hidup yang lebih baik.

Lalu di mana cermin kita hari ini? Siapa yang berani mencatat zaman ini dengan jujur, bukan untuk viral hari ini, tapi untuk anak cucu seratus tahun lagi?

Bayang-Bayang dari Luar: Walcott dan Junghuhn

Satu abad lalu datang seorang asing bernama Arthur Stuart Walcott. Tahun 1914 ia berjalan dari Jawa ke Sulawesi, Maluku, sampai Sumatra. Di depan Candi Borobudur ia terdiam lama. Ia menyebutnya “mahakarya sunyi”.⁵ Di lereng Bromo ia mengerti mengapa orang Tengger masih menjaga sesaji. Kekagumannya nampak tulus.

Tetapi, begitu ia menoleh ke manusia yang hidup di antara candi-candi itu, sorot matanya berubah. Ia menulis dengan datar: penduduk pribumi hidup dalam bayang-bayang kesuraman.⁶ Seolah keindahan batu tidak ada hubungannya dengan tangan yang membangunnya.

Dua puluh tahun lebih awal, pola yang mirip datang dari arah berbeda. Franz Junghuhn tiba di Batavia tanggal 13 Oktober 1835. Ia muda, dokter tentara, habis 103 hari di laut. Ia datang membawa bayangan tentang “mahkota imperium VOC”. Yang ia temukan justru kebalikannya.

“Bayangan atas segala kecantikan dan keindahan Batavia…. tidak bisa kutemukan. Hanya ada lumpur, penderitaan, dan reruntuhan. Kemiskinan menampakkan dirinya di mana-mana.”⁷ Benteng dibongkar untuk diambil batunya. Kanal mampet. Gerbang berdiri miring. Ia menulis dengan getir: kota ini bergerak cepat menuju kehancuran hingga akhirnya akan menjadi reruntuhan.⁸

Sambutan pertama di pelabuhan bahkan lebih telanjang. Bukan musik. Bukan tarian. Yang terdengar gemerincing rantai. “Orang pertama yang kami temui di Jawa adalah mereka yang disebut sebagai Orang Rante. Mereka duduk berjongkok di tanggul pelabuhan dengan kaki dibelenggu rantai.”⁹ Di barak Weltevreden ia tidur di kamar yang ia samakan dengan dunia ketika pertama kali dicipta. Pintu diikat tali. Jendela tertutup sarang laba-laba. Cicak dan kodok jadi penghuni tetap.¹⁰

Kalimat-kalimat itu tidak bisa kita baca sebagai laporan biasa. Ia adalah warisan cara pandang. Edward Said menyebutnya Orientalism.¹ Tradisi panjang yang memisahkan Timur sebagai tempat yang eksotis, statis, rusak, dan karena itu butuh diselamatkan oleh Barat. Baik Walcott maupun Junghuhn jatuh ke dalam perangkap itu. Mereka memuji batu karena batu tidak melawan. Mereka meragukan manusia karena manusia mengingatkan pada kegagalan proyek peradaban yang mereka bawa.

Frantz Fanon sudah membongkar ini sejak lama. Penjajah tidak hanya merampas tanah. Ia merampas cara kita melihat diri sendiri.¹² Ia menanamkan cerita, bahwa kejayaan kita ada di masa lalu, dan masa kini kita hanyalah sisa. Gayatri Spivak menyebutnya lebih keras: the subaltern cannot speak.¹³ Suara kita ditenggelamkan, lalu digantikan oleh tafsir orang luar.

Ironinya, bahkan ketika memuji pun mereka tetap menjauh. Walcott memuji Keraton sebagai simbol, lalu mencibir karena “kehilangan wibawa” dan “terkurung tempurung kolonial”. Junghuhn menyebut Batavia kota mati, tapi lupa bertanya siapa yang mematikannya. Jawabannya ada di sistem yang juga menggaji dirinya sebagai tentara. Inilah yang Homi Bhabha sebut ambivalence.¹⁴ Koloni dipaksa meniru, lalu dihina karena tidak pernah bisa menjadi aslinya.

Kesalahan Membaca

Kesalahan Junghuhn dan Walcott bukan pada kejujuran mereka melihat kerusakan. Kerusakan memang ada. Kesalahannya adalah pada cara mereka memisahkan. Mereka memisahkan candi dari peradaban yang menciptakannya. Memisahkan manusia dari alam yang menghidupinya. Mereka membaca dengan penggaris kemajuan ala Eropa. Kalau tidak seperti Amsterdam, berarti mundur. Padahal di titik yang sama, Junghuhn sendiri tanpa sadar membantah vonisnya.

Sebagai naturalis, ia melihat hal yang tidak dilihat Walcott. “Di antara reruntuhan itu, alam sedang merebut kembali tanahnya. Tanaman memanjat dinding benteng. Semak menutupi bekas taman. Kolam-kolam kering menjadi sarang buaya.”¹⁵ Ia menulis, seolah-olah alam semakin dekat untuk menguasai kembali apa yang pernah dikuasai manusia. Vegetasi secara persisten mendorong kehidupan baru lewat setiap celah yang terus melebar.¹⁶

Lebih jauh lagi, ia menemukan denyut di tempat yang ia sebut mati. Di tengah Batavia yang lumpuh ada satu kawasan yang berdenyut: Kampung Cina.¹⁷ Jalan ramai. Toko terbuka. Restoran penuh orang Eropa yang datang makan kimlo.

Dan, di luar tembok kota ia menemukan hal yang paling ia cintai. Ia menyebutnya dengan cara yang sederhana: surga tanaman. Tugasnya sebagai dokter tentara ia akui tidak menarik.¹⁸ Tapi setiap waktu luang ia habiskan untuk mengumpulkan tumbuhan. Dalam lima setengah bulan pertama ia sudah mengoleksi 300 sampel.¹⁹ Kuburan Cina menjadi tempat favoritnya, bukan karena mistik, tapi karena vegetasinya luar biasa kaya.²⁰ Hutan mangrove Ancol ia tulis sebagai tempat yang menyegarkan jiwa.²¹

Di sinilah saya melihat benang yang menghubungkan Junghuhn dengan kita. Ia melihat proses yang orang lain tidak lihat. Bahwa kota bisa mati, tapi tanah tidak. Bahwa bangunan bisa runtuh, tapi hutan akan tumbuh lagi.

Ini inti dari cara pandang Nusantara, bukan romantisme. Ini cara kerja. Pertama, hidup itu siklus. Tidak ada yang final. Runtuh lalu tumbuh. Kedua, hidup itu relasi. Manusia, alam, leluhur tidak bisa dipisahkan. Bagi orang Tengger Bromo bukan kawah. Ia penjaga.² Bagi kita Borobudur bukan museum. Ia sistem makna. Ketiga, hidup itu laku. Ilmu tanpa tindakan adalah kosong.

Ketika Walcott hanya melihat bayang-bayang kesuraman, dan Junghuhn hanya melihat lumpur dan reruntuhan, keduanya gagal membaca ini. Mereka tidak melihat bahwa Nusantara punya logika yang berbeda. Alam di sini tidak pernah benar-benar bisa dijajah. Ia selalu merebut kembali.

Seratus tahun kemudian buktinya datang. Keraton yang mereka vonis mati kini menjadi penjaga identitas. Rakyat yang mereka sebut suram kini membangun republik. Catatan Walcott dan Junghuhn berubah fungsi. Dari vonis menjadi dokumen. Dokumen tentang keterbatasan mata asing dalam membaca Nusantara.

Ranggawarsita Menjawab

Andai Ranggawarsita sempat membaca catatan Junghuhn tahun 1835, saya bayangkan ia akan mengangguk pelan. Lalu ia akan menambahkan satu bait.

Junghuhn menulis: kota ini bergerak menuju kehancuran. Ranggawarsita akan menjawab: Ngelmu palastra, wong becik katindhes. Ilmu palsu, orang baik tertindas.²³

Junghuhn berhenti pada gejala. Ranggawarsita masuk ke penyakitnya. Junghuhn melihat lumpur. Ranggawarsita melihat mengapa lumpur itu ada: karena kekuasaan kehilangan etika.

Ini metode perlawanan yang sesungguhnya. Bukan menolak Barat mentah-mentah. Bukan juga menerima Barat bulat-bulat. Walter Mignolo menyebutnya epistemic delinking.²⁴ Melepaskan diri dari satu-satunya cara berpikir yang dipaksakan, lalu menghidupkan cara berpikir kita sendiri.

Ranggawarsita tidak menunggu pengakuan dari Belanda. Ia menulis untuk anak cucu. Ia percaya sastra bisa menjadi alat perbaikan moral jangka panjang, meski gagal dalam jangka pendek. Sama seperti Junghuhn yang kini tidak dikenang karena laporannya tentang kota mati, tapi karena catatannya tentang gunung, hutan, dan tumbuhan Jawa.

Berhenti Menjadi Objek

Lalu apa yang bisa kita lakukan hari ini di antara tiga warisan ini: bayang-bayang Walcott, kota mati Junghuhn, dan cahaya Ranggawarsita?

Pertama, kita harus belajar membaca ulang dengan curiga yang sehat. Setiap kali ada narasi dari luar tentang kita, tanyakan siapa yang bicara, dari posisi kuasa mana, dan untuk kepentingan apa. Ambil data alamnya Junghuhn. Buang vonis moralnya tentang kesuraman.

Kedua, kita harus menghidupkan kembali tradisi mencatat. Kita butuh Ranggawarsita-Ranggawarsita baru. Bukan penyair keraton. Tapi guru yang menulis bagaimana gotong royong masih menyelamatkan desa saat banjir. Jurnalis yang mencatat bukan hanya korupsi, tapi juga kepala dusun yang menolak suap. Anak muda yang mendokumentasikan komunitas yang menjaga hutan adat di Kalimantan dan Papua, juga sasi laut di Maluku. Tujuannya bukan untuk trending. Tujuannya adalah arsip moral untuk generasi dua puluh atau seratus tahun mendatang.

Ketiga, kita harus menerjemahkan cara pandang Nusantara ke dalam hidup bersama. Ajari anak, bahwa Borobudur bukan hanya destinasi wisata. Ia bukti, bahwa leluhur kita mampu berpikir kosmologi, teknik, dan spiritual sekaligus. Ajarkan, bahwa Sumatra, Kalimantan, dan Papua bukan hanya pulau dan hutan yang pantas dieksploitasi habis-habisan. Ia adalah pengingat, bahwa alam akan selalu merebut kembali apa yang kita rusak jika kita serakah.

Walcott sudah pulang ke Inggris dan wafat di Buck Hill Falls, Amerika Serikat. Junghuhn sudah dimakamkan di Lembang. Catatan mereka tertinggal. Ada racunnya, ada obatnya.

Ranggawarsita juga sudah pergi. Tapi Serat Wedhatama-nya masih bisa kita kaji dan pelajari.

Kita hidup di antara ketiganya. Godaannya ada dua. Marah pada semua pandangan luar. Atau menutup mata pada kerusakan di dalam.

Ada jalan ketiga. Jadilah pencatat yang reflektif dan solutif. Jangan hanya menjadi objek dalam catatan Walcott. Jangan hanya menjadi pasien dalam diagnosis Junghuhn. Jadilah seperti Ranggawarsita: jujur melihat luka, lalu berani menuliskan obatnya.

Karena Nusantara tidak akan pernah selesai dipahami dari luar. Ia hanya bisa dipahami dari dalam, oleh orang yang tinggal di dalamnya, dan berani mencatatnya dengan jujur. {*}

Gresik, 17 Juli 2026

*) Arik S. Wartono, Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik, Jawa Timur.

CATATAN KAKI:

  1. Komisi Pemberantasan Korupsi, Laporan Tahunan KPK 2024 (Jakarta: KPK, 2025).
  2. GoodStats, “Kasus Korupsi di Indonesia 2024 Berdasarkan Jenis Perkara,” diakses 17 Juli 2026, https://goodstats.id.
  3. http://jatimupdate.id, “22 Tahun KPK: Pemkab dan Pemkot Jadi Sarang Kasus Korupsi, Suap Mendominasi Penindakan,” 2025, https://jatimupdate.id.
  4. Ranggawarsita, Serat Wedhatama, ca. 1860, Naskah, Koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.
  5. Arthur Stuart Walcott, Jawa dan Pulau-Pulau Lain di Nusantara: Catatan Sang Petualang di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Sumatra (Yogyakarta: IRCiSoD, 2025), 78.
  6. Walcott, Jawa dan Pulau-Pulau Lain, 92.
  7. Franz Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa (1835-1839), trans. Malik Ar Rahiem (Jakarta: Project Junghuhn, 2025), 45.
  8. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 47.
  9. Malik Ar Rahiem, “Bagaimana sih keadaan Jakarta ketika Franz Junghuhn pertama tiba di sana pada 1835?” Instagram, 15 Januari 2025, https://www.instagram.com/malikarrahiem/.
  10. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 52.
  11. Edward Said, Orientalism (New York: Pantheon Books, 1978), 3.
  12. Frantz Fanon, Black Skin, White Masks, trans. Richard Philcox (New York: Grove Press, 2008), 17.
  13. Gayatri Chakravorty Spivak, “Can the Subaltern Speak?” dalam Marxism and the Interpretation of Culture, ed. Cary Nelson dan Lawrence Grossberg (Urbana: University of Illinois Press, 1988), 271.
  14. Homi K. Bhabha, The Location of Culture (London: Routledge, 1994), 85.
  15. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 48.
  16. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 49.
  17. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 55.
  18. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 58.
  19. Ar Rahiem, “Bagaimana sih keadaan Jakarta.”
  20. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 61.
  21. Junghuhn, Berkelana di Pulau Jawa, 59.
  22. Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 5.
  23. Ranggawarsita, Serat Kalatidha, n.d., Naskah, Koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.
  24. Walter D. Mignolo, The Darker Side of Western Modernity: Global Futures, Decolonial Options (Durham: Duke University Press, 2011), 45.
Tags: Arik S. WartonoBukan ReruntuhanNusantara

Related Posts

Ironi Paling Graeberian ARTJOG 2026

Ironi Paling Graeberian ARTJOG 2026

by Radar Jatim
3 Juli 2026
0

Oleh Arik S. Wartono Nika...

ARTJOG 2026: Ketika Narasi ‘Graeber’ Bertabrakan dengan Realitas Sponsor

ARTJOG 2026: Ketika Narasi ‘Graeber’ Bertabrakan dengan Realitas Sponsor

by Radar Jatim
19 Juni 2026
0

Oleh Arik S. Wartono ARTJOG...

Membaca Kritis ‘Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang’

Membaca Kritis ‘Seni Rupa Indonesia dalam Titik Simpang’

by Radar Jatim
6 April 2026
0

Oleh Arik S. Wartono Buku...

Load More
Next Post
Arumi Bachsin dan Mimik Idayana Ikuti ‘Gerakan Langit Biru-Indonesia Asri’

Arumi Bachsin dan Mimik Idayana Ikuti ‘Gerakan Langit Biru-Indonesia Asri’

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In