Oleh: Ida Budi Handayani, S.Pd.
Hari Belajar Guru mewajibkan guru dalam sepekan untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan. Merupakan kebijakan yang sangat baik sesuai dengan konsep guru adalah pembelajar seumur hidup.
Di SD Negeri Sidokare 3 Sidoarjo sudah berlangsung rutin setiap Hari Sabtu. Pilihan jatuh pada akhir pekan, karena dapat merefleksi lima hari terakhir pelajaran di kelas. Sehiingga bisa melakukan proses perenungan, peninjauan ulang, dan evaluasi pengalaman belajar-mengajar.
Dari refleksi itulah, guru dapat menilai efektivitas metode mengajarnya, dapat mengetahui sejauh mana pemahaman, wawasan, atau keterampilan yang bisa diserap oleh para murid.
Pada prosesnya, guru dapat saling berbagi mencari solusi masalah pembelajaran di kelas dari hasil refleksi itu. Apabila cari sendiri mungkin sulit. Mungkin ada solusi dari guru lain yang lebih baik. Atau mendengar saran dari guru lain yang berhasil mengatasi permasalahan yang sama. Atau justru mendapat masukan dari guru lain yang tidak mengalami kendala dalam proses belajar mengajar.
Guru-guru juga dapat berdiskusi mengenai berbagai metode pembelajaran dalam menghadapi kesulitan belajar murid. Apa saja strategi yang digunakan guru untuk menyampaikan materi agar murid dapat mencapai tujuan belajar secara efektif. Biasanya guru-guru yunior meminta saran kepada guru-guru senior yang memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai masalah murid belajar di kelas.
Selain itu, guru bisa saling belajar mengenai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung proses belajar mengajar. Guru yang melek teknologi komunikasi dan informasi mengajar guru yang masih gagap teknologi. Misalnya mencari sumber belajar elektronik, penggunaan AI (Artificial Intelligence) untuk mencari pengetahuan yang bermanfaat dalam pembelajaran.
Hari Belajar Guru pun menjadi waktu terbaik bagi guru untuk melakukan diseminasi. Guru melakukan penyebarluasan informasi, ide, dan gagasan dari hasil pelatihan terkait metode dan materi pembelajaran kepada rekan sejawat.
Misalnya baru-baru ini saya mengikuti bimbingan dan pelatihan teknis (Bimtek) guru utama tentang Revitalisasi Bahasa Jawa Angkatan II oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur selama 3 hari. Informasi yang saya dapat secara personal, saya sebarluaskan. Tujuannya, ilmu yang saya peroleh dapat dipahami, diterima, dan dapat diimplementasikan di kelas masing-masing.
Adapula diseminasi tentang Guru Pendamping Khusus (GBK) pada sekolah inklusi. Diseminasi itu dilakukan oleh rekan guru kelas dan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang mengikuti Bimtek tentang Sekolah Inklusi Tingkat Dasar oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Hari Belajar Guru menjadi tempat kolaborasi guru dengan berdiskusi dan berbagi praktik baik secara terjadwal untuk pengembangan diri. Bisa dikatakan, Hari Guru Belajar merupakan bagian dari Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan (PKB).
Pada akhirnya guru bisa menghidupkan kelas. Terkadang rekan guru lain membantu hadir di kelas untuk melihat apakah solusi dari Hari Belajar Guru benar-benar dipraktikkan di kelas. Meskipun kehadiran tidak secara formal. Mereka ‘mengintip’ rekannya mengajar berdasarkan masukan itu. Selanjutnya bersama-sama menarik kesimpulan.*
*) Guru SD Negeri Sidokare 3 Sidoarjo






