SURABAYA (RadarJatim.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyiapkan AI Mu’awin, asisten digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang dengan basis fatwa MUI dan pengetahuan Islam Wasathiyah yang terkurasi.
Pengembangan AI Mu’awin menjadi bagian dari program kerja Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Komdigi) MUI Jatim masa khidmat 2025-2030. Dalam pengembangannya, MUI Jatim menggandeng AI Centre Universitas Brawijaya (UB), Dinas Komdigi Pemprov Jatim, dan KITA AI Community.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan MUI Jatim dan AI Centre UB pada 18 September 2026. Kedua pihak selanjutnya akan melakukan penyelarasan teknis pada pekan keempat September, termasuk pembentukan gugus tugas bersama dan penyusunan draf nota kesepahaman (MoU).
Ketua Komisi Komdigi MUI Jatim, Khoirul Anwar, mengatakan, AI Mu’awin disiapkan untuk membantu masyarakat mengakses pengetahuan keislaman dan fatwa MUI di tengah semakin luasnya penggunaan AI.
“Umat sekarang bisa bertanya apa saja kepada AI, termasuk persoalan agama. Tantangannya, kita tidak selalu mengetahui dari mana AI mengambil pengetahuan dan bagaimana jawaban itu dibentuk. Karena itu, basis pengetahuannya harus menjadi perhatian serius,” kata Anwar.
AI Mu’awin akan menggunakan pangkalan pengetahuan Islam Wasathiyah yang telah dikurasi. Sistem tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk chatbot maupun agentic AI, dengan perhatian khusus pada pengurangan risiko hallucination atau munculnya informasi yang tampak meyakinkan tetapi tidak memiliki landasan yang benar.
Namun, lanjutnya, AI Mu’awin tidak dirancang untuk menggantikan ulama atau otoritas keagamaan. Teknologi tersebut diposisikan sebagai alat bantu untuk menemukan dan memahami pengetahuan, sedangkan persoalan yang membutuhkan fatwa, penjelasan, dan otoritas keagamaan tetap menjadi ranah ulama dan lembaga yang berwenang.
“AI jangan ditempatkan menggantikan ulama. Teknologi harus menjadi mu’awin, menjadi pembantu. Ia membantu manusia memperoleh pengetahuan, sementara otoritas dan pertanggungjawaban keagamaan tetap berada pada manusia,” ujarnya.
Bangun Ekosistem Digital
Pengembangan AI Mu’awin merupakan bagian dari rancangan ekosistem digital MUI Jatim. MUI Jatim bersama AI Centre UB memetakan tiga klaster kerja sama, yakni Pusat Kognisi dan Edukasi Dakwah, Sistem Pertahanan dan Literasi Informasi, serta Infrastruktur Digital Inti.
Pada klaster pertahanan informasi, teknologi analitik akan digunakan untuk membaca dinamika percakapan publik di ruang digital. Sistem diarahkan mendeteksi tren persoalan seperti hoaks, judi online, serta anomali informasi dan kultural yang berpotensi memengaruhi masyarakat.
Analisis tersebut dibatasi pada data agregat dan pemetaan tren sebagai sistem peringatan dini (early warning system), bukan untuk melacak identitas maupun data pribadi pengguna.
Sementara itu, pada sektor infrastruktur digital, MUI Jatim menyiapkan pangkalan data keumatan dan sistem perkantoran elektronik Smart MUI Jawa Timur.
Digitalisasi arsip juga menjadi bagian dari rencana tersebut. Pengetahuan kelembagaan yang selama ini tersebar akan ditata dan dikurasi secara bertahap agar dapat menjadi salah satu fondasi knowledge base bagi pengembangan layanan AI MUI Jatim.
Anwar mengatakan digitalisasi pengetahuan menjadi penting agar lembaga keagamaan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki basis pengetahuan yang dapat dikelola sendiri.
“Kalau pengetahuan umat tidak mulai didigitalisasi, dikurasi dan dibangun menjadi knowledge base yang kuat, kita akan terus bergantung kepada sistem pengetahuan yang dibangun pihak lain yang belum tentu terkurasi. Ini yang harus mulai disiapkan dari sekarang,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, MUI Jatim diwakili Hakim Jayli, Khoirul Anwar, Fajar Trang Bawana, Haikal Atiq, Prof Lilik Hamidah, dan sejumlah pengurus lainnya. Sementara dari AI Centre UB, hadir Prof Dr Wayan Firdaus Mahmudy, Dr Raden Arief Setyawan, Dr Rizal Setya Perdana, serta sejumlah pengurus lainnya.
Selain pengembangan teknologi, MUI Jatim menyiapkan rubrik khusus kecerdasan buatan di Majalah MUI Jawa Timur sebagai bagian dari literasi AI bagi masyarakat.
“Bagi MUI Jawa Timur, pengembangan AI Mu’awin menjadi bagian dari upaya yang lebih besar, memastikan umat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mempunyai kemampuan membangun, mengendalikan, dan menjaga pengetahuannya sendiri di era kecerdasan buatan,” pungkas Anwar. (sha)








