SURABAYA (RadarJatim.id) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melaksanakan pemetaan sosial di Kelurahan Dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, sebagai upaya memperkuat implementasi Kampung Pancasila sekaligus mendukung pembangunan sosial-ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, ITS mendorong pemanfaatan data sosial sebagai landasan penyusunan program pemberdayaan masyarakat yang lebih tepat sasaran.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui skema Abmas Kampung Pancasila Dana ITS Tahun 2026 tersebut diketuai oleh Alfi Rohmatul Hidayah, SIKom, MMedKom, dosen Departemen Studi Pembangunan ITS, bersama tim dosen lintas disiplin dan mahasiswa Program Studi Sains Komunikasi.
Menurut Alfi, Kelurahan Dr Soetomo dipilih karena memiliki keberagaman sosial, budaya, dan agama yang menjadi modal penting dalam pengembangan Kampung Pancasila. Namun, keberagaman tersebut juga diiringi sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan tingkat partisipasi masyarakat, pengembangan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pemerataan akses terhadap fasilitas dan pelayanan sosial.
Untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, tim ITS melaksanakan survei terhadap 150 warga yang tersebar di 14 Rukun Warga (RW). Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, serta pemetaan partisipatif.
“Kegiatan lapangan berlangsung pada Juli 2026 dan dilanjutkan dengan pengolahan serta analisis data hingga September 2026,” ujar Alfi, Senin (19/10/2026).
Berbeda dari pendataan sosial konvensional, jelas Alfi, pemetaan ini menggunakan lima sila Pancasila sebagai kerangka untuk memahami kondisi sosial masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan tim mengidentifikasi tidak hanya persoalan ekonomi dan fasilitas publik, tetapi juga dinamika partisipasi, solidaritas, interaksi sosial, serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan warga.
Perbedaan Karakteristik Sosial Antarwilayah
Hasil pemetaan menunjukkan, bahwa masyarakat Kelurahan Dr Soetomo memiliki potensi sosial yang cukup baik, terutama melalui keberadaan kegiatan gotong royong, organisasi kemasyarakatan, dan aktivitas ekonomi lokal. Meski demikian, juga ditemukan perbedaan karakteristik sosial antara kelompok wilayah RW 01–07 dan RW 08–14.
Warga di RW 01–07, lanjutnya, secara umum menunjukkan kecenderungan lebih aktif dalam bersosialisasi, berpartisipasi, dan melaksanakan kegiatan gotong royong dibandingkan dengan kelompok wilayah RW 08–14. Temuan tersebut memperlihatkan, bahwa kebutuhan dan tantangan pemberdayaan masyarakat tidak selalu sama, meskipun berada dalam satu wilayah kelurahan.
Selain itu, hasil analisis prioritas menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) mengidentifikasi tiga persoalan utama yang perlu mendapatkan perhatian. Ketiganya, yakni partisipasi warga dalam musyawarah dengan bobot prioritas 0,40, penguatan kapasitas dan akses permodalan UMKM sebesar 0,33, serta pemerataan fasilitas umum dan pelayanan sosial sebesar 0,27.
Temuan ini, kataya, menjadi penting karena memperlihatkan perlunya strategi pembangunan yang mempertimbangkan karakteristik setiap wilayah, bukan sekadar menerapkan program yang seragam bagi seluruh masyarakat.
Dorong Pemberdayaan Masyarakat
Berdasarkan hasil pemetaan, tim ITS merumuskan enam rekomendasi program penguatan Kampung Pancasila. Rekomendasi tersebut mencakup peningkatan forum musyawarah dan dialog lintas RT/RW, penguatan kegiatan lintas agama dan budaya, pelatihan keterampilan usaha berbasis potensi lokal, peningkatan literasi manajemen keuangan UMKM, pembentukan kelompok usaha bersama, serta penguatan sistem pendataan sosial kelurahan.
Rekomendasi tersebut dirancang untuk memanfaatkan potensi kelembagaan lokal seperti PKK, Karang Taruna, pengurus RT/RW, dan kelompok UMKM. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, upaya pemberdayaan diharapkan tidak hanya bergantung pada intervensi dari luar, tetapi juga dapat dikembangkan secara mandiri oleh komunitas.
Hasil pemetaan juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan ini turut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Sains Komunikasi ITS, yakni Mayla Nazwa Putri Aisyah, Anisaista Binar Hadiarti, dan Gadiza Hikmatul Azizah. Ketiganya berpartisipasi dalam proses pengumpulan data, wawancara dengan masyarakat, observasi lingkungan, dokumentasi kegiatan, hingga pengolahan hasil pemetaan. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman yang mempertemukan kompetensi akademik mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat.
Selain mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan dosen dari Departemen Statistika Bisnis dan Departemen Kimia ITS. Kolaborasi lintas disiplin tersebut mendukung pengintegrasian pendekatan sosial, komunikasi, dan analisis data dalam merumuskan rekomendasi pemberdayaan masyarakat.
Sebagai luaran (output), tim telah menyusun dokumen profil dan pemetaan sosial Kelurahan Dr Soetomo beserta rekomendasi penguatan Kampung Pancasila. Hasil kegiatan juga telah dipublikasikan melalui artikel ilmiah pengabdian kepada masyarakat pada September 2026.
Ke depan, tambah Alfi, dokumen pemetaan sosial diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah kelurahan dan pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan, mengembangkan potensi ekonomi warga, dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Melalui kegiatan ini, ITS menegaskan kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi pembangunan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Penguatan Kampung Pancasila diharapkan tidak berhenti pada penguatan nilai kebangsaan, tetapi juga diwujudkan melalui tata kelola pembangunan yang partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan. (sha)







