SIDOARJO (RadarJatim.id) — Budidaya rumput laut di Kabupaten Sidoarjo kini tidak lagi dianggap sekadar penunjang atau ‘penghibur’ saat petambak mengalami gagal panen bandeng maupun udang.
Komoditas ini telah bertransformasi menjadi produk unggulan yang diincar pasar ekspor, seperti Tiongkok dan Australia.
”Saat ini, produksi rumput laut di Sidoarjo mencatatkan angka yang cukup fantastis, yakni mencapai sekitar 10.103 ton per tahun,” jelas Kepala Dinas Perikanan Sidoarjo Muhammad Yunan Khoiron, S.Sos M.Si pada (11/9/2026) siang.
Menurutnya komoditas tersebut sebagian besar dipasarkan melalui dua koperasi lokal, salah satunya berada di kawasan Jabon yang menjadi sentra utamanya.
Melihat potensi besar tersebut, lembaga badan PBB United Nations Development Programme (UNDP) turut memberikan dukungan.
UNDP telah menyalurkan bantuan revitalisasi untuk 100 hektar lahan tambak milik warga setempat.
“Bantuan difokuskan pada pemulihan fisik tambak yang selama ini terbengkalai akibat terdampak abrasi dan banjir rob,” katanya.
Melalui program revitalisasi ini, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimaksimalkan kembali oleh warga untuk memperluas area budidaya rumput laut.
“Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak volume produksi secara signifikan, sekaligus memperkuat rantai pasok ekspor rumput laut asal Sidoarjo ke depan,” harapnya.
Produksi rumput laut di Kecamatan Jabon disokong oleh tiga desa, yakni Desa Kupang seluas 830 hektar, Desa Kedungpandan seluas 445 hektar dan Desa Permisan luasnya 87 hektar.
Jenis rumput laut yang dibudidayakan di Kabupaten Sidoarjo didominasi oleh jenis rumput laut merah (Gracilaria).
Untuk menjaga kelancaran alur produksi hingga pemasaran, pengelolaan rumput laut di Kecamatan Jabon dikoordinasikan melalui lembaga koperasi setempat, yaitu Koperasi Sumber Mulyo di Desa Kupang dan Koperasi Agar Makmur Sentosa di Desa Kedungpandan.(mad)








