SIDOARJO (RadarJatim.id) — Prestasi luar biasa berhasil diukir oleh para siswa SMA Negeri 3 Sidoarjo pada ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Nasional 2026, yang diselenggarakan pada 12–17 Oktober 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali.
Ajang kompetisi tingkat nasional tersebut, SMA Negeri 3 Sidoarjo mengirimkan empat tim terbaiknya. Hasilnya sangat membanggakan, di mana seluruh tim berhasil membawa pulang medali. Total empat medali diraih, yang terdiri dari 2 medali emas dan 2 medali perak. Sehingga SMA Negeri 3 Sidoarjo ditetapkan sebagai juara umum, juga membawa nama Jawa Timur Juara Umum 2026
Capaian ini membawa suasana haru, bangga, dan lega bagi seluruh kontingen. Luapan tersebut diungkapkan guru pendamping, Deni Ainur Rokhim, S.Pd M.Pd dan Elfandari Anindito, S.Pd yang merasa bangganya atas peningkatan prestasi yang diraih para siswa dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu kami mengirimkan dua tim, hasilnya satu tim meraih juara dan satu tim lainnya belum berhasil, yang membuat perasaan masih ganjal. Namun tahun ini, dari empat tim yang kami kirimkan, keempat-empatnya berhasil meraih medali. Ini sungguh sangat membanggakan,” ungkap Pak Deni_sapaan akrabnya bersama guru.
Adapun tim yang meraih juara satu atau peraih medali emas adalah Tim Avatar (Muhammad Nadhif Firdaus Al farizi dan Ricky Novantino), Tim KAMBEK (Hafizhah Herlambang dan Nabil Rezky Zunnur Ain Krida). Tim juara dua atau peraih medali perak, Tim TriSieg (Nadia Jazilatur Rahmah dan Rida Talita Yasmin Alkatiri) dan Tim HARMONI (Ach Fachri Anditansyah dan Muhammad Radiftya Nur Sayyid).

Atas keberhasilan tersebut, Kepala SMA Negeri 3 Sidoarjo Wiwik Tri Ernawati, S.Sos M.H langsung memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya, usai pelaksanaan Apel Pagi Senin 19 Oktober 2026.
“Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari kerja keras, inovasi, dan semangat kewirausahaan para siswa kami terus berkembang pesat di kancah nasional. Saya harapkan bisa memotivasi teman-teman yang lainnya,” harap Bu Wiwik_sapaan akrabnya.
Usai mendapatkan apresiasi dari kepala sekolah, Hafizhah dan rekan setimnya, Zunnur mengaku berhasil meraih Juara 1 Medali Emas di bidang Pariwisata dan Budaya. Prestasi ini diraih berkat riset dan program inovatif yang mereka kembangkan untuk mengangkat potensi di Desa Kebonsari Candi.
Ia jelaskan, kalau program ini berawal dari latar belakang permasalahan ekonomi dan sosial yang ada di Desa Kebonsari, yang kami nilai masih memiliki potensi sangat besar sebagai tempat pariwisata, guna mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.
Konsep yang kami temukan adalah ‘3-in-1’ yaitu mengintegrasikan tiga sektor utama, ekonomi, edukasi, dan lingkungan melalui aplikasi digital bernama Si Bebek Punya, dan dapat diakses melalui situs sibebekpunya.com.
“Aplikasi ini menawarkan paket wisata serta memasarkan produk-produk lokal khas Desa Kebonsari. Berbagai produk unggulan yang ditawarkan meliputi beragam varian telur asin, keripik, serta melibatkan sekitar 15 hingga 16 pengusaha telur bebek lokal,” jelasnya.
“Alhamdulillah respon masyarakat cukup bai, program ini telah diterapkan sejak bulan Januari dan menunjukkan hasil yang sangat positif. Peningkatan jumlah pengunjung sekitar 20% dibandingkan dengan kondisi sebelum program ini diterapkan,” jelas Hafizhah.
Sementara itu Nadhif dan Ricky yang juga berhasil meraih juara pertama (medali emas) dalam kategori pengembangan usaha Teknologi Digital tahun 2026. Prestasi ini diraih berkat inovasi alat pemantau kesehatan tanaman hidroponik yang dinamai ‘Cakmoji’.
Inovasi ini dilatarbelakangi oleh permasalahan keterbatasan literasi digital di kalangan petani urban saat ini. Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara langsung yang dilakukan, tantangan terbesar bagi petani hidroponik adalah kesulitan dalam memantau secara berkala apakah kadar nutrisi tanaman mereka sudah dalam kondisi baik.
Menjawab masalah tersebut, Nadhif dan tim mengembangkan alat terintegrasi yang menggabungkan parameter nutrisi dan fisik tanaman ke dalam satu ekosistem aplikasi gawai (smartphone). Dengan sistem ini, petani tidak perlu lagi datang langsung ke greenhouse, melainkan cukup membuka aplikasi untuk mengetahui kondisi kesehatan tanaman mereka secara real-time.
“Jadi, alat pemantau ini menggunakan dua parameter utama, yaitu parameter nutrisi, memanfaatkan empat sensor yang bekerja secara otomatis dan real-time saat alat dinyalakan, yang langsung dimasukkan ke dalam air nutrisi hidroponik (dipusatkan dalam satu tandon),” jelasnya.
Lanjutnya, dan Parameter Citra/Fisik, menggunakan media kamera webcam untuk memantau dan merekam kondisi daun tanaman, guna mendeteksi ada atau tidaknya gejala penyakit maupun hama yang menyerang.

“Kedua parameter tersebut kemudian memproses data masing-masing untuk menghasilkan satu kesimpulan akhir berupa visual, yang menyatakan kondisi tanaman apakah berada dalam keadaan baik, sehat, atau normal,” jelasn Nadhif.
Alat ini telah melalui berbagai uji coba lapangan di beberapa wilayah seperti Bluru, Surabaya, dan Durungbeduk dengan menggunakan tanaman uji coba spesifik berupa selada, meskipun alat ini dapat diterapkan untuk semua jenis tanaman hidroponik.
“Selain itu, inovasi ini telah divalidasi oleh para ahli, di antaranya Kepala Gedung Robotika ITS sekaligus dosen Teknik Elektro Dr. Rudy Dikairono, S.T., M.T., Dr. Suwito, S.T., serta pihak kepala dinas terkait,” ungkap Nadhif.(mad)








