SURABAYA (RadarJatim.id) — Mahasiswa S2 Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Dasar (Pendas) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tidak hanya memelajari teori pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tetapi juga langsung mempraktikkannya untuk menyusun modul ajar berbasis Computational Thinking (CT) dan Higher Order Thinking Skills (HOTS) level C4.
Praktik tersebut berlangsung dalam perkuliahan mata kuliah Penggunaan AI dan Coding di Sekolah Dasar pada Minggu (11/10/2026), pukul 13.00–15.30 WIB, secara daring melalui Google Meet. Perkuliahan diikuti 17 mahasiswa S2 PJJ Pendas Unesa dengan bimbingan dosen Dr Ika Rahmawati, SSi, MPd dan Dr Zainal Abidin, SPd, MPd.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa kelas A tersebut diajak menyusun prompt atau instruksi yang tepat agar AI dapat membantu menghasilkan modul ajar sesuai kebutuhan pembelajaran di sekolah dasar. Kegiatan ini menjadi pengalaman praktik bagi mahasiswa, yang sebagian besar merupakan guru dan perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan pendidikan abad ke-21.
Dr Ika Rahmawati menekankan, penggunaan AI untuk membuat modul ajar perlu disertai batasan yang jelas. Menurutnya, guru harus mampu mengarahkan AI agar materi yang dihasilkan tidak terlalu melebar dan tetap sesuai dengan konteks pembelajaran yang direncanakan.
“Boleh menggunakan AI untuk membuat modul ajar, tetapi prompt-nya harus diberi batasan agar pembahasan tidak terlalu melebar dan keluar dari konteks yang diinginkan,” jelasnya.
Ia kemudian memberikan waktu 10 menit kepada mahasiswa untuk menyusun prompt secara mandiri. Hasilnya dipresentasikan secara langsung, sehingga peserta dapat melihat bagaimana instruksi yang diberikan memengaruhi keluaran AI.
Sementara itu, Dr Zainal Abidin menjelaskan, prompt harus disesuaikan dengan tujuan dan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Semakin rinci instruksi yang diberikan, semakin spesifik pula hasil yang diharapkan.
“Prompt yang dimasukkan harus sesuai dengan pembelajaran yang akan disampaikan dalam modul ajar. Semakin detail prompt-nya, hasilnya akan semakin spesifik,” ungkap Zainal.
Menariknya, hasil modul ajar yang dibuat mahasiswa menunjukkan perbedaan meskipun dikerjakan dalam kegiatan yang sama. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh cara menyusun prompt, rekam jejak pengalaman menggunakan AI, serta platform AI yang dipilih.
Melalui praktik ini, mahasiswa diharapkan semakin terampil memanfaatkan AI secara kritis dan terarah. Teknologi tidak sekadar digunakan untuk mempercepat penyusunan perangkat pembelajaran, tapi juga perlu mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah pada siswa sekolah dasar. (sha)
Kontributor: Elisyah Susanty








