• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Rabu, 7 Oktober 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Esai/Kolom

Matinya Ekosistem dan Ilusi Event: Surabaya Gagal Setelah Aksera, Unesa Perlu Mengambil Alih

by Radar Jatim
6 Oktober 2026
in Esai/Kolom, Sastra/Budaya
0
Matinya Ekosistem dan Ilusi Event: Surabaya Gagal Setelah Aksera, Unesa Perlu Mengambil Alih

Arik S. Wartono

43
VIEWS

Oleh Arik S. Wartono

Seni rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) perlu dikritik secara serius. Saya harus menyatakan hal tersebut dengan lugas dan tanpa basa-basi, karena sejauh ini kontribusinya minim bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Bahkan untuk skala Surabaya saja, ia gagal.

Pernyataan ini mungkin terdengar kasar bagi almamater saya sendiri. Tetapi, inilah kejujuran yang selama ini tidak pernah dibicarakan, seolah kegagalan ini adalah hal yang lumrah dan sudah seharusnya begitu.

Surabaya punya sejarah panjang dalam seni rupa. Kita pernah punya generasi Aksera (Akademi Seni Rupa Surabaya). Meskipun dengan jumlah orang yang tidak banyak, tetapi isinya orang-orang cerdas, mampu menggerakkan sebuah ekosistem seni rupa, minimal di Surabaya, bahkan sampai skala nasional. Mereka berdebat, menulis, membuat pameran seni rupa, serta menghidupkan wacana.

Setelah generasi Aksera berakhir, Surabaya tidak lagi memiliki ekosistem seni rupa yang sehat. Yang ada hanyalah komunitas-komunitas yang berubah menjadi “pulau-pulau” yang tidak saling berinteraksi. Inilah definisi kasar yang perlu kita bedakan. Komunitas hanya mencakup kumpulan makhluk hidup, faktor biotik saja.

Sedangkan ekosistem mencakup gabungan komunitas tersebut dengan benda tak hidup di sekitarnya, faktor abiotiknya: material, pasar, kebijakan, kampus, media, kolektor, kurator, kritikus, pemerintah. Surabaya hari ini hanya punya komunitas, tapi tidak punya ekosistem, atau lebih tepatnya tidak punya ekosistem seni rupa yang sehat.

Celakanya, “pulau-pulau” yang tidak saling berinteraksi ini justru tampaknya malah dimainkan oleh para pengurus Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dalam sepuluh tahun terakhir. DKS yang seharusnya menjadi jembatan, justru menjadi “penjaga pulau”.

Maka, saatnya Unesa –yang punya sejarah panjang– mengambil peran ini, peran yang terbukti tidak dijalankan oleh DKS. Dewan Kebudayaan Surabaya (DKebS) yang baru terbentuk, sejauh juga ini belum punya kapasitas untuk memikirkan hal ini, apalagi berinisiatif mengambil peran strategis.

Aksera dan Unesa: Dua Akar yang Tidak Pernah Bertemu

Untuk memahami mengapa ekosistem Surabaya mati, kita harus kembali ke dua akar sejarah yang sering dilupakan.

Pertama, Aksera itu sendiri. Akademi Seni Rupa Surabaya didirikan pada tahun 1967, gagasannya muncul 1966, yang waktu itu didukung Wali Kota Soekotjo. Pendirinya adalah M. Roeslan, Amang Rahman, Krishna Mustajab, dan M. Daryono. Bentuknya memang akademi formal, tetapi sistem pengajarannya menyerupai sanggar. Tekanan utama adalah drawing, sketsa, dan basic design. Angkatan pertama 1967 peminatnya 105 orang, angkatan kedua 1968 menurun di bawah 50 orang. Akademi ini hanya bertahan sampai enam angkatan, hingga 1972.[1]

Tetapi, dari enam angkatan yang singkat itu lahir nama-nama yang kemudian mewarnai seni rupa Surabaya dekade 1970-1980an: Nuzurlis Koto, Nunung W.S., Makhfoed, Serudi Sera, Thalib Prasojo, Hardi, Dwijo Sukatmo, Iman Suligi, dan lain-lain.

Salah satu dosennya yang paling berpengaruh adalah Gatot Kusumo, tokoh Partai Sosialis Indonesia, budayawan, sutradara film yang sehari-hari mengajar Filsafat Seni. Ia yang membentuk kepribadian dan etos kerja kesenimanan mahasiswa Aksera. Ketika Surabaya menjadi tuan rumah PON VII tahun 1969, Aksera berkontribusi sebagai Seksi Penerangan pembuat poster, spanduk, dan baliho. Ini bukti, bahwa sejak awal Aksera sudah terlibat dalam ekosistem kota, bukan hanya di dalam kelas.[2]

Secara kultural, Aksera adalah kawah candradimuka. Ia tidak melahirkan sarjana follower, melainkan seniman petarung. Seperti yang ditulis Hamid Nabhan dalam buku Aksera dalam Sejarah dan Dinamikanya, Aksera adalah model pendidikan seni yang langka: formal secara struktur, tetapi liar secara wacana.[3]

Kedua, akar IKIP Surabaya, yang kini menjadi Unesa. Secara historis pengembangan kurikulum di Unesa berjalan searah dengan pengembangan lembaga yang diawali dari kursus guru B-I dan B-II pada tahun 1950-an, yang selanjutnya berkembang menjadi Akademi Pendidikan Guru hingga FKIP dan IKIP Surabaya. Pada masa 1980-an, ketika masih bernama IKIP Surabaya, Jurusan Seni Rupa dan Seni Tari telah berdiri dan melahirkan banyak guru seni yang berperan dalam pendidikan seni di Jawa Timur.[4]

Pada tahun 2019, Unesa mendirikan Pusat Seni dan Budaya di bawah LPPM. Pada 2022 lembaga ini berganti nama menjadi Pusat Unggulan IPTEK Art Ecosystem Development (ARCON) dengan fokus pengembangan ekosistem seni lokal dan global.

Pada 2023 ARCON resmi berkembang menjadi PUI-PT Pendidikan Seni atau Arts Education Center of Excellence (AECE) yang sekarang dikenal sebagai Sub Direktorat Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya (PUI-SB). Ini sejalan dengan status baru Unesa sebagai PTN-BH berdasarkan PP No. 37 Tahun 2022, di mana Unesa menetapkan bidang seni sebagai salah satu dari tiga prioritas keilmuan, bersama olah raga dan disabilitas.[5]

Ironisnya, di atas kertas sejarahnya panjang dan strukturnya megah. Tetapi dalam praktik lapangan, seperti ditegaskan Prof Djuli Djatiprambudi dalam diskusi publik ARTSUBS di Unesa, 14 September 2026:

“Persoalannya bukan sekadar apakah Surabaya memiliki banyak seniman. Surabaya sudah lama memiliki seniman, komunitas, akademisi, ruang kreatif, juga kolektor. Persoalannya adalah apakah seluruh potensi itu telah membentuk sebuah ekosistem seni rupa yang cukup kuat?” [6]

Jawabannya belum. Nirwan Dewanto, kurator ARTSUBS, menambahkan: “Surabaya tidak cukup hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran seni rupa… Surabaya perlu membangun ekosistem dan peristiwa seninya sendiri.”[7]

Inilah paradoks kita: Aksera punya roh ekosistem, tetapi tidak punya struktur negara. Sementara Unesa punya struktur negara, tetapi kehilangan roh ekosistem. Dua akar ini tidak pernah bertemu.

Ilusi Event Besar: Antara PSLI, ARTSUBS dan Kegagalan Memahami Ekosistem

Banyak kawan di Surabaya masih gagal membedakan antara event seni dan ekosistem seni. Jawa Timur dan Surabaya sudah banyak event seni rupa, termasuk PSLI (Pasar Seni Lukis Indonesia) yang sudah mendahului sebagai event dagang lukisan terbesar. Hari ini kita punya ARTSUBS yang dengan modal besar berhasil menjadi event seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia, melampaui ARTJOG secara kuantitas.

Tetapi kita harus jujur: sejauh ini ARTSUBS juga masih menjadi event besar, belum bergerak membangun ekosistem seni di Surabaya. Ia baru tumbuh menjadi event seni rupa yang besar, belum sampai menggerakkan ekosistem seni rupa Surabaya.

Jangan salah paham. Saya adalah orang yang paling menginginkan ARTSUBS terus berlanjut. Rambat, Direktur Utama ARTSUBS dan timnya membuktikan, bahwa modal itu bisa dicari, bukan diwarisi. Ia memulai dari jalanan, membuat artshop di Bali, lalu Jagad Gallery, kemudia ARTSUBS.

Modal dicari, diputar, ada keberanian melakukan eksekusi event besar di Surabaya, meskipun dia bukan orang Surabaya dan bahkan tidak tinggal di Surabaya. Masalahnya bukan ada atau tidak adanya duit. Sebagian orang mungkin berpendapat “kuncinya duit”. Saya jawab, Rambat membuktikan duit bisa dicari kalau orangnya becus nyambut gawe. Masalahnya, Surabaya selama ini kekurangan orang macam begini.

Namun, jika kita masih berpikir, bahwa event besar dengan dana besar otomatis menggerakkan ekosistem, ini juga tidak sepenuhnya benar. Jogja memang punya ARTJOG, tetapi sebelum ada ARTJOG ekosistem seni rupa di Jogja sudah bergerak.

Bandung dan Jakarta adalah contoh paling jelas. Sejak era TIM (Taman Ismail Marzuki) berakhir, ekosistem seni rupa Jakarta juga hilang. Meskipun di Jakarta ada event besar sekelas Art Jakarta, Art Moments, tapi ekosistemnya tidak bergerak. Bandung juga sama, ekosistem seni rupa Bandung meredup kalau tidak boleh dibilang padam sejak generasi kelompok Decenta dan poros Bandung berakhir.

Mengapa begitu? Karena ekosistem seni tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan event besar. Ekosistem yang bergerak itu salah satu indikatornya adalah mampu menggerakkan sektor di luar seni rupa itu sendiri, termasuk kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif setempat, dan lain-lain.

Ketika ARTJOG berlangsung, ekonomi di sekitar: hotel, angkringan, toko material seni, tukang pigura, percetakan, semua ikut bergerak. Ketika sektor golek pangan itu bergerak seiring dengan event seni, dan terkait secara langsung atau tidak langsung. Itu artinya ekosistem seni rupa telah bergerak.

Saat ini hal itu tidak terjadi di Jakarta dan Surabaya, tetapi terjadi di Jogja, dan Bali. Ada yang berdalih ini soal geografis. Surabaya tidak punya gunung, tidak punya pantai wisata, tidak punya candi, tidak punya keraton. Ini premis yang tidak masuk akal. Bali dan Jogja beda secara geografis, tetapi keduanya ekosistemnya bergerak. Surabaya, Jakarta, Bandung sama-sama kota modern dengan mal besar-besar, tetapi ekosistem seni rupa-nya mandek, kalau tidak boleh dibilang mati. Jadi, geografis bukan penentu. Yang menentukan adalah ada atau tidaknya motor penggerak.

Unesa yang Mlempem: Dari Komunitas Menuju Ekosistem

Surabaya punya Unesa, STKW, Adibuana, Petra, Ciputra, Ubaya, dan lain-lain. Tetapi, mereka hanya membangun komunitas, gagal menjadi “agen-agen” yang mengembangkan ekosistem seni rupa yang sehat di Surabaya. Para mahasiswa dan alumninya baru bisa “jadi” kalau ‘hijrah’ atau minimal berinteraksi secara aktif dengan ekosistem seni rupa Jogja atau Bali. Sama situasinya dengan mereka yang saat ini di Bandung dan Jakarta.

Akar dari kemlempeman ini sebenarnya ada di ruang kelas. Jika pendidikan seni rupa di Unesa hanya bermodalkan doktrin taat dan patuh, maka yang diluluskan bukanlah pemikir, melainkan hanya “sarjana follower“. Mereka terjebak pada doktrin pasif, bukan pada wacana dan praktik berfikir.

Model pendidikan seperti itu hanya melahirkan produk massal, bukan diferensiasi. Ia hanya mencetak individu yang berpikir pragmatis, jauh dari futuristik, dan tak mampu menampilkan identitas yang punya wibawa. Hasil akhirnya adalah kelahiran yang “repetitif makna”: karya yang mirip-mirip, skripsi yang mirip-mirip, pameran yang mirip-mirip, semua seragam, karena takut berbeda.

Padahal seni rupa, seperti yang diingatkan Herbert Read, adalah education through art – pendidikan melalui seni yang seharusnya memerdekakan, bukan menjinakkan.[8]

Paulo Freire menyebut model taat-patuh itu sebagai pendidikan gaya bank. Mahasiswa dianggap bejana kosong yang hanya perlu diisi. Pendidikan seperti ini mematikan nalar kritis. Maka, tidak heran jika ekosistem tidak tumbuh, karena benihnya sendiri tidak pernah dididik untuk bertanya, apalagi menggugat.[9]

Contohnya jelas, beberapa alumni Unesa mampu menggerakkan komunitas. Orang-orangnya bisa makan dari seni rupa terutama sektor seni rupa terapan, tetapi mereka tidak bisa dibebani menggerakkan ekosistem seni rupa Surabaya. Hal ini wajar, karena peran ini hanya bisa dijalankan oleh lembaga seni dan perguruan tinggi, serta lembaga negara.

Menggerakkan ekosistem tidak bisa diambil oleh individu, tetapi oleh lembaga. Individu hanya bisa menggerakkan komunitas. Inilah titik paling lemah Unesa. Ia punya sejarah panjang sejak IKIP Surabaya. Ia punya ribuan alumni yang tersebar, tetapi ia mlempem.

Ia gagal menjadi motor penggerak. Bahkan galeri baru di Unesa, yakni Galeri Wastu Wimba dan event tahunan SENGKUNI (Serangkaian Ungkapan Karya Seni) yang saat ini telah memasuki tahun ke-8 pun kehadirannya belum cukup signifikan untuk bergerak secara progresif.

Dalam diskusi seputar ARTSUBS 2026 di Unesa, Prof Djuli Djatiprambudi secara jujur mengakui, bahwa medan seni rupa semakin kompleks dan “ekosistem seni rupa masih kekurangan peneliti dan pengkaji yang mampu mendokumentasikan serta mengembangkan pengetahuan dari berbagai peristiwa seni. Dukungan pemerintah terhadap kegiatan seni juga belum sepenuhnya optimal.”[10]

Artinya, Unesa sendiri sebagai produsen peneliti belum mampu mengisi kekosongan itu. Padahal, seperti kata Pierre Bourdieu, medan seni (champ artistique) hanya hidup jika ada agen-agen yang bertarung merebut legitimasi: seniman, kurator, kritikus, kolektor, dan akademisi. Jika kampus hanya menjadi penonton, maka medan itu mati.[11]

Djuli Djatiprambudi, guru besar dari Unesa sekaligus kritikus seni rupa yang paling lama mengamati Surabaya, pernah mengingatkan dengan sangat pedas:

“Surabaya itu tidak kekurangan seniman, Surabaya kekurangan ekosistem kritik. Seniman Surabaya terlalu cepat puas menjadi jagoan kampung, karena tidak ada sistem yang mengujinya secara keras.” Pendapat Djuli ini sangat tepat. Tanpa sistem kritik, tanpa jurnal, tanpa laboratorium wacana yang hidup, seniman Surabaya hanya berputar di komunitasnya sendiri.[12]

Padahal jika kita membaca Sanento Yuliman, ia sudah memberikan definisi yang jelas tentang ekosistem seni rupa modern: “Seni rupa modern memerlukan prasarana: sekolah, museum, galeri, kritikus, publikasi, dan pasar yang saling berinteraksi.” Tanpa prasarana yang saling berinteraksi itu, yang ada hanya pameran demi pameran.[13]

Jim Supangkat bahkan lebih keras lagi: “Kampus seni di Indonesia sering terjebak menjadi sekolah keterampilan, bukan sekolah pemikiran.” Inilah yang terjadi di Unesa. Ia menjadi sekolah keterampilan menggambar, bukan sekolah pemikiran yang melahirkan kurator, kritikus, manajer seni, dan penulis. Padahal di era seni rupa kontemporer saat ini, batas antara seni murni dan seni terapan sudah melebur.[14]

Bandingkan dengan yang terjadi di Yogyakarta. ISI Jogja tidak hanya melahirkan pelukis, tetapi melahirkan sistem: ada Cemeti, ada Biennale Jogja, ada Jogja National Museum, ada ratusan studio yang terhubung dengan ekonomi desa. Seperti yang dicatat oleh Mikke Susanto, “Ekosistem Jogja bekerja karena kampus tidak mengambil jarak dengan pasar dan kampung, ia melebur.”[15]

Apa yang Perlu Dilakukan Unesa: Tiga Mandat

Dengan momentum adanya ARTSUBS, Unesa mestinya bisa mengambil peran ini. Tetapi, itu kalau Unesa bisa berpikir taktis sekaligus praktis dan filosofis.

Mandat pertama adalah mandat wacana. Unesa harus berhenti menjadi tukang stempel wisuda dan kembali menjadi laboratorium. Ia harus punya jurnal kritik seni rupa Surabaya yang cerdas, bukan jurnal formalitas angka kredit. Ia harus menghidupkan kembali tradisi Aksera: diskusi yang tajam, bukan seremonial.

Seperti kata Arthur Danto, “The end of art is the beginning of philosophy.” Akhir dari seni adalah awal dari filsafat.[16]

Tanpa filsafat, pameran hanya jadi pasar. Wakil Dekan I FBS Unesa, Prof Dr Anas Ahmadi, dalam pembukaan diskusi ARTSUBS 2026 mengatakan, ARTSUBS dapat menyegarkan ekosistem seni di Surabaya jika ia menaungi dunia pendidikan yang tidak hanya dari rumpun seni.[17]

Ini adalah pengakuan. bahwa kampus harus membuka diri.

Mandat kedua adalah mandat penghubung. DKS, Dewan Kebudayaan, Unesa, juga Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus bersinergi, tetapi perlu ada motor penggeraknya. Dulu di Jakarta ada Ali Sadikin yang dengan kekuasaannya sebagai gubernur mampu menggerakkan ekosistem melalui TIM. Di Jogja ada Kraton yang aktif menjaga. Surabaya tidak punya itu.

Maka, Unesa perlu menjadi motor itu. Ia mesti berani datang ke Pemkot Surabaya atau bahkan Pemprov Jatim dan berkata: kami punya riset, kami punya kurikulum, kami punya mahasiswa, ayo kita bikin galeri dan museum seni rupa yang represtatif, bukan hanya mal.

ARTSUBS butuh venue yang nggenah, yang suasananya dapat untuk workshop, bukan cuma venue temporer seperti saat ini. Seperti yang dikatakan Bagas Karunia Putra dalam diskusi DKS 3 Oktober 2026, “Surabaya adalah ruang pengalaman”, [18] materialnya bisa dari pasar loak, dari ingatan Balai Pemuda, dari Aksera. Tetapi, pengalaman itu butuh ruang permanen, bukan hanya event.

Mandat ketiga adalah mandat ekonomi kreatif yang jujur. Selama ini kawan-kawan berpikir ekosistem terbangun kalau orang bisa mencari makan lewat seni. Itu benar, tetapi tidak bisa dibalik: tidak ada ekosistem karena tidak ada yang bisa makan dari seni. Ekosistem harus dibangun dulu, baru orang bisa makan.

Seperti dikatakan Yasraf Amir Piliang, “Ekosistem seni kontemporer adalah ekonomi tanda, bukan hanya ekonomi benda.”[19] Ekonomi tanda itu butuh kurator, butuh penulis, butuh desainer komunikasi, butuh manajer pameran. Itu semua adalah pekerjaan yang bisa diciptakan Unesa jika ia mau meluaskan perannya.

Saat ini Surabaya cuma tumbuh menjadi kota besar dengan event-event besar yang datang dan pergi, seperti “pasar malam”. Ramai sebentar, lalu tidak ada diskursus yang menghasilkan wacana yang penting untuk perkembangan seni rupa Indonesia.

Jika situasinya terus begini, kita akan terus melihat seniman-seniman muda kita yang serius harus hijrah ke Jogja untuk bisa hidup. Sementara di Surabaya hanya tersisa komunitas-komunitas “pulau” yang saling tidak terhubung dan berinteraksi secara progresif.

Surabaya membutuhkan ekosistem seni rupa yang sehat. Dan, lembaga yang hari ini punya sejarah, punya SDM, dan punya legitimasi untuk memulai itu, salah satunya adalah Unesa. Jangan sampai mlempemnya ekosistem seni rupa Surabaya setelah generasi Aksera akan menjadi seperti mlempemnya krupuk puli yang disiram bumbu kacang semanggi Suroboyo. [*]

Gresik, 6 Oktober 2026

*) Arik S. Wartono, Pendiri Sanggar DAUN, alumni UNESA angkatan 1993, tinggal di Gresik.


CATATAN KAKI:

[1] Hamid Nabhan, “Roh AKSERA yang Tetap Menggema“, Metro Global News, 23 Februari 2024. AKSERA didirikan 1967 oleh Gatot Kusumo, Krishna Mustadjab, M. Ruslan, Amang Rahman, D. Subali, M. Daryono, Suhardi, dan Thea Kusumo. Angkatan pertama 105 orang, hanya bertahan enam angkatan hingga 1972.

[2] Ibid., tentang peran Gatot Kusumo sebagai pengajar Filsafat Seni, tokoh Partai Sosialis Indonesia dan budayawan, serta kontribusinya sebagai Seksi Penerangan PON VII 1969 di Surabaya dalam pembuatan poster, spanduk dan baliho.

[3] http://Wirafokus.com, “PINTU AKSERA KEMBALI TERBUKA UNTUK EKSISTENSI SENI RUPA“, 2018, tentang karakter pendidikan AKSERA yang formal namun liar secara wacana dan para jebolannya seperti Thalib Prasojo, Hardi, Dwijo Sukatmo, Nunung WS, Nuzurlis Koto, Makhfoed.

[4] Unesa, “Sejarah Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya (PUI-SB)”, http://senibudaya.unesa.ac.id, diakses 6 Oktober 2026. Akar sejarah dapat ditelusuri ke tahun 1980-an ketika masih bernama IKIP Surabaya, Jurusan Seni Rupa dan Seni Tari telah berdiri.

[5] Ibid., Transformasi Pusat Seni dan Budaya di bawah LPPM 2019 menjadi Pusat Unggulan IPTEK Art Ecosystem Development (ARCON) 2022 dan menjadi PUI-PT Pendidikan Seni atau Arts Education Center of Excellence (AECE) / PUI-SB 2023, sejalan dengan status PTN-BH UNESA berdasarkan PP No. 37 Tahun 2022.

[6] http://BeritaTrends.co.id, “Surabaya Masih Di Pinggir Medan Seni Rupa Indonesia?”, 14 September 2026. Diskusi Publik ArtSubs di Auditorium T14 Lantai 4 FBS Unesa Kampus Lidah Wetan, pernyataan Prof Dr Djuli Djatiprambudi.

[7] http://RadarJatim.id, “Surabaya Simpul Percakapan Seni Kontemporer“, 2026, pernyataan kurator Nirwan Dewanto: “Surabaya tidak cukup hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran seni rupa… Surabaya perlu membangun ekosistem dan peristiwa seninya sendiri.”

[8] Herbert Read, Education Through Art (London: Faber and Faber, 1943), hlm. 12.

[9] Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 1970), hlm. 72.

[10] http://Seni.co.id, “ARTSUBS Menembus Batas, Surabaya Menggugat Peta Seni Indonesia“, 2026, pernyataan Prof Djuli Djatiprambudi: “ekosistem seni rupa masih kekurangan peneliti dan pengkaji yang mampu mendokumentasikan serta mengembangkan pengetahuan dari berbagai peristiwa seni” dan fungsi art event sebagai ruang validasi.

[11] Pierre Bourdieu, The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature (New York: Columbia University Press, 1993), hlm. 30.

[12] Djuli Djatiprambudi, wawancara dalam “Kritik Seni Rupa di Surabaya Masih Lemah“, Jawa Pos, 12 Maret 2023, dan diskusi publik di Galeri DKS Surabaya, 4 Oktober 2026.

[13] Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Yayasan Seni Rupa Indonesia, 2001), hlm. 45.

[14] Jim Supangkat, Kritik Seni Rupa Indonesia: Sebuah Alur Sejarah (Bandung: Penerbit ITB, 2005), hlm. 112.

[15] Mikke Susanto, Membaca Seni Rupa Kontemporer: Ekosistem dan Pasar (Yogyakarta: Pascasarjana ISI Yogyakarta, 2018), hlm. 78.

[16] Arthur C. Danto, After the End of Art: Contemporary Art and the Pale of History (Princeton: Princeton University Press, 1997), hlm. 28.

[17] http://Seni.co.id, Ibid., pernyataan Wakil Dekan I FBS Unesa Prof Dr Anas Ahmadi tentang ARTSUBS sebagai wadah seni kontemporer yang dapat menaungi dunia pendidikan.

[18] http://Monwnews.com, “Enklave Seni Tumbuh Di Surabaya, Ekosistem Kesenian Harus Diperkuat“, 3 Oktober 2026, Diskusi DKS menghadirkan Bagas Karunia Putra dengan tema “Surabaya adalah ruang pengalaman”.

[19] Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme (Bandung: Matahari, 2004), hlm. 201.

Tags: AkseraIlusi EventMatinya EkosistemUnesa

Related Posts

Perluas Akses Kuliah S2, Unesa Sosialisasikan Program PJJ di Pesantren Nurul Akbar Ponorogo

Perluas Akses Kuliah S2, Unesa Sosialisasikan Program PJJ di Pesantren Nurul Akbar Ponorogo

by Radar Jatim
26 September 2026
0

PONOROGO (RadarJatim.id) -- Tak harus...

Dosen Unesa dan Unipda Tingkatkan Kompetensi Guru SDIT Madani Sidoarjo  Berbasis AI

Dosen Unesa dan Unipda Tingkatkan Kompetensi Guru SDIT Madani Sidoarjo  Berbasis AI

by Radar Jatim
23 September 2026
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) — Dalam upaya...

AICoMS 3 Angkat Kearifan Lokal sebagai Kunci Pembangunan Berkelanjutan

AICoMS 3 Angkat Kearifan Lokal sebagai Kunci Pembangunan Berkelanjutan

by Radar Jatim
20 September 2026
0

SURABAYA (RadarJatim.id) -- The 3rd...

Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In