TULUNGAGUNG (RadarJatim.id) – Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 yang melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan kelas intensif Bahasa Mandarin bagi siswa SMAN 1 Campurdarat, Tulungagung. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Migrant Smart Village, bertujuan memperkuat kompetensi komunikasi internasional dan kesiapan karier generasi muda yang memiliki minat bekerja di luar negeri.
Pada rancangan awal, tim PMKI merencanakan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai salah satu bentuk pembekalan bahasa asing. Namun, hasil survei lapangan dan diskusi bersama pihak sekolah menunjukkan kebutuhan yang berbeda. Diketahui, bahwa SMAN 1 Campurdarat belum memiliki guru Bahasa Mandarin. Selain itu, sejumlah siswa yang mempertimbangkan bekerja di luar negeri memiliki ketertarikan pada negara atau wilayah tempat Bahasa Mandarin banyak digunakan, seperti Taiwan dan Singapura.
Temuan tersebut mendorong tim menyesuaikan program agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Penguatan kemampuan bahasa asing dan keterampilan komunikasi memang menjadi salah satu tujuan utama program sebagai bekal menghadapi lingkungan kerja internasional.
Kelas Bahasa Mandarin berlangsung pada 3–7 Agustus 2026, dengan total 10 kali tatap muka selama lima hari. Materi diberikan secara bertahap, meliputi dasar-dasar Bahasa Mandarin, perkenalan diri, angka, waktu dan tempat, keluarga, aktivitas harian, konteks bekerja, uang, konjungsi, hingga penggunaan partikel. Pembelajaran juga dilengkapi dua kuis dan tes formatif pada pertemuan terakhir.

Ketua Pelaksana Program Pengabdian Masyarakat, Alfi Rohmatul Hidayah, mengungkapkan, antusiasme siswa menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama pelaksanaan program.
“Bagi kami, pengabdian bukan tentang datang membawa apa yang menurut perguruan tinggi dibutuhkan masyarakat, tetapi mendengarkan terlebih dahulu apa yang benar-benar mereka perlukan,” ungkap Alfi, Senin (14/9/2026).
Ketika sekolah menyampaikan bahwa Bahasa Mandarin lebih dibutuhkan, lanjutnya, maka pihaknya mengarahkan program harus adaptif. Antusiasme siswa selama pembelajaran juga semakin meyakinkan tim pelaksana, bahwa pembekalan yang sesuai kebutuhan dapat menjadi modal awal mereka mempersiapkan masa depan.
Para siswa mengikuti pembelajaran dengan antusias sepanjang kegiatan. Tim berharap, sepuluh pertemuan yang dilakukan menjadi langkah awal yang dapat dilanjutkan melalui program pendampingan berikutnya. Dengan demikian, siswa memperoleh kesempatan lebih luas untuk meningkatkan kemampuan bahasa, komunikasi, serta kesiapan menghadapi dunia kerja global. (sha)








