Oleh Arik S. Wartono
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (Hadist riwayat Abdullah bin Umar)¹
ARTJOG 2026 mengusung tajuk Ars Longa, Generatio. Secara harfiah: Seni itu Panjang, untuk Generasi. Narasinya berbicara keberlanjutan, warisan, dan pendidikan generasi penerus.
Tapi praktiknya putus sejak awal. Ia bicara generasi, namun dana dan keputusan terkonsentrasi pada lingkar kekuasaan, sponsor oligarki dan anak penguasa. Ia bicara keberlanjutan, tapi pintu kuratorialnya tunggal, tertutup, dan tidak dapat diaudit publik.
Itulah hipokrisi naratif. Mengatasnamakan generasi, namun merusak rantai pendidikan yang seharusnya dijaga.
Di titik putus mata rantai inilah Jawa Timur memberikan jawaban. Bukan dengan panggung, melainkan dengan praktik 15 tahun Komunitas Padhang Njingglang Tulungagung. Ia yang menyelamatkan makna Generatio ketika ARTJOG justru mengkhianatinya.
Padhang Njingglang: Dari Kegelisahan Menjadi Sistem
Padhang Njingglang dibina oleh Anang Prasetyo, guru seni budaya di Tulungagung. Komunitas yang lahir tahun 2009 dan mengawali gerakannya dari desa Jepun, Kabupaten Tulungagung ini merupakan respon terhadap menurunnya minat anak pada aktivitas kreatif akibat lebih gandrung play station.
Jawabannya adalah metode: BCMK — Bermain, Cerita, Menyanyi, Berkreasi. Sebuah metode kependidikan partisipatif yang menempatkan anak sebagai subjek, bukan objek.
Lima belas tahun kemudian, 2026, gempuran media visual digital makin kuat. Tapi Padhang Njingglang tetap bertahan. Karena persis seperti penyataan Dwijo Sukatmo yang dikutip oleh Anang Prasetyo:
“Melukis harus memakai strategi maraton, bulan lari sprint. Sebab jika lari sprint energi tentu terkuras.”
Ia memahami prinsip dasar pendidikan seni, bahwa ketekunan dan strategi jangka panjang jauh lebih menentukan daripada semangat sesaat yang cepat habis. Seperti dikatakan Tino Sidin: anak harus dibiarkan tumbuh melalui proses, bukan dipaksa hasil. Moelyono juga menekankan apresiasi positif dan konteks kehidupan sehari-hari sebagai jantung pendidikan seni.
Inilah pendidikan generasi yang sesungguhnya. Bukan proyek setahun. Tapi rantai 15 tahun yang tidak putus.
Sistem Pengajaran Berantai
Hal paling penting dari Padhang Njingglang yang tidak pernah disentuh narasi ARTJOG adalah struktur rantai generasinya. Berdasarkan data komunitas periode 2009–2026, terdapat dua jalur pembinaan: mahasiswa murni binaan dan murid sekolah binaan.
Mahasiswa binaan telah menjangkau 33 desa di Tulungagung, serta beberapa kota lain: Batu, Kediri, Yogyakarta, Bojonegoro, Tuban, dan sekitarnya. Sementara murid sekolah binaan berjumlah 12 kelas, dengan rata-rata 500 murid per tahun. Mereka tidak hanya belajar menggambar, tapi juga mengajari adik-adiknya.
Sejak 2016, setelah terbitnya buku Menggambar Memori Bahagia, produksi buku anak berlangsung konsisten ±500 buku per tahun. Dalam 10 tahun, total dokumentasi gambar memori bahagia mencapai ± 5.000 buku karya anak-anak. Dari jumlah itu, yang sudah ber-ISBN baru 5 anak.
Ini artinya Padhang Njingglang bukan hanya mengajari menggambar. Ia mengarsipkan 5.000 memori bahagia menjadi buku. Itu adalah arsip hidup generasi. Inilah metode pengajaran berantai: guru → siswa SMK → kelompok → buku → desa → generasi berikutnya. Ia menciptakan produksi makna yang terus merambat, bukan berhenti di galeri.
Ini persis yang dijanjikan Ars Longa Generatio: seni yang panjang karena diteruskan. Tapi ARTJOG gagal di titik ini. Ia punya panggung, tapi tidak punya rantai. Setelah panggung selesai, tidak ada buku, tidak ada desa, tidak ada 5000 arsip anak yang melanjutkan.
Padhang Njingglang juga mengembangkan Metode AMB — Aktivasi Memori Bahagia. Lewat buku Menggambar Memori Bahagia 2018, ia melebur pendidikan seni dengan kebahagiaan. Anak tidak dihukum dengan standar galeri. Ia dikuatkan untuk terus berkarya.
Itulah Generatio: rantai yang hidup, bukan slogan yang mati.
Hipokrisi Institusional: Ketika Etika Ditukar Dana
ARTJOG jatuh pada penyakit yang sama dengan apa yang disebut Max Weber sebagai iron cage: efisien mengumpulkan dana, tapi mencekik etika.
Ketika dana datang dari Freeport tahun 2016, sepuluh tahun kemudian dari jaringan Didit Hediprasetyo Foundation 2026, narasi Generatio langsung runtuh. Bagaimana mungkin bicara pendidikan generasi yang merdeka, kalau pintunya dikuasai kuasa? Bagaimana mungkin bicara keberlanjutan seni, kalau keputusan tergantung relasi kekuasaan?
Ini bukan lagi soal jumlah dana untuk kelancaran panggung. Ini soal integritas narasi. ARTJOG menabrak narasi yang diusungnya sendiri. Itu definisi munafik.
Sementara Padhang Njingglang tidak punya sponsor besar. Ia memiliki lebih dari 500 anggota dari guru, siswa, dosen, seniman, ustadz, mahasiswa, santri. Ia tidak terikat lembaga manapun. Ia berdiri karena niat dan persaudaraan. Karena itu ia bisa bertahan 15 tahun tanpa putus.
Jawa Timur: Laboratorium Praktik, Bukan Wacana
Sudah saatnya mengungkap fakta, bahwa Jawa Timur punya praktik nyata sebagai jawaban atas kebuntuan wacana seni rupa nasional. Gandeng Renteng Pasuruan menjawab soal kemandirian event dari rezim kuasa. Ia lebih merdeka 14 tahun.
Padhang Njingglang Tulungagung menjawab soal Ars Longa Generatio. Ia menyelamatkan rantai generasi dengan data konkret: 33 desa, 175 kelompok, ±5.000 buku karya anak dalam 10 tahun.
Dua-duanya membuktikan: Jawa Timur tidak kosong. Ia hanya kurang dibedah dalam diskursus intelektual. Dan itu yang saya mulai sekarang, dengan momentum polemik ini.
Penutup: Jalan Tengah yang Otonom
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan pentingnya menjaga ilmu agar tidak putus pada satu generasi. Ilmu yang tidak diajarkan dan diwariskan akan mati bersama pemiliknya.
Padhang Njingglang memilih jalan tengah: wasathiyah. Ia menulis gagasan menjadi buku 2016, baru kemudian menjadi gerakan. Ia menjadi prototipe dan role model. Bahwa pendidikan seni generasi itu harus otonom, berantai, dan berpihak pada anak.
Karena bagi komunitas Padhang Njingglang, berkesenirupaan adalah syariat menuju hakikat-Nya. Kalau marwahnya hilang, ia tumbang. Komunitas Padhang Njingglang sudah membuktikannya selama 15 tahun. {*}
Gresik, 2 Juli 2026
*) Arik S. Wartono, Pendiri Sanggar DAUN




