GRESIK (RadarJatim.id) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Festival Literasi di Balai Desa Watestanjung, Kecamatan Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Jumat-Minggu (24–26/7/2026). Melalui rangkaian lomba, pentas seni, hingga pemberian penghargaan, festival ini menjadi ruang kolaborasi masyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi sekaligus melestarikan kearifan lokal.
Festival Literasi menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari lomba menganyam, pidato, baca puisi, dan cerdas cermat, hingga pentas seni. Lomba menganyam diikuti ibu-ibu kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan sejumlah warga. Sementara lomba pidato, puisi, dan cerdas cermat, diikuti pelajar dari berbagai sekolah di Desa Watestanjung. Hari terakhir menjadi puncak acara dengan penampilan para juara lomba, pentas seni, dan prosesi penghargaan bagi para pemenang.
Ketua Pelaksana Festival Literasi, Wisnu, salah satu mahasiswa KKN, mengatakan, antusiasme masyarakat menjadi modal utama keberhasilan kegiatan tersebut. Menurutnya, festival tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah belajar dan berekspresi bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Alhamdulillah, rangkaian Festival Literasi selama tiga hari telah berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Sejak hari pertama hingga hari terakhir, kami melihat semangat masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan,” ujar Wisnu, Minggu (26/7/2026).
Jujur, lanjut Wisnu. pihaknya merasa bangga melihat begitu kuatnya keterlibatan masyakat. Pasalnya, Festival Literasi tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang belajar, berekspresi, dan membangun rasa percaya diri bagi seluruh peserta.
Ia menambahkan, festival ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat, mengembangkan kemampuan komunikasi dan kreativitas pelajar, serta menjaga keterampilan menganyam sebagai bagian dari warisan budaya lokal. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat kebersamaan masyarakat Desa Watestanjung melalui aktivitas yang edukatif dan apresiatif.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik Literasi ITS, Alfi Rohmatul Hidayah, menilai kegiatan semacam ini menunjukkan, bahwa penguatan literasi dapat dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Festival Literasi menjadi media pembelajaran yang menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga menghadirkan ruang kolaborasi yang mampu mendorong budaya membaca, berpikir kritis, sekaligus mengangkat potensi lokal yang dimiliki desa,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Menurut Alfi, keberhasilan program literasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari keberlanjutan dampaknya setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian. Karena itu, ia berharap berbagai aktivitas yang telah dimulai dapat diteruskan oleh pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat sebagai bagian dari gerakan literasi yang berkesinambungan.
Di sisi lain Wisnu berharap, Festival Literasi tidak berhenti sebagai kegiatan yang bersifat seremonial. Ia menginginkan program tersebut berkembang menjadi agenda rutin yang mampu memperkuat budaya literasi di Desa Watestanjung.
“Saya berharap Festival Literasi ini tidak berhenti sebagai kegiatan yang bersifat sekali ada, tetapi mampu menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan di Desa Watestanjung. Semoga semangat membaca, berpikir kritis, berkomunikasi, serta melestarikan budaya lokal terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Wisnu.
Ia juga berharap, kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin yang melibatkan lebih banyak pihak. Dengan demikian, perpustakaan desa dapat terus menjadi pusat pembelajaran, kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui Festival Literasi, mahasiswa KKN Tematik Literasi ITS berharap budaya membaca, berdiskusi, dan berkarya dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan warga diharapkan menjadi fondasi untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di Desa Watestanjung. (sha)







