KEDIRI (RadarJatim.id) — Pesaing batik lokal tidak hanya datang dari pakaian bekas impor. Bagi Batik Lochatara Kediri, tekanan yang lebih terasa justru datang dari produk batik printing yang dijual dengan harga jauh lebih murah melalui perdagangan dalam jaringan (daring) atau online.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha batik harus mencari cara agar produk batik tulis dan cap tetap memiliki pasar. Batik Lochatara memilih bertahan dengan memperkuat ciri khas motif berbasis budaya Kediri dan terus melahirkan desain baru.
“Ini menjadi tantangan tersendiri buat kami untuk trus melahirkan motif-motif batik yang beda, yang banyak diminati sesuai dengan kondisi saat ini,” kata Heri Setiawan, penggelut Batik Lochatara, saat ditemui, Senin (5/10/2026).
Menurut Heri, produk printing memiliki keunggulan dari sisi harga karena dapat dijual jauh lebih terjangkau. Kondisi itu membuat batik yang dibuat melalui proses tradisional harus menawarkan nilai lain agar tidak ditinggalkan konsumen.
Karena itu, Lochatara memilih tidak sekadar mengikuti perang harga. Pengelolanya mencoba membuat motif yang tidak mudah ditemukan pada produk printing. Lochatara menjadikan budaya Kediri dan wilayah sekitarnya sebagai sumber inspirasi. Motif yang dikembangkan tidak hanya mengambil budaya benda, tetapi juga kekayaan budaya takbenda.
Heri mengatakan, motif baru terus dikembangkan secara berkala, bahkan dalam rentang satu hingga dua bulan. Proses tersebut dilakukan dengan menggali berbagai kekayaan budaya di Kediri, kawasan Mataraman, dan daerah sekitarnya.
Strategi itu sejalan dengan identitas Batik Lochatara yang sejak awal dibangun untuk mengangkat budaya Kediri melalui produk batik. Sejumlah penelitian tentang Lochatara mencatat usaha ini berdiri di Desa Jajar, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, dan didirikan Heri Setiawan. Nama ‘Lochatara’ disebut berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna ‘luar biasa’.
Lochatara juga telah mengembangkan produk tidak hanya berupa batik tulis dan cap, tetapi mencakup batik tenun, ecoprint, busana, tas, sepatu, syal, hingga berbagai produk fesyen lainnya. Pemasarannya dilakukan secara offline dan kini melalui sejumlah platform digital.
Motif Panji Galuh
Salah satu inovasi terbaru Lochatara adalah motif Panji Galuh. Motif tersebut terinspirasi dari relief Panji Gambyok yang berada di Desa Gambyok, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Relief Panji Gambyok memang tercatat sebagai salah satu warisan budaya di Kabupaten Kediri. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri mencatat relief tersebut menggambarkan tokoh Panji dan pengiringnya, sementara situsnya berada di Dusun Sarasehan, Desa Gambyok, Kecamatan Grogol.
Heri mengatakan, Lochatara tidak sekadar mengambil motif Panji yang sudah banyak dikenal. Desainnya dikembangkan kembali agar memiliki karakter berbeda.
“Motif Panji sebenarnya sudah ada beberapa yang membuat, tetapi kita membuat desain yang berbeda. Jadi orang tidak jenuh,” katanya.
Motif tersebut kemudian dikembangkan dengan unsur Galuh sehingga diberi nama Panji Galuh.
Menurut Heri, respons terhadap motif baru tersebut cukup baik. Ia berharap pendekatan serupa dapat membuat masyarakat tetap tertarik menggunakan batik khas daerah di tengah banyaknya pilihan produk bermotif batik dengan harga murah.
Sementara itu, momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi ruang bagi pelaku industri batik untuk kembali memperkuat pasar sekaligus memperkenalkan batik kepada masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian pada HBN 2026 juga menekankan pentingnya kualitas, inovasi, kapasitas produksi, dan perluasan akses pasar bagi IKM batik. (rul)








