SIDOARJO (RadarJatim.id) – Para ibu yang bekerja biasanya menghadapi kendala dalam mempertahankan pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayinya, untuk kurun waktu dua tahun penuh. Kendala itu berupa keterbatasan waktu, tuntutan pekerjaan, kelelahan, hingga kesulitan dalam menjaga keberlangsungan proses menyusui selama menjalankan aktivitas pekerjaan.
“Untuk mengatasi kendala itu, kiranya perlu ada dukungan kuat dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga, tenaga kesehatan, dan kader kesehatan sebagai ujung tombak yang berada dekat dengan masyarakat. Karena sangat urgent, pemberian ASI bagi ibu bekerja harus didukung keberlanjutannya,” kata Domas Nurchandra Pramudianti, SST., M.Keb, Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya saat ditanya soal pentingnya pemberian ASI, pada Kamis (20/8) siang.
Menurutnya, salah satu upaya strategis yang dapat dilakukan adalah memberi penguatan terhadap peran kader kesehatan di masyarakat. Bentuknya bisa berupa retraining dan pendampingan kader.
Dengan melalui kegiatan retraining, diharapkan para kader kesehatan mendapatkan pembekalan mengenai manajemen laktasi dan cara memberikan konseling menyusui kepada ibu bekerja. Kegiatan dapat dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, role play, simulasi, dan demonstrasi. Semua pendekatan tersebut diterapkan agar kader kesehatan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.
Tidak hanya berwacana, Domas Nurchandra beserta tim dosen dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya aktif turun ke lapangan guna melakukan pendampingan. Sebagai contoh terbaru, mereka melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Retraining dan Pendampingan Kader Kesehatan dalam Fasilitasi Pemberian ASI Eksklusif dan ASI hingga 2 Tahun pada Ibu Bekerja, di Desa Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, pada 19-20 Mei lalu.
“Program itu merupakan upaya meningkatkan kapasitas kader kesehatan agar mampu memberikan edukasi, konseling, serta pendampingan kepada ibu bekerja dalam mempertahankan pemberian ASI,” kata Domas yang menjadi ketua pelaksanaan pengabdian masyarakat tersebut.
Waktu itu tim pengabdi sempat memperkenalkan E-module Manajemen Laktasi. Ini merupakan sebagai salah satu media edukasi yang dapat digunakan kader dalam mendampingi ibu hamil dan ibu menyusui. Melalui media digital ini diharapkan dapat membantu kader menyampaikan informasi mengenai manajemen laktasi secara lebih praktis dan mudah dipahami.
Kegiatan selama dua hari itu mendapa respons positif dari kader kesehatan setempat. Mereka antusias berdiskusi mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi ibu dalam proses menyusui, khususnya berkaitan dengan upaya mempertahankan pemberian ASI ketika ibu harus kembali bekerja. Kader juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan penggunaan e-module melalui kegiatan simulasi dan role play.

Para kader kesehatan Desa Wonoayu Sidoarjo antusias mengikuti retraining dan pendampingan kesehatan dari tim Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Surabaya.
Menurut tim pengabdi, penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem dukungan menyusui berbasis masyarakat. Karena kader memiliki kedekatan dengan ibu dan keluarga sehingga dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai, kader diharapkan mampu memberikan informasi yang tepat sekaligus memberikan motivasi kepada ibu agar tetap percaya diri dalam menjalankan proses menyusui.
“Program pengabdian masyarakat ini tidak sebatas pada pelatihan. Tetapi juga melakukan pendampingan dan monitoring secara berkelanjutan melalui kegiatan posyandu di Desa Wonoayu. Dalam kegiatan tersebut, tim mendampingi kader ketika memberikan edukasi manajemen laktasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui,” katanya.
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Wonoayu, Puskesmas Wonoayu, bidan desa, serta berbagai pihak terkait. Bidan desa berperan dalam membantu koordinasi dengan pemerintah desa dan mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan. Kerja sama yang baik antara tim pengabdi dan mitra menjadi bagian penting dalam keberhasilan pelaksanaan program.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran kader sebagai agen perubahan di masyarakat, khususnya dalam mendukung ibu bekerja agar mampu memberikan ASI secara optimal. Pemberian ASI tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan dukungan bersama dari keluarga, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan lingkungan sekitar.
Melalui program pengabdian masyarakat, dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu juga untuk mendukung terwujudnya generasi “Bayi, M.ASI.Eks”, yaitu generasi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga usia enam bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ASI hingga usia dua tahun. (rio)






