Oleh Abdullah Sidiq Notonegoro
Orang yang hidup di pulau belajar dari laut, bahwa keadaan tidak selalu dapat dipastikan. Ketika laut tenang, kapal mudah datang dan kebutuhan dari luar pulau dapat dipenuhi. Namun, ketika angin berubah, gelombang meninggi dan pelayaran dihentikan, kehidupan harus berjalan dengan apa yang tersedia di dalam pulau.
Karena itu, masyarakat kepulauan sejak lama mengenal kebiasaan menyimpan ketika memiliki, berhemat ketika cukup dan tidak menghabiskan seluruh persediaan hanya karena keadaan hari ini terlihat baik. Kebiasaan tersebut bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam yang mengajarkan bahwa keadaan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kearifan tersebut terasa penting untuk dibicarakan kembali di Bawean. Secara administratif, Bawean merupakan bagian dari Kabupaten Gresik, tetapi secara geografis memiliki tantangan yang berbeda dengan wilayah daratan. Laut menjadi jalur utama mobilitas manusia dan distribusi kebutuhan, tetapi laut pula yang dapat membuat hubungan itu terputus.
Ketika cuaca buruk datang, kapal tidak berlayar dan gangguan tersebut bukan hanya menahan penumpang, tetapi juga dapat memengaruhi distribusi pangan, obat-obatan, oksigen, bahan bakar dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya. Dalam keadaan seperti itu, jarak geografis tidak lagi sekadar persoalan perjalanan, melainkan menjadi bagian penting dari cara pelayanan publik dirancang.
Karena itu, perhatian Pemerintah Kabupaten Gresik terhadap Bawean patut diapresiasi. Pemerintah telah berupaya memperkuat pelayanan kesehatan di pulau tersebut, termasuk melalui kebijakan pemenuhan tenaga medis. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menunjukkan perhatian terhadap persoalan dokter spesialis dengan mendorong pembiayaan pendidikan bagi dokter yang bersedia kembali mengabdi di daerah yang membutuhkan, termasuk Bawean.
Kebijakan tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa karakter pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan membutuhkan perhatian dan pendekatan yang tidak selalu sama dengan wilayah daratan.
Namun, pengalaman terakhir memberikan ruang untuk melihat persoalan Bawean secara lebih luas. Ketersediaan dokter, rumah sakit dan fasilitas pelayanan tetap menjadi fondasi penting, tetapi keberlangsungan pelayanan juga sangat ditentukan oleh kemampuan sistem menghadapi gangguan konektivitas. Sebuah rumah sakit dapat memiliki tenaga medis dan peralatan yang memadai, tetapi tetap membutuhkan persediaan yang cukup ketika obat, oksigen, bahan bakar atau kebutuhan lainnya tidak dapat segera didatangkan dari daratan.
Ketika Laut Menguji Kesiapan
Persoalan tersebut terlihat pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026 ketika cuaca buruk menyebabkan kapal menuju Bawean tidak beroperasi pada 28 Juli–4 Agustus. Gangguan pelayaran kemudian berdampak pada distribusi logistik kesehatan, sementara stok oksigen di RSUD Umar Mas’ud mulai menipis pada 1–3 Agustus.
Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik merespons kondisi tersebut dengan menyiapkan pengiriman darurat 40 tabung oksigen dan pasokan lanjutan untuk menjaga pelayanan rumah sakit tetap berjalan. Pada waktu yang sama, ketika seorang pasien membutuhkan rujukan ke Gresik dan transportasi reguler mengalami kendala, pemerintah mengupayakan alternatif agar pasien tetap memperoleh pelayanan medis.
Respons tersebut patut dihargai karena menunjukkan bahwa pemerintah memiliki perhatian terhadap kondisi khusus Bawean dan berupaya mencari jalan keluar ketika jalur distribusi menghadapi hambatan. Dalam situasi cuaca yang tidak mudah dipastikan, kemampuan pemerintah menjaga pelayanan tetap berjalan merupakan bagian penting dari kehadiran negara di wilayah kepulauan.
Pada saat yang sama, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk terus menyempurnakan kesiapsiagaan. Bukan karena pemerintah tidak bekerja, melainkan karena karakter Bawean memang membutuhkan tingkat antisipasi yang lebih kuat. Setiap gangguan pelayaran memberikan pengalaman baru mengenai apa yang dibutuhkan masyarakat dan fasilitas kesehatan ketika hubungan dengan daratan tidak berjalan seperti biasa.
Hal itu semakin relevan karena pada 12 Januari 2026 Bupati Gresik telah menetapkan Keputusan Bupati Nomor 360/80/HK/437.12/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi di Pulau Bawean. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah mengenali cuaca ekstrem dan gelombang tinggi sebagai risiko yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pengalaman berikutnya dapat digunakan untuk semakin memperkaya perencanaan, terutama dalam menghitung kebutuhan ketika gangguan konektivitas berlangsung lebih lama.
Misalnya, jika kapal tidak dapat beroperasi selama tiga hari, berapa kebutuhan oksigen RSUD Umar Mas’ud dan fasilitas kesehatan lainnya? Jika gangguan berlangsung tujuh hari, bagaimana kebutuhan obat, alat kesehatan, bahan bakar dan kebutuhan operasional dipenuhi? Bagaimana pula kebutuhan pangan masyarakat dihitung apabila distribusi dari luar pulau belum dapat berjalan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan semata-mata kritik, melainkan bagian dari ikhtiar membangun perencanaan yang semakin matang berdasarkan pengalaman lapangan.
Dengan cara berpikir seperti itu, setiap kejadian tidak berhenti sebagai persoalan yang harus diselesaikan pada saat itu juga, tetapi menjadi bahan untuk memperbaiki persiapan menghadapi kejadian berikutnya. Pemerintah dapat semakin memperkuat perhitungan kebutuhan berdasarkan berbagai kemungkinan lama gangguan, sehingga keputusan pada saat keadaan darurat dapat dilakukan dengan lebih cepat karena sebagian besar kebutuhan dan pilihan alternatif telah dipersiapkan sebelumnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik sebenarnya telah memiliki arah yang baik melalui penguatan buffer stock atau stok penyangga logistik medis di Bawean. Pemerintah memahami bahwa cuaca dan gelombang tinggi merupakan tantangan bagi konektivitas logistik pulau tersebut, sehingga persediaan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada kelancaran kapal. Ke depan, pengalaman yang ada dapat menjadi dasar untuk terus menyempurnakan jumlah dan jenis persediaan berdasarkan kemungkinan lamanya gangguan.
RSUD Umar Mas’ud karena itu perlu terus diperkuat sebagai bagian dari sistem ketahanan Bawean. Rumah sakit di pulau memiliki kebutuhan yang khas karena harus tetap memberikan pelayanan meskipun pasokan dari daratan sewaktu-waktu menghadapi hambatan. Ketersediaan oksigen, obat-obatan, alat kesehatan, bahan bakar dan kebutuhan operasional lainnya perlu terus disesuaikan dengan pengalaman serta perhitungan risiko, sehingga rumah sakit memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan pelayanan dalam kondisi yang tidak normal.
Kearifan Lokal yang Jangan Hilang
Namun, ketahanan Bawean tidak mungkin seluruhnya dibangun melalui kebijakan pemerintah. Masyarakat sendiri memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi alam yang dapat menjadi bagian penting dari kekuatan pulau. Salah satu bentuknya adalah tradisi menyimpan hasil panen sebagai persediaan untuk menghadapi masa ketika hasil produksi berkurang atau kebutuhan sulit diperoleh dari luar.
Tradisi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi di dalamnya terdapat cara berpikir yang sangat relevan dengan kehidupan Bawean sebagai wilayah kepulauan. Tidak semua hasil panen harus langsung dijual dan tidak seluruh persediaan harus dihabiskan ketika keadaan sedang baik. Sebagian dapat disimpan sebagai cadangan agar keluarga memiliki kemampuan bertahan ketika keadaan berubah. Nilai tersebut tetap dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang melalui pengelolaan pangan rumah tangga dan desa tanpa harus mengembalikan masyarakat pada pola kehidupan masa lalu.
Ketahanan pangan Bawean karena itu tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mendatangkan pangan dari Gresik. Ketahanan juga berarti kemampuan masyarakat memproduksi, menyimpan dan mengelola sebagian kebutuhan pangannya sendiri. Pemerintah dapat memperkuat kemampuan tersebut melalui pengembangan lumbung pangan desa, dukungan terhadap produksi lokal dan sistem penyimpanan yang baik, sementara masyarakat tetap menjadi kekuatan utama yang menjaga persediaan tersebut agar dapat digunakan ketika distribusi dari luar pulau mengalami gangguan.
Hal yang sama berlaku pada budaya hidup hemat. Hemat bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan kesadaran bahwa setiap persediaan memiliki batas. Dalam kehidupan kepulauan, kebiasaan menggunakan sesuatu secukupnya dan menyisihkan sebagian untuk kebutuhan berikutnya dapat memperpanjang kemampuan sebuah keluarga untuk menghadapi keadaan ketika pasokan dari luar belum dapat kembali berjalan. Kebiasaan semacam ini mungkin sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia mudah diterapkan dan diwariskan.
Kearifan tersebut perlu dipandang sebagai modal sosial yang masih relevan. Masyarakat Bawean memiliki pengalaman yang diperoleh dari kehidupan bersama alam, sedangkan pemerintah memiliki pengetahuan, anggaran dan kewenangan untuk memperkuatnya. Jika keduanya dipertemukan, ketahanan Bawean tidak hanya dibangun melalui fasilitas pemerintah, tetapi juga melalui rumah tangga, desa dan komunitas yang memiliki kemampuan menghadapi masa ketika hubungan dengan daratan mengalami gangguan.
Membangun Ketahanan Bersama
Hubungan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi persoalan Bawean karena itu perlu dibangun secara seimbang. Masyarakat tidak dapat sepenuhnya menyerahkan kebutuhan hidupnya kepada pemerintah, tetapi pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh dukungan yang memadai ketika menghadapi keadaan yang berada di luar kemampuan mereka.
Masyarakat dapat membangun ketahanan dari tingkat keluarga dan desa melalui kebiasaan menyimpan sebagian hasil panen, menjaga persediaan pangan, hidup hemat, memahami informasi cuaca dan memperkuat gotong royong. Pemerintah pada saat yang sama dapat terus memperkuat dukungan melalui cadangan logistik, penguatan RSUD Umar Mas’ud, transportasi medis alternatif, sistem rujukan darurat dan perencanaan kebutuhan yang mempertimbangkan kemungkinan terganggunya konektivitas.
Dalam kerangka tersebut, pengalaman Agustus 2026 sebaiknya menjadi momentum untuk memperkaya perencanaan Bawean. Respons yang telah dilakukan pemerintah dapat menjadi pijakan untuk melihat kebutuhan apa saja yang masih perlu diperkuat dan bagaimana setiap kemungkinan gangguan dapat diantisipasi dengan lebih baik. Evaluasi semacam itu bukan tentang mencari pihak yang salah, melainkan memastikan setiap pengalaman lapangan menghasilkan pembelajaran bagi kebijakan berikutnya.
Jika cuaca ekstrem dan gelombang tinggi merupakan risiko yang telah dikenali, persiapan menghadapi kemungkinan terisolasinya Bawean dapat terus dimasukkan ke dalam perencanaan rutin. Pemerintah dapat memiliki hitungan kebutuhan masyarakat dan fasilitas kesehatan untuk beberapa hari tanpa pasokan dari daratan, sementara masyarakat dapat memperkuat kebiasaan menyimpan dan mengelola persediaan agar tidak langsung berada dalam keadaan rentan ketika kapal belum dapat berlayar.
Dengan demikian, ketahanan Bawean bukan hanya persoalan seberapa cepat bantuan dapat dikirim setelah keadaan darurat terjadi. Ketahanan juga tercermin dari kemampuan masyarakat memenuhi sebagian kebutuhan dasarnya, kemampuan rumah sakit mempertahankan pelayanan dan kemampuan pemerintah memastikan kebutuhan penting telah dipersiapkan berdasarkan pengalaman serta perhitungan yang matang.
Kita memang tidak dapat mengatur laut atau meminta angin selalu bersahabat. Namun, kita dapat belajar dari pengalaman masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan keduanya. Mereka tahu bahwa hasil panen tidak selalu datang pada waktunya, laut tidak selalu dapat diseberangi dan persediaan yang disimpan hari ini dapat menjadi penolong ketika keadaan berubah.
Pemerintah pun dapat terus mengembangkan cara berpikir yang sama dalam menjalankan kebijakan publik. Ketika risiko telah diketahui, persiapan dapat dilakukan lebih awal. Ketika kebutuhan dapat dihitung, cadangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Dan ketika jalur utama memiliki kemungkinan terputus, pilihan alternatif dapat disiapkan sebelum keadaan memerlukan keputusan cepat.
Bawean tidak membutuhkan belas kasihan. Masyarakatnya membutuhkan keadilan geografis, pelayanan yang setara dan kesempatan untuk membangun ketahanan dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri. Pemerintah perlu hadir bukan hanya melalui respons ketika keadaan darurat terjadi, tetapi juga melalui kebijakan yang secara bertahap memperkuat kemampuan masyarakat dan fasilitas pelayanan menghadapi risiko yang telah diketahui.
Pada akhirnya, laut memang memisahkan Bawean dari daratan secara geografis, tetapi tidak boleh memisahkan masyarakat Bawean dari hak memperoleh pelayanan yang layak. Keterpisahan geografis juga tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk bertahan. Justru dari laut itulah Bawean telah belajar tentang pentingnya menyimpan, berhemat dan saling menjaga.
Mungkin sudah waktunya kearifan itu kembali ditempatkan sebagai bagian dari cara kita membangun Bawean. Masyarakat bersiap dari rumah dan desa, sementara pemerintah memperkuat kesiapan melalui kebijakan, anggaran dan sistem pelayanan yang semakin matang. Dengan cara itulah Bawean tidak hanya menunggu kapal datang, tetapi memiliki kemampuan untuk tetap berjalan ketika kapal belum dapat datang.
Sebab menghadapi alam, kesiapan yang paling baik bukan berarti menganggap kita mampu mengendalikan semuanya. Kesiapan adalah kemampuan membaca kemungkinan, belajar dari pengalaman dan menyiapkan apa yang dapat disiapkan sebelum keadaan benar-benar membutuhkan. {*}
*) Abdullah Sidiq Notonegoro, Ketua PADMA Indonesia.








