SIDOARJO (RadarJatim.id) — Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya berbagai penyakit sosial yang mengintai kalangan remaja, dan generasi muda, seperti maraknya peredaran minuman keras (miras) hingga lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo.
Perhatian tersebut ditegaskan Ketua PC NU Kabupaten Sidoarjo HM. Zainal Abidin, M.Pd.I usai acara Silaturahmi Bupati Sidoarjo dan Jajaran dengan PCNU Sidoarjo, pada (29/7/2026) siang, di Kantor PCNU Sidoarjo.
Zainal Abidin mengungkapkan kekhawatirannya yang mendalam, atas kondisi pergaulan remaja saat ini yang makin sulit terkendali. Pengaruh pesatnya teknologi, media sosial, hingga pergeseran gaya hidup generasi muda yang kini lebih sering berkumpul di warung kopi dibanding tempat ibadah, menjadi pemicu kerentanan ini.
“Jumlah pengidap HIV sudah mencapai ribuan. Peredaran minuman keras pun hampir tidak terkendali. Kalau yang premium mungkin di hotel-hotel, tapi miras oplosan atau cukrik di warung-warung ini sulit dipantau,” tegasnya.
Ia menilai maraknya kasus penyakit sosial ini sebagai ancaman laten yang terus menggerogoti moral, dan kesehatan generasi muda jika tidak segera ditangani secara serius.
Oleh karena itu, kami mendorong Pemkab Sidoarjo agar lebih proaktif dan tidak sekadar menggelar rapat evaluasi berulang, tanpa ada tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Zainal Abidin juga secara khusus menyoroti keberadaan warung kopi maupun kafe yang diduga menjual miras tanpa izin. Pemerintah daerah diminta menggunakan kewenangannya untuk melakukan penertiban secara regulatif.
Pemerintah diharapkan rutin melakukan sweeping atau razia ke lokasi-lokasi liar yang terindikasi menjual miras. “Penertiban oleh aparat sangat penting, agar jangan sampai organisasi atau badan otonom seperti Banser sampai turun tangan sendiri melampaui kewenangan, yang berpotensi memicu situasi tidak kondusif,” pungkas.
Sebelumnya Bupati Sidoarjo Subandi juga menyoroti penertiban tempat usaha miras berskala besar, Pemkab Sidoarjo menegaskan tindakan tegas berupa penutupan operasional. Pasalnya, hingga saat ini Bupati Sidoarjo tidak pernah mengeluarkan izin untuk penjualan miras.
Selain masalah miras, Pemkab Sidoarjo juga menaruh perhatian serius pada penanganan HIV/AIDS. Menanggapi tingginya angka temuan kasus HIV di Sidoarjo, dijelaskan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari langkah proaktif pemerintah daerah dalam melakukan pemeriksaan secara masif di seluruh Puskesmas.
“Kenapa angka HIV di Sidoarjo terlihat tinggi? Karena kita perintahkan Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk aktif melakukan pemeriksaan mendeteksi kasus dari usia muda hingga lanjut usia. HIV ini seperti gunung eskalau daerah tidak aktif memeriksa, angkanya tidak akan muncul,” jelas Bupati Subandi. (mad)







