Oleh Arik S. Wartono
“Hati anak adalah permata yang masih mentah. Ia menerima setiap bentuk yang kau cetak di atasnya.”
(Imam Al-Ghazali)
Annisa Nismara (usia 11 tahun), seniman muda atau lebih tepatnya seniman anak dari Gresik, Jawa Timur menggelar pameran tunggal. Pameran tunggal perdana ini digelar di Galeri Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo No. 15 Surabaya pada 5–10 September 2026.
Ketika Anak Meminjam Kanvas untuk Bicara
Ada saatnya kita harus berhenti mengukur seni dari kelurusan garis, dari kepatuhan pada teori warna, atau dari kelancaran teknik. Ada saatnya kita harus mengukur seni dari satu hal yang paling langka di dunia orang dewasa: keberanian untuk jujur. Di titik itulah kita bertemu Annisa Nismara.
Nama lengkapnya Annisa Nismara Halimah, lahir di Gresik, 11 Maret 2015. Saat ini ia duduk di kelas 6 SD Al-Islam Cerme, Gresik. Ia masih berusia 11 tahun. Dalam dunia seni rupa, usia sering dipakai untuk mengecilkan. “Oh, masih anak-anak”. “Oh, wajar kalau begitu”. Tapi pada Annisa, usia justru menjadi pembesar. Karena apa yang ia lakukan di usia 11 tahun adalah sesuatu yang banyak orang dewasa gagal lakukan sepanjang hidupnya: mengatakan yang sebenarnya, tanpa berbelit, tanpa menyembunyikan.
Sejak berusia 4 atau 5 tahun, nama Annisa Nismara sudah tercatat dalam beberapa kompetisi internasional. Ia pernah meraih Gold Artist pada Picasso an International Art Contest kategori Creative Brilliance di India tahun 2019. Ia kembali meraih Gold Artist pada Picasso Water Colour Art Contest 2020, dan meraih penghargaan yang sama pada 2025.
Pada usia 4-5 tahun ia sudah menjadi Juara II Space Foundation International Student Art Contest di Amerika Serikat. Jejak pamerannya pun cukup npanjang. Dari Gresart di Icon Mall Gresik, pameran berdua dengan Isabell Roses untuk Biennale Jatim 9, pameran di Wisma Halim Demak, Milad ITB Ahmad Dahlan di Tangerang. Selain itu, ia juga ikut pameran di Galeri Merah Putih Surabaya, Kopi Macan dan Wisma Abhipraya Yogyakarta, Bandara Juanda, hingga yang terbaru tahun 2026 di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur.
Tapi semua daftar itu bukan inti dari catatan visual ini. Inti dari pameran ini adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit: Annisa tidak pernah berhenti mencatat. Lima belas karya dalam pameran ini adalah lima belas halaman dari buku hariannya. Ia ditulis bukan dengan pena, tapi dengan sapuan kuas, torehan pisau palet dan lelehan cat. Goresannya bukan sekadar untuk dipuji, tetapi untuk diberi nama. Karena ada banyak rasa di dunia ini yang tidak punya nama, sampai seorang anak menggambar dan melukisnya sebagai catatan visial.
Bahasa Rupa yang Naif, tapi Tidak Polos
Kata ‘naif’ sering disalahpahami. Ia dikira berarti belum bisa, belum tahu, atau asal-asalan. Padahal dalam sejarah seni, naif adalah sebuah sikap. Ia adalah keputusan untuk tidak berbohong. Dan, itu yang dilakukan Annisa Nismara.
Lihatlah cara ia bekerja. Sapuannya cepat. Tidak menunggu cat kering. Warnanya ditumpuk, digores, dikikis, lalu dibiarkan menetes. Tidak ada blending halus. Tidak ada anatomi sempurna. Tapi ada urgensi, ada desakan!
Annisa tidak melukis setelah ia memahami persoalan. Ia melukis justru agar ia bisa memahami. Kanvas adalah tempat ia berpikir dan mencatatnya. Karena itu setiap karya terasa masih basah. Masih hangat bahkan panas, seolah baru selesai lima menit yang lalu.
Dalam bahasa rupa anak, ini adalah kejujuran paling mentah. Belum terkontaminasi oleh “bagusnya harus begini” atau “yang benar itu begini”. Dan, justru di sanalah kekuatannya. Ketika kita berdiri di depan karya Annisa, kita tidak sedang melihat hasil akhir. Kita sedang menyaksikan proses. Kita sedang melihat seorang anak sedang berdialog dengan dunianya, dengan takutnya, dengan rindunya, dengan keluarga, rumah dan kampungnya, lingkungan sekitarnya.
Catatan Bullying: Ruang Merah untuk Amarah yang Ditahan
Dari lima belas karya, ada lima catatan yang menjadi poros dari catatan visual ini. Catatan pertama, tentang luka yang paling sering kita abaikan karena dianggap “biasa”: bullying atau perundungan.
Dalam karya berjudul Catatan Bullying (2026) media cat akrilik di atas kanvas 50×50 cm, Annisa memakai latar merah pekat. Bukan merah yang cerah. Merah yang menekan, yang membuat dada sesak. Di tengahnya ada sosok hitam yang membungkuk, memeluk dirinya sendiri. Tidak ada pelaku yang digambar. Tidak ada adegan. Yang ada hanya rasa. Rasa ingin mengecil, rasa ingin menghilang, rasa memeluk diri karena tidak ada orang lain yang memeluk.
Goresan hitam itu tidak rapi. Ia ditekan kuat, berantakan, seolah kuas-pisau paletnya juga ikut marah. Itulah kejujuran Annisa. Ia tidak sedang menjelaskan teori psikologi tentang bullying. Ia sedang mencatat: begini rasanya ketika kata-kata orang lain masuk ke dalam tubuhmu dan tinggal di sana, tidak mau keluar.
Karya ini memaksa kita berhenti bertanya: “Beneran dibully apa enggak sih?”. Dan mulai bertanya: “Sakitnya seperti apa?”. Karena kerap orang dewasa baru percaya kalau ada luka fisik. Padahal luka yang paling dalam sering tidak meninggalkan memar.
Catatan Child Abuse: Bisik yang Lebih Keras Dari Teriak
Masih dalam bab luka, Annisa kemudian menurunkan intensitas suaranya. Jika Catatan Bullying berteriak dengan warna merah, maka Catatan Child Abuse (2025) berbisik dengan hitam-putih.
Kanvas 50×50 cm ini hampir seluruhnya gelap. Di tengahnya muncul sosok putih pucat dari belakang. Ia mengecil, menunduk, seolah ingin melebur ke dalam kegelapan. Di sudut kanan atas, sebentuk kaki besar dengan sepatu menggantung. Belum menyentuh. Tapi sudah mengancam. Dan jarak itu, jarak antara kaki yang menggantung dan tubuh yang mengecil, adalah bagian paling menyakitkan dari karya ini.
Karena kekerasan tidak harus terjadi untuk melukai. Cukup dengan menunggu. Cukup dengan kemungkinan. Dan seorang anak akan hidup dalam ketakutan itu setiap hari. Tekstur akrilik yang ditoreh tebal-tebal di tubuh sosok putih itu seperti memar. Seperti memori yang menempel di kulit dan tidak bisa dihapus dengan sabun.
Annisa melukis ini dengan pilihan palet minimalis: hitam, putih, abu-abu. Sudah, tidak ada warna lain. Bahkan dalam teori warna, hitam dan putih bukanlah warna, tapi valiu. Karena dalam pengalaman ini memang tidak ada “warna-warni moral”. Ada yang menyakiti. Ada yang disakiti. Ada keheningan yang memaksa anak menanggungnya sendirian.
Catatan Child Abuse bukan jeritan. Ia adalah bisik. Dan bisik seorang anak sering lebih keras dari teriakan seribu orang dewasa, karena ia tidak punya kepentingan apa-apa selain ingin aman.
Jantung Hati: Anatomi Dari Rasa yang Tidak Kelihatan
Setelah berbicara tentang kekerasan dari luar, Annisa berbalik ke dalam. Jantung Hati (2026), akrilik di atas kanvas 50×50 cm adalah karya menyentak dalam pameran ini.
Lagi-lagi kita melihat sosok dari belakang. Tanpa kepala yang utuh. Tanpa wajah yang bisa kita tebak. Hanya punggung polos. Dan di tengah punggung itu, ada jantung merah besar yang digambar keluar dari dada. Seolah ditembus dari dalam dan dipaksa keluar.
Judulnya memakai bahasa ibu: Jantung Hati. Bukan jantung secara anatomi. Tapi tempat bersemayamnya rindu, kecewa, sayang yang tertahan, takut kehilangan. Di usia 11 tahun kebanyakan anak diajarkan untuk kuat, untuk jangan cengeng, untuk menyimpan sendiri. Annisa melakukan sebaliknya. Ia mengeluarkan jantungnya. Ia taruh di atas kanvas. Ia bilang kepada dunia: ini aku, ini sakitnya.
Latar hitam yang pekat membuat sosok itu tampak sendirian. Tidak ada orang lain. Hanya dirinya dan rasanya. Karya ini mengingatkan kita bahwa anak-anak juga punya kedalaman. Mereka juga patah hati. Mereka juga kecewa. Hanya saja kita jarang bertanya. Kita menganggapnya “masih kecil, belum ngerti”. Padahal yang tidak mengerti seringkali adalah kita.
“Catatan Harian #3”, Seri Catatan Personal
Karya terbarunya, Catatan Harian #3 (2026), akrilik di atas kanvas, 100×100 cm, merupakan salah saru seri dari “catatan harian” yang divisualkan. Dalam seri karya ini Annisa Nismara yang menulis tentang dirinya sendiri. Di usia 11 tahun, seniman muda asal Gresik ini membuat kanvas besar 100×100 cm yang terasa seperti membuka buku harian yang tidak ditulis dengan kalimat, tetapi dengan cuaca batin.
Karya ini abstrak, liar, dan penuh lapisan. Biru gelap yang dingin bertabrakan dengan abu, putih, dan semburat merah yang menetes seperti luka. Goresan spontan dan tekstur tebal menunjukkan proses yang cepat, mendesak, seolah emosi tidak bisa ditunda sampai kering. Ada garis-garis merah yang turun dari atas, ada tetesan putih yang mengalir ke bawah. Seperti hujan. Seperti air mata. Seperti hari-hari yang tidak selesai diurai.
Judul Catatan Harian menegaskan sifat karya ini: pribadi, rutin, dan jujur. Ia tidak berusaha indah. Ia berusaha benar. Di sinilah kita melihat keberanian Annisa untuk tidak menjelaskan. Ia tidak memberi tahu kita “aku sedih karena apa”. Ia hanya menunjukkan bagaimana rasanya sedih itu: sumpek, berlapis, berantakan, tapi tetap ingin keluar.
Dalam konteks pameran Catatan Visual, karya ini menjadi jantung dari keseluruhan pameran. Jika Catatan Buliying dan Catatan Child Abuse merekam kekerasan di luar, dan Jantung Hati merekam luka di dalam dada, maka Catatan Harian #3 merekam prosesnya: bagaimana seorang anak memproses dunia yang terlalu bising, terlalu cepat, terlalu banyak tuntutan.
Yang luar biasa adalah, Annisa tidak melarikan diri ke warna-warna cerah yang “anak-anak”. Ia memilih jujur pada gelapnya. Dan justru dari kejujuran itulah muncul keindahan yang berbeda: keindahan karena berani terlihat rapuh.
Catatan Harian #3 mengingatkan kita, bahwa anak-anak juga punya hari-hari berat. Mereka juga punya malam yang panjang di kepala. Dan kadang, satu-satunya cara mereka bertahan adalah dengan menuangkannya ke atas kanvas, sebelum ia menenggelamkan mereka.
Ini bukan sekadar lukisan. Ini adalah bukti bahwa anak-anak juga berhak punya ruang untuk merasa, tanpa harus buru-buru “positif” atau “kuat”.
Landscape Cerme: Catatan tentang Rumah
Setelah empat catatan tentang luka, Annisa memberi kita jeda. Landscape Cerme, Gresik (2025) hadir seperti hela nafas. Salah satu dari lima karya yang dilukis di atas kanvas 100×100 cm dalam pameran ini. Dan berbeda dari karya lain, lukisan ini dibuat on the spot di sebuah sawah di Cerme, sekitar satu kilometer dari rumah Annisa.
Ia membawa kanvas, cat, dan dirinya. Lalu duduk di tengah angin, suara burung, serangga, dan langit yang berubah-ubah. Karena itu goresannya terasa hidup. hijau sawah ditoreh tebal dan liar. Tanah coklat kemerahan diaduk kasar, seolah masih basah oleh pijakan. Pohon pisang di sisi kiri berdiri besar seperti penjaga. Di kejauhan dua gunung biru muncul samar di balik awan. Langitnya tidak biru manis. Ia mendung, berlapis, dan ada tetesan cat yang turun, tanda bahwa saat melukis cuaca juga ikut bekerja.
Tidak ada manusia di dalam lukisan ini. Karena yang dilukis bukan manusia. Yang dilukis adalah tempat manusia itu tumbuh. Landscape Cerme mengingatkan kita, bahwa sebelum anak-anak mencatat luka dunia, mereka terlebih dulu mencatat rumah. Dan rumah, bagi Annisa, adalah sawah, gunung, dan langit yang selalu berubah. Tempat ia belajar bahwa hidup, seperti cuaca, tidak selalu cerah, tapi tetap layak untuk dilukis.
Sisa Catatan: Peta Emosi yang Lengkap
Sepuluh karya lain melengkapi peta ini. Taukah Kalian (2024) adalah teguran. Kalimat besar di atas permukaan abu-abu yang menetes. Pertanyaan yang tidak pernah dijawab orang dewasa. Trilogi Catatan Harian (2025), Catatan Harian #2 (2025), dan Catatan Harian #3 (2026) adalah cuaca batin. Dari kabut, ke secercah emas, ke luapan biru dan merah yang tidak bisa lagi ditahan.
Ngukruk (2025) menggambar burung hitam yang bertengger sendirian. Kata ‘ngukruk‘ dalam bahasa Jawa artinya menyendiri, merenung. Itu metafora paling pas untuk sepi. Figur Pagi (2026) memberi kita matahari. Dua sosok di bawah cahaya merah. Hangat dan sederhana, sebagai penyeimbang dari semua catatan kelam.
Lorong (2026) dan Bukit Biru (2026) adalah ruang transisi. Jalan yang kabur, bukit yang misterius. Bunga Curcuma Hutan (2026) dan Waduk Sumengko (2026) merayakan detail kecil. Satu bunga merah di tengah hutan, satu permukaan air yang tenang. Dan, Sapi Merah Kecil (2024) adalah kasih Annisa pada hal-hal sederhana di kampungnya.
Semuanya ditampilkan dengan bahasa yang sama. Bahasa yang tidak minta disetujui. Bahasa yang hanya ingin didengar.
Penutup: Mengapa Kita Harus Membaca Catatan Ini
Kita hidup di zaman yang menuntut anak untuk cepat dewasa, cepat pintar, cepat berprestasi, cepat “positif terus”. Tapi jarang sekali kita memberi ruang bagi anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang takut, yang sedih, yang bingung, yang rindu, yang marah.
Annisa Nismara tidak menawarkan solusi, apalagi menggurui. Ia hanya mencatat. Dan dari lima belas catatan itu, kita diminta melakukan tiga hal. Pertama, mendengar. Bukan mendengar kata-kata, tapi mendengar gambar. Karena kadang gambar lebih jujur dari mulut. Kedua, bertanggung jawab. Setelah melihat catatan tentang bullying dan child abuse, kita tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu. Ruang aman untuk anak adalah kerja kita bersama. Ketiga, menghormati. Menghormati bahwa anak punya cara sendiri untuk memproses dunia. Dan, cara itu layak dipajang di galeri, diapresiasi dengan layak.
Annisa Nismara, 11 tahun, dari Gresik, telah memberikan kita pelajaran paling berharga. Bahwa seni tidak harus indah untuk menjadi penting. Bahwa jujur lebih berharga dari sempurna. Bahwa masa depan bisa kita bayangkan bersama, jika kita berani membaca catatan hari ini.
“Let’s imagine the future together“, demikian tagline Sanggar DAUN yang telah mendampingi Annisa selama bertahun-tahun. Dan, masa depan itu dimulai di sini. Ketika kita berhenti menafsir anak, dan mulai membaca catatannya dengan sungguh-sungguh.
Silakan masuk ke Galeri Merah Putih Surabaya. Bacalah pelan-pelan. Karena di dalam catatan visual ini, mungkin ada juga bagian dari diri kita yang selama ini belum punya nama. {*}

Gresik, 4 September 2026
*) Arik S. Wartono, Kurator, Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN.








