KEDIRI (RadarJatim.id) – Anggota Komisi VIII DPR RI, KH An’im Falachuddin Mahrus, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri memperkuat pendidikan agama sejak jenjang sekolah dasar (SD). Salah satunya, mendorong kemampuan membaca Al Quran bagi siswa sebelum melanjutkan ke jenjang SMP.
Gus An’im, sapaan akrabnya, menilai, Pemkab Kediri dapat mempelajari kebijakan daerah lain, seperti Bojonegoro yang disebutnya mendorong siswa lulusan SD memiliki hafalan Juz Amma. Menurut dia, kebijakan semacam itu dapat menjadi pemicu bagi anak-anak untuk lebih giat belajar membaca Al Quran sejak dini.
“Kita bisa mencontoh seperti di Bojonegoro, bahwa mereka yang tamat SD harus minimal punya hafalan Juz Amma. Itu kan sangat bagus sekali, membuat semangat anak-anak SD ini untuk belajar membaca Al Quran,” kata Gus An’im dalam Workshop Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kemenag Kabupaten Kediri, Jumat (16/10/2026).
Ia juga menyinggung kebijakan di Kabupaten Blitar yang, menurutnya, pernah menjalin kerja sama untuk mendorong kemampuan membaca Al Quran bagi siswa sebelum masuk SMP. Gus An’im berharap, Pemkab Kediri memiliki komitmen serupa agar kemampuan membaca Al Quran menjadi bagian dari perhatian bersama dalam membentuk karakter generasi muda.
Gus An’im menegaskan, pembentukan akhlak anak tidak bisa hanya dibebankan kepada guru agama, pesantren, maupun Kementerian Agama. Menurut dia, pemerintah daerah dan orang tua juga memiliki tanggung jawab dalam mendukung pendidikan agama sejak dini.
Ia menilai kesempatan anak mengikuti pendidikan keagamaan di luar sekolah perlu menjadi perhatian, termasuk ketika waktu belajar di sekolah memengaruhi kesempatan mereka mengikuti kegiatan madrasah pada sore hari. Karena itu, ia mengajak para pengambil kebijakan, mulai dari bupati, gubernur hingga wali kota, ikut mengambil peran dalam membangun karakter generasi muda.
Selain mendorong kebijakan pemerintah daerah, Gus An’im juga memberikan motivasi kepada para guru PAI yang menghadapi beragam tantangan saat mendidik siswa. Menurut dia, guru di sekolah negeri menghadapi kondisi yang beragam, karena siswa berasal dari latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda-beda. Situasi tersebut membutuhkan kesabaran dan kesungguhan lebih dalam membentuk karakter anak.
“Semakin dia mengalami banyak kendala, kesulitan, dan dihadapi dengan sabar kemudian berhasil, itu nilainya lebih tinggi,” tuturnya.
Ia berharap para guru tetap tekun menjalankan tugas pendidikan meskipun hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung. Bagi Gus An’im, pembentukan akhlak merupakan ikhtiar bersama yang membutuhkan dukungan dari keluarga, sekolah, dan pemerintah. (rul)







