GRESIK (RadarJatim.id) — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menghadirkan cara unik dalam menumbuhkan budaya literasi di Desa Banjaran, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Alih-alih hanya mengelola perpustakaan desa, mahasiswa KKN ini turut mendokumentasikan potensi lokal desa ke dalam sebuah buku bertajuk Jejak Kikil Banjaran: Merawat Warisan Rasa, Menjaga Identitas Desa.
Buku ini mengangkat kisah kikil sapi, kuliner khas yang telah menjadi identitas Desa Banjaran selama lebih dari 50 tahun. Julukan Desa Kikil yang melekat pada Banjaran bukan sekadar sebutan semata. Sebab, hampir setiap keluarga di desa ini memiliki keterkaitan dengan usaha kikil, baik sebagai produsen, pedagang, maupun distributor.
Penyusunan buku ini dilakukan melalui riset lapangan, dokumentasi, serta wawancara langsung bersama pelaku usaha kikil di Banjaran. Salah satunya, Samsul Arifin, generasi ketiga penerus usaha kikil keluarga yang dirintis sejak masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI oleh sang kakek, Ngatiman, dan diteruskan oleh Warsani.
“Resepnya tetap sama. Yang kami jaga bukan hanya rasanya, tetapi juga kepercayaan orang-orang yang sudah menjadi pelanggan sejak dulu,” ujar Samsul Arifin, Selasa 94/8/2026).

Mahasiswa KKN Tematik Literasi ITS – Perpusnas RI bersama Samsul Arifin dan Suwono, pelaku usaha kikil di Desa Banjaran yang telah turun-temurun. (Dok)
Selain menelusuri sejarah, buku ini juga mendokumentasikan proses pembuatan kikil secara mendetail, mulai dari kedatangan bahan baku kaki sapi dari berbagai rumah potong hewan (RPH) di Jawa Timur, proses perebusan dan pengulitan, hingga tahap memisahkan daging dari tulang yang disebut sebagai tahap paling menentukan tekstur kikil agar tetap empuk saat disajikan.
Tak hanya bercerita soal proses produksi, buku ini turut mengangkat sisi sosial kikil bagi warga Banjaran, yakni sebagai hidangan yang kerap hadir dalam hajatan dan syukuran, sekaligus simbol kebersamaan masyarakat desa. Di balik cita rasa yang konsisten selama puluhan tahun, para pelaku usaha kikil di Banjaran juga menghadapi tantangan, terutama soal ketersediaan bahan baku kaki sapi yang fluktuatif serta keterlambatan pasokan dari rumah potong hewan.
Melalui buku ini, mahasiswa KKN Tematik Literasi ITS berharap dapat mendorong pelestarian warisan kuliner sekaligus mengenalkan potensi lokal Desa Banjaran kepada masyarakat yang lebih luas.
“Program KKN mungkin berakhir, tetapi cerita yang kami temukan di Desa Banjaran akan terus hidup melalui setiap halaman buku ini. Sebab, warisan tidak hanya dijaga dengan tangan, tetapi juga dengan tulisan,” tulis tim penyusun dalam penutup buku.

Buku Jejak Kikil Banjaran disusun oleh Kelompok KKN Tematik Literasi ITS 2026 di bawah bimbingan Daril Ridho Zuchrillah, ST, MT dan Badril Azhar, ST, MSc, PhD, dengan dukungan Pemerintah Desa Banjaran dan Perpustakaan Lentera Pustaka.
Penyusunan buku ini menjadi salah satu rangkaian program KKN Tematik Literasi ITS – Perpusnas RI 2026 di Desa Banjaran, yang secara keseluruhan bertujuan menanamkan budaya literasi sejak dini kepada masyarakat desa setempat, baik melalui pengelolaan perpustakaan, permainan literasi anak, maupun dokumentasi potensi lokal seperti buku ini. (rj2)







