KEDIRI (RadarJatim.id) – Sebanyak 1.063 siswa MTsN 7 Kediri mengikuti apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Kamis (22/10/2026). Mengusung tagline “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran santri melalui pendidikan agama, pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan kepedulian sosial.
Kepala MTsN 7 Kediri, Ifa Hidayah, mengatakan, peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga pengingat pentingnya membekali generasi muda dengan keimanan, akhlak, dan kemampuan menghadapi tantangan masa depan.
Kegiatan tersebut meliputi pengibaran bendera, penyampaian amanat, menyanyikan lagu Yalal Wathon dan Mars Hari Santri, serta penampilan seni siswa.
“Hal yang kami tekankan adalah bagaimana menguatkan keimanan, ibadah, dan akhlak anak-anak, sekaligus membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan karakter yang baik,” kata Ifa.
Rangkaian peringatan HSN di MTsN 7 Kediri berlanjut pada Jumat (23/10/2026) melalui sejumlah perlombaan yang diintegrasikan dengan peringatan Bulan Bahasa. Kegiatan yang disiapkan antara lain musikalisasi puisi, fashion show santri, serta membaca buku bersama melalui program Baca Buku Bareng Santri.
Menurut Ifa, kegiatan tersebut menjadi upaya madrasah untuk mengembangkan kreativitas dan membiasakan siswa berliterasi. Kemampuan membaca, memahami informasi, dan mengekspresikan gagasan dinilai penting dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas.
Selain itu, madrasah mengadakan bakti sosial dengan melibatkan seluruh kelas. Setiap kelas diminta mengumpulkan bahan kebutuhan pokok untuk disusun menjadi 10 paket sembako yang nantinya dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ifa menjelaskan, semangat “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” perlu diwujudkan melalui pembiasaan positif dan pendidikan yang berkelanjutan.
MTsN 7 Kediri memiliki sejumlah program pembiasaan keagamaan, di antaranya bina tahsin dan tahfiz Al Quran (BTQ) bagi siswa kelas VII, shalat berjamaah, serta kegiatan mengaji Al Quran sebelum pembelajaran dimulai. Madrasah juga menggelar pengajian Sabtu pagi yang biasanya dilaksanakan sebulan sekali dengan melibatkan wali murid.
Kegiatan ini menjadi sarana memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun komunikasi antara madrasah dan orang tua.
“Kami tidak hanya fokus kepada siswa dan bapak ibu guru, tetapi juga mengajak wali murid untuk menanamkan nilai religius dan mendukung program-program madrasah,” ujar Ifa.
Selain pendidikan agama, madrasah menanamkan pendidikan karakter melalui pembelajaran, pembinaan Bimbingan dan Konseling (BK), serta program Madrasah Ramah Anak. Siswa dibiasakan menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, menghargai orang lain, dan menghindari perundungan. Pembiasaan ini diharapkan membentuk pribadi santri yang santun, toleran, dan memiliki rasa cinta tanah air.
Di bidang akademik, madrasah menyediakan bimbingan belajar tambahan, pembinaan olimpiade, dan bimbingan riset untuk mengembangkan kemampuan siswa sesuai minat dan bakat masing-masing.
Ifa berharap, para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya kuat dalam nilai keagamaan, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, berkarakter baik, dan mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Semangat Hari Santri, menurut dia, harus tercermin dalam tindakan nyata, mulai dari lingkungan madrasah hingga masyarakat. Dengan bekal iman, ilmu, dan akhlak, santri diharapkan mampu mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Emas. (rul)








