SIDOARJO (RadarJatim.id) — Sekolah Dasar Islam Kreatif (SDIK) Mutiara Anak Sholeh, Pekarungan Sukodono Sidoarjo sukses menggelar terima kunjungan dan studi bersama dalam program Grant Australia Indonesia For Selected Bridge School.
Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan, manajer bisnis, serta tenaga pendidik dari sekolah mitra asal Australia, yaitu Franklin Primary School, Tasmania, yaitu Mr James Milne, Principal Franklin Primary School, Mel and Declan.
Termasuk juga Business Manager Franklin Primary School Ms Ella Heather, Teacher of Franklin Primary School.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026 ini bertempat di kompleks SDIK Mutiara Anak Sholeh, Sidoarjo.
Acara ini dirancang untuk memberikan wawasan baru (insight) bagi pihak sekolah mitra terkait lanskap dan sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sidoarjo.
Dalam kesempatan tersebut, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo yang diwakili oleh Kepala Bidang Mutu Pendidikan, Dr. Lilik Sulistyowati, M.Pd., untuk hadir dan memberikan pemaparan.
Ia dijadwalkan untuk menjelaskan peran aktif pemerintah daerah dalam pengelolaan mutu pendidikan, pengenalan kurikulum lokal yang mencerminkan kearifan budaya daerah, serta upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Sidoarjo.
Diskusi interaktif juga mewarnai jalannya acara, di mana kedua belah pihak saling bertukar pengalaman mengenai sistem pendidikan, metode asesmen siswa, hingga penerapan pendidikan inklusif di sekolah.
“Melalui kegiatan bridge school ini, diharapkan hubungan bilateral dan kerja sama antarsekolah di tingkat internasional dapat terus terjalin erat demi kemajuan mutu pendidikan di masa depan,” harap Kepala SKIK Mutiara Anak Sholeh Sidoarjo Sifa Fauziah Permatasari, S.Pd.
Ia jelaskan kalau sekolahnya telah terpilih sebagai Bridge School (Australia-Indonesia Bridge) pada tahun 2024. Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses seleksi ketat yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan melalui program kemitraan antarnegara.

Sifa Fauziah juga menjelaskan bahwa keikutsertaan ini bermula dari penunjukkan dan pendaftaran program kemitraan Australia-Indonesia Bridge pada tahun 2024.
Sejak saat itu, sekolah harus melewati berbagai tahapan seleksi yang cukup panjang dan kompetitif.
”Jadi sejak tahun 2024 kemudian seleksi-seleksi memang cukup banyak, ada seleksi tulisnya, kemudian wawancara, psikologi bahkan, kemudian akhirnya alhamdulillah sekolah kami terpilih di 2024 sebagai Bridge School,” jelasnya.
Melalui pencapaian ini, sekolah diharapkan mampu memperluas jejaring internasional serta meningkatkan kualitas mutu pendidikan melalui kolaborasi global dalam program Bridge.(mad)








