TULUNGAGUNG (RadarJatim.id) — Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 kembali memberikan pembekalan bagi siswa SMAN 1 Campurdarat, Tulungagung. Setelah sebelumnya memperoleh penguatan kemampuan bahasa asing, para siswa mengikuti kelas intensif bersama Science Hunter Indonesia (SHI) pada 4 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian program Migrant Smart Village.
Science Hunter Indonesia menjadi mitra pembelajaran dalam program yang dikembangkan tim kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). SHI dipimpin oleh Reza Aulia Akbar, yang juga menjadi anggota tim Pengabdian Masyarakat PMKI 2026. Dalam tim, Reza berperan dalam perancangan model program serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi kegiatan.
Berbeda dengan pembelajaran yang hanya berfokus pada penyampaian materi, kelas intensif SHI diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir analitis dan pemecahan masalah. Dalam program ini, siswa diajak berlatih mengidentifikasi persoalan sosial di sekitar mereka, memetakan akar masalah, memahami hubungan sebab-akibat, serta melihat potensi dan peluang yang dapat dikembangkan menjadi alternatif penyelesaian.
Pembekalan tersebut menjadi penting karena kesiapan menjadi pekerja migran tidak cukup hanya dengan kemampuan bahasa dan keterampilan teknis. Ketika berada di negara lain, seseorang dapat berhadapan dengan lingkungan kerja, budaya, aturan, dan persoalan yang berbeda dari kondisi di Indonesia. Kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan secara terukur menjadi bekal agar generasi muda lebih adaptif dan mandiri dalam menghadapi persoalan.
Program Migrant Smart Village sendiri dirancang untuk menjawab sejumlah tantangan calon pekerja migran muda, mulai dari keterbatasan kemampuan bahasa asing hingga perlunya kesiapan karier jangka panjang. Pendampingan dirancang melalui pendekatan blended learning dengan kombinasi kegiatan luring dan pembelajaran daring.
Ketua Pelaksana PMKI, Alfi Rohmatul Hidayah, menilai, bahwa kelas ini menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan siswa secara lebih utuh.
“Kami tidak ingin siswa hanya siap berangkat bekerja, tetapi juga siap menghadapi berbagai situasi ketika berada di lingkungan baru. Mereka perlu mampu mengenali masalah, mencari akar persoalannya, melihat peluang, lalu mempertimbangkan alternatif solusi. Kemampuan seperti inilah yang akan membantu mereka menjadi pekerja yang lebih adaptif dan memiliki daya tawar,” ujar Alfi, Rabu (16/9/2026).
Melalui kelas intensif tersebut, tim berharap siswa SMAN 1 Campurdarat memiliki bekal yang lebih komprehensif untuk merencanakan masa depan dan menghadapi dinamika dunia kerja internasional. (sha)






