SIDOARJO (RadarJatim.id) – Selain memotret kepemimpinan pasangan Bupati-Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo, H. Subandi-Hj. Mimik Idayana selama 1,5 tahun ini, Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) juga mencatat beberapa tokoh politik yang namanya cukup dikenal atau populer bagi masyarakat Sidoarjo.
Direktur ARCI, Nanang Haromain mengatakan bahwa survei dilakukan secara acak atau random di 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo pada periode tanggal 1-10 Agustus 2026 ini.
Survei menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling (SMRS) dengan jumlah sampel 800 responden yang berusia minimal 17 tahun, atau warga Sidoarjo yang sudah memiliki hak pilih pada tahun 2029 nanti.
“Dengan margin of error 3,5 persen pada tingkat kepercayaan sebersar 95 persen,” kata Nanang Haromain dalam rilis hasil survei-nya, Sabtu (29/8/2026).
Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sidoarjo periode 2014-2019 itu menyampaikan bahwa muncul beberapa nama tokoh politik yang cukup populer dan memiliki elektabilitas tinggi, serta berpeluang besar dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sidoarjo tahun 2029 nanti.
Tokoh-tokoh yang memiliki popularitas dan elektabiltas itu, diantaranya H. Subandi yang memiliki elektabilitas sebesar 30,7 persen, Hj. Mimik Idayana 18,6 persen, Anik Maslachah 13,56 persen, H. Usman 7,6 persen, Adam Rusdy 6,1 persen, H. Khulaim Junaidi 4,2 persen, H. Rizza Ali Faizin 3,5 persen, Dedi Irwansah 2,1 persen, Hari Julianto 1,9 persen dan yang tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 11,9 persen.
“Tertinggi masih ditempati oleh Subandi-Mimik yang saat ini menjabat sebagai pasangan Bupati-Wakil Bupati Sidoarjo. Hal itu sangat wajar, karena setiap langkah dan kebijakannya selalu menjadi sorotan media, baik medsos (media sosial, red) maupun media mainstream,” sampainya.
Menurut Nanang Haromain tingginya tingkat popularitas dan elektabilitas bukanlah menjadi jaminan bagi pasangan Subandi-Mimik dapat terpilih kembali pada Pilkada Sidoarjo 2029 nanti.
Apalagi selama menjabat selama 1,5 tahun ini, tingkat kepuasan masyarakat Sidoarjo terhadap kepemimpinan pasangan Subandi-Mimik terus mengalami penurunan yang awalnya sebesar 84,9 persen, turun menjadi 70,6 persen pada periode Agustus 2026 ini.

“Ada banyak faktor. Apalagi, kalau Pak Bandi dan Bu Mimik berangkat sendiri-sendiri pada Pilkada (Sidoarjo, red) 2029 nanti. Tentunya tokoh-tokoh lain memiliki peluang yang cukup besar dalam memenangkan kontestasi (Pilkada Sidoarjo 2029, red) nanti,” ujarnya.
H. Usman merupakan salah satu tokoh yang memiliki peluang besar dalam memenangkan kontestasi Pilkada Sidoarjo 2029. Karena Usman sudah memiliki pengalaman cukup panjang dalam percaturan politik di Kabupaten Sidoarjo.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sudah 4 periode menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo. Bahkan Usman pernah menduduki jabatan strategis di DPRD Sidoarjo, yaitu menjabat sebagai Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo periode 2014-2019 dan Ketua DPRD Sidoarjo periode 2019-2024.
“Dengan berbekal pengalaman sebagai legislator selama 4 periode. Tidak menutup kemungkinan, H. Usman akan menjadi kuda hitam dalam Pilkada (Sidoarjo 2029, red) nanti,” terangnya.
Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (Fisip UGM) Yogyakarta itu menegaskan bahwa Pilkada Sidoarjo memang masih berada beberapa tahun di depan. Namun, dinamika politik Sidoarjo bisa jadi mulai bergerak sejak sekarang.
“Hasil survei ini bukan penentu akhir, melainkan titik awal pembentukan peta politik menuju Pilkada Sidoarjo nanti,” tegasnya.
Survei ini memberikan pesan bahwa masyarakat Sidoarjo membentuk preferensi politiknya jauh sebelum tahapan Pilkada dimulai. Mereka tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga melihat rekam jejak, kedekatan dengan publik dan kemampuan figur dalam membangun komunikasi.
Perubahan preferensi pemilih, tingkat kepuasan masyarakat terhadap partai politik, persepsi terhadap kinerja partai dan DPRD, serta tingkat elektabilitas masing-masing kekuatan politik menjadi indikator penting untuk membaca arah politik Sidoarjo ke depan. Termasuk bagaimana membaca komposisi kekuatan politik nasional. Faktor ini kadang menjadi penentu dinamika politik di daerah.
“Politik hari ini, bukan soal siapa yang paling dulu dikenal. Tetapi, siapa yang paling mampu menjaga kedekatan dengan publik hingga hari pemungutan suara. Pilkada masih panjang. Masih banyak dinamika yang bakal menarik,” pungkasnya. (mams)








