SUMENEP (RadarJatim.id) — Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Kabupaten Sumenep, Rasidi, tegas menepis isu miring yang menyebutkan, bahwa usulannya mengganti nama RSUD Abuya Kangean bertujuan untuk menghapus warisan atau jejak kepemimpinan mantan Bupati Sumenep, KH A. Busyro Karim.
Rasidi menjelaskan, wacana tersebut murni sebatas gagasan kultural untuk menghormati dan mengabadikan nama-nama besar raja serta tokoh historis Sumenep pada sejumlah fasilitas publik di daerah.
“Enggak ada lah. Mau dihapus pakai apa? Beliau jadi bupati 10 tahun, fasilitas yang dibangun kan banyak,” ujar Rasidi saat dikonfirmasi, Selasa (3/11/2026).
Terkait berkembangnya narasi pro-kontra di berbagai platform media sosial, Rasidi menanggapinya dengan santai. Ia menilai hal tersebut sebagai bentuk kebebasan berpendapat masyarakat dalam menafsirkan suatu gagasan politik. Kendati demikian, ia memastikan substansi usulannya sama sekali tidak bermaksud menafikan kontribusi kepemimpinan masa lalu.
“Itu pendapat mereka. Itu urusan mereka. Tapi pakai nama-nama apa saja tetap tidak terbantahkan, bahwa Rumah Sakit Abuya dibangun waktu Beliau, Kiai Abuya Busyro Karim, menjadi Bupati Sumenep,” tegasnya.
Murni Edukasi Sejarah Lokal
Gagasan ini sebelumnya dilontarkan Rasidi bertepatan dengan momentum Peringatan Haul Raja-Raja Sumenep pada Jumat (30/10/2026). Ia mengusulkan agar identitas kepahlawanan dan kesejarahan lokal diabadikan pada fasilitas umum agar lebih dekat dengan masyarakat.
“Contohnya, musala di DPRD ini belum mempunyai nama. Bisa diberi nama Bindara Saod. Begitu juga Rumah Sakit Abuya di Pulau Kangean, bisa diberi nama Rumah Sakit Sultan Abdurrahman. Ini sekadar contoh,” jelasnya.
Menurut Rasidi, langkah penamaan fasilitas publik dengan tokoh historis memiliki misi mulia, yakni memperkuat literasi sejarah dan mengenalkan akar budaya Kerajaan Sumenep kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar identitas daerahnya.
“Tujuannya jelas, agar nama raja-raja Sumenep lebih dikenal luas oleh masyarakat. Generasi muda juga tidak melupakan sejarah dan akar daerahnya, sehingga mereka mengetahui para leluhurnya,” tuturnya.
Sebelumnya, usulan ini sempat memicu diskursus publik setelah diunggah oleh sejumlah akun media sosial, salah satunya akun TikTok @oposisi_lokal yang mengangkat narasi bertajuk “Ketua Fraksi PKB Ingin ‘Bersih-Bersih’ Warisan Kiai Busyro”. Unggahan tersebut menilai, bahwa perubahan nama RSUD Abuya Kangean kurang tepat karena rumah sakit yang terletak di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, itu merupakan salah satu proyek mercusuar era kepemimpinan KH A. Busyro Karim.
Sebagai catatan, penamaan ‘Abuya’ pada rumah sakit kepulauan tersebut diambil dari sapaan akrab KH A. Busyro Karim, yang memimpin Kabupaten Sumenep selama dua periode kepemimpinan. (Abd. Qadir)







