SURABAYA (RadarJatim.id) – Jarak geografis dan keterbatasan akses bukan alasan untuk berhenti belajar. Semangat itulah yang ditunjukkan Jemmy Banunaek, SPd Gr, seorang guru kelas VI UPTD SD Inpres Tolama, Kecamatan Loaholu, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.
Di tengah pengabdiannya sebagai pendidik di wilayah terluar Indonesia, Jemmy tetap berupaya mewujudkan mimpi yang telah disimpannya sejak menyelesaikan pendidikan S1, yakni melanjutkan studi ke jenjang magister di S2 Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Dasar (Pendas) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Melalui program PJJ S2 Pendas Unesa, Jemmy berusaha memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi akademiknya. Baginya, melanjutkan pendidikan bukan semata-mata untuk memeroleh gelar, melainkan sebagai bekal untuk memberikan kontribusi lebih besar bagi kemajuan pendidikan di Kabupaten Rote Ndao.
“Mimpi saya untuk melanjutkan studi S2 sudah ada sejak selesai S1. Saya ingin mendalami pendidikan di jenjang magister agar memiliki wawasan yang lebih luas dalam melihat persoalan dan perkembangan pendidikan”, ungkapnya saat dihubungi via Whatsapp pada Jumat (30/10/2026).
Keinginan tersebut juga dilatarbelakangi oleh kebutuhan pendidikan di daerahnya. Jemmy melihat, bahwa keberadaan guru sekolah dasar dengan kualifikasi magister yang linear di bidang Pendidikan Dasar masih sangat terbatas. Kondisi ini mendorongnya untuk mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan kompetensi diri.
Selain mengajar, Jemmy juga dipercaya sebagai Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Oebole dan menjadi penggerak Komunitas Guru Rote Belajar. Peran tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya peningkatan kapasitas guru, bukan hanya untuk pengembangan diri, tetapi juga untuk mendorong tumbuhnya budaya belajar di lingkungan pendidikan.
Pilihan melanjutkan studi di Unesa bukan tanpa pertimbangan. Menurut Jemmy, Unesa memiliki akreditasi Unggul, menyediakan program S2 PJJ Pendidikan Dasar yang sesuai dengan profesinya, serta didukung tenaga pengajar yang kompeten dan Learning Management System (LMS) yang dinilai sangat baik.
Perjalanan mengikuti perkuliahan PJJ tentu tidak selalu berjalan mulus. Jemmy harus menyesuaikan diri dengan jadwal perkuliahan yang menggunakan waktu Indonesia Barat (WIB), sementara ia tinggal di wilayah Nusa Tenggara Timur yang menggunakan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Perbedaan waktu tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dikelolanya di tengah tanggung jawab sebagai guru.
Baginya, kendala teknis bukan alasan untuk menghentikan langkah yang telah lama menjadi impian. Kesempatan menempuh pendidikan magister merupakan sesuatu yang ingin dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin.
Hal lain yang menarik perhatiannya adalah integrasi materi perkuliahan yang menghubungkan kearifan lokal dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan di daerah karena ilmu yang diperoleh dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Setelah menyelesaikan studi, Jemmy berharap dapat menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam pembelajaran di kelas maupun dalam kegiatan komunitas belajar guru. Ia juga ingin mengambil bagian dalam mendukung pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, untuk membangun pendidikan yang berorientasi pada kearifan lokal.
Tidak berhenti di situ, ia berharap ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam merancang program pendidikan yang inklusif, adaptif, dan selaras dengan perkembangan zaman.
Bagi Jemmy, kesempatan menempuh pendidikan magister merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pendidik untuk terus bertumbuh. Sebab, peningkatan kualitas pendidikan di daerah tidak hanya membutuhkan kebijakan dan fasilitas, tetapi juga guru-guru yang memiliki kemauan untuk terus belajar dan berbagi.
Dari ruang kelas di Tolama, Rote Ndao, Jemmy membawa sebuah harapan: ilmu yang diperolehnya kelak tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi dapat kembali kepada sekolah, komunitas guru, dan masyarakat di daerah yang menjadi tempat pengabdiannya. (eli/sha)








