TRENGGALEK (RadarJatim.id) – Setiap Sabtu, halaman SDN 2 Karangrejo di Jalan Manik Oro RT 23 RW 07, Dusun Ngasem, Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak, Trenggalek dipenuhi lantunan seni hadrah. Tiga tim yang masing-masing beranggotakan 15 siswa berlatih secara bergantian.
Hasilnya, sekolah ini juara 1 festival hadrah tingkat kecamatan tiga tahun berturut-turut. Bahkan, pada 2024 menembus 10 besar tingkat Provinsi Jawa Timur. Akhir Oktober ini, mereka kembali turun ke festival tingkat kecamatan untuk mempertahankan gelar.
Dari Ekskul Baru ke Langganan Juara
Ekstrakurikuler Hadrah dibentuk pada 2022 dan grupnya diberi nama Hadrah Al-Mawaddah. Setahun setelah berdiri, grup ini mengikuti festival untuk kali pertama. Seiring waktu, pola pembinaannya pun terus berkembang.
“Awalnya hadrah dilatih langsung oleh Ibu Fitri Nurfika, SPdI, guru PAI yang sekaligus sebagai Pembina. Sekarang kami sudah punya pelatih khusus, Pak Puji Hanzyah dan Pak Muhammad Bahkrul Ngulum. Beliau kami rekrut setelah meminta rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek,” ujar Kepala SDN 2 Karangrejo, Sumiatin, SPd, Kamis (15/10/2026).
Secara teknis, kepala sekolah tidak ikut turun langsung melatih grup hadrah tersebut. Perannya adalah memberikan kepercayaan kepada pembina dan terus memotivasi agar Al-Mawaddah terus berkembang. Selain itu, Sumiatin terus memantau, berkoordinasi, dan bersinergi demi kemajuan grup hadrah kebanggaannya. Pendekatan inilah yang dinilai menarik jika dilihat dengan teori kepemimpinan Path-Goal.
Teori Path-Goal dicetuskan Evans (1970) dan dikembangkan House (1971). Teori ini memandang pemimpin berhasil apabila ia membantu anggotanya menemukan jalan menuju tujuan: memperjelas arah, menyingkirkan hambatan, dan menumbuhkan motivasi. Gaya memimpinnya pun menyesuaikan kebutuhan anggota.
Dalam kasus ini, terdapat tiga hal penting. Pertama, jalan yang jelas. Anggota hadrah dibagi menjadi tiga tim. Tim 3 adalah tim inti yang diplot untuk tampil di festival. Sedangkan tim 1 dan 2 menjadi tim regenerasi. Siswa dinyatakan naik ke tim inti ketika sudah dinilai potensial dengan penilaian pembina yang berkoordinasi bersama pelatih. Festival sendiri punya aturan yang jelas: ada lagu wajib dan lagu bebas berbahasa Arab, dengan durasi 12 menit. Kelebihan waktu akan mengurangi skor.
Kedua, hambatan disingkirkan satu per satu, terutama soal dana. Saat tampil di tingkat provinsi pada 2024, biaya berasal dari patungan wali murid dan sekolah. Sejak 2025, kegiatan yang berkaitan dengan lomba dianggarkan melalui dana BOS. Sementara sejak 2026 sekolah juga mulai menganggarkan honor pelatih melalui dana BOS. Kostum tahun ini pun juga dianggarkan dari dana BOS.
Ketiga, dukungan yang menumbuhkan semangat. Wali murid memberikan respons sangat positif terhadap perkembangan grup hadrah ini. Apalagi hasilnya sudah terbukti. Menjelang festival tahun ini, sebelum dipastikan bahwa kostum disediakan sekolah, mereka lebih dulu menanyakan soal kostum agar bisa mempersiapkan diri, bahkan siap membelinya sendiri.

Grup Hadrah Al-Mawaddah pada saat berlatih. (Dok SDN 2 Karangrejo Trenggalek.
Ketika ditanya apakah festival tingkat kecamatan kali ini menargetkan mempertahankan gelar, dengan tenang dan mantab, Sumiatin optimitis, bahwa gelar juara kembali diraihnya.
“Kami optimis bisa mempertahankan juara yang sudah tiga tahun ini kami pegang. Tapi, kalau seandainya tidak menang, tidak apa-apa. Prinsip saya, yang penting anak-anak sudah tampil dengan maksimal,” ujarnya.
Keberhasilan Al-Mawaddah tidak lepas dari lingkungan masyarakat. Hal itu karena sebagian siswa anggota grup hadrah ini juga telah sudah bergabung di kelompok hadrah di luar sekolah. Dengan demikian, menurut pihak sekolah, siswa telah memiliki modal dalam mengembangkan bakat, sehingga sekolah tinggal memolesnya.
Kisah sukses SDN 2 Karangrejo ini menunjukkan, bahwa prestasi ekstrakurikuler tidak hanya bergantung pada bakat siswa, tetapi juga pada pemimpin yang membuka jalan: menjelaskan arah, mencari jalan keluar atas hambatan, dan memberi ruang bagi pembina bekerja. Festival tingkat kecamatan akhir bulan ini akan menjadi ujian berikutnya. (sha)
Kontributor: Dyah Dinu Azizah, Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar – Universitas Negeri Surabaya (Unesa).





