KEDIRI (RadarJatim.id) — Departemen Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) menggelar pelatihan Digital Marketing dan Pencatatan Keuangan UMKM di Kediri, Jumat (11/9/2026. Pelatihan yang berlangsung di Pare, Kediri, Jawa Timur itu yang diketuai oleh Mohamad Rijal Iskandar Zhulqurnain, SM, MComm.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh 20 peserta dari kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Ni Gusti Made Rai, SPsi, MPsi, Psikolog.
Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai pengelolaan keuangan dan digitalisasi usaha. Selanjutnya, peserta mengikuti rangkaian pelatihan yang menghadirkan materi mengenai pengelolaan keuangan serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional UMKM.
Rangkaian kegiatan menghadirkan materi mengenai pengelolaan keuangan dan digitalisasi operasional UMKM. Materi pertama bertajuk “Pelatihan Finance Management untuk UMKM” yang disampaikan oleh Anandita Ade Putri, MBA, dilanjutkan dengan pelatihan pemanfaatan aplikasi “Kasir Pintar” yang dibawakan oleh Rena Latifta Ria dari Kasir Pintar.
Pada sesi pertama, Anandita mengajak peserta mengenali kondisi dan karakteristik UMKM yang berkembang di wilayah Kecamatan Pare. Berbagai jenis usaha, mulai dari usaha makanan bawang goreng, keripik melinjo hingga usaha holtikultura, seperti tanaman hias, menjadi contoh aktivitas UMKM yang berkembang di tengah masyarakat dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Anandita menekankan pentingnya pencatatan keuangan dalam pengelolaan usaha. Pencatatan yang teratur, katanya, dapat membantu pelaku UMKM mengetahui kondisi bisnis secara lebih jelas, termasuk pemasukan, pengeluaran, keuntungan, serta perputaran uang dalam usaha. Pencatatan dapat dilakukan secara digital maupun manual sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengelolaan arus kas. Disampaikan, pelaku usaha perlu memastikan agar arus kas masuk dan keluar dapat dikelola dengan baik, sehingga kondisi keuangan bisnis tetap sehat. Dalam hal ini, pemasukan yang lebih besar daripada pengeluaran menjadi salah satu kondisi yang perlu diupayakan dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Peserta juga diajak memahami pentingnya menyediakan dana darurat usaha yang dipisahkan dari dana untuk kebutuhan lainnya. Dana tersebut dapat digunakan sebagai cadangan ketika bisnis menghadapi kondisi yang tidak terduga. Sementara itu, kebutuhan untuk ekspansi, inovasi, maupun penambahan karyawan perlu dipertimbangkan melalui perencanaan dan anggaran yang sesuai dengan kemampuan usaha.
Persoalan pembayaran pelanggan juga menjadi bagian dari diskusi. Pembayaran yang dilakukan di akhir dapat memengaruhi kelancaran arus kas apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pelaku usaha dapat mengatur mekanisme pembayaran, misalnya dengan meminta down payment (DP) di awal dan pelunasan sesuai kesepakatan sebelum produk atau jasa diberikan.
Selain mengatur arus kas, pelaku UMKM perlu memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Pencampuran kedua jenis dana dapat menyulitkan pemilik usaha dalam mengetahui kondisi keuangan bisnis yang sebenarnya. Pemisahan tersebut, lanjutnya, juga memudahkan pelaku usaha dalam menelusuri transaksi, termasuk transaksi yang dilakukan melalui transfer maupun secara tunai.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada laporan keuangan dasar, yaitu laporan posisi keuangan (neraca), laporan laba rugi, dan laporan arus kas. Laporan laba rugi dapat digunakan untuk melihat pendapatan penjualan, laba kotor, beban usaha, hingga laba bersih. Sementara itu, laporan arus kas membantu pelaku usaha memantau pergerakan uang yang masuk dan keluar dari bisnis.
Penentuan harga produk dan jasa turut menjadi perhatian. Pelaku usaha tidak hanya perlu mengikuti harga yang ditetapkan oleh usaha lain, tetapi juga mempertimbangkan kondisi wilayah, permintaan dan penawaran, serta karakteristik pelanggan. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, strategi harga dapat disesuaikan dengan kondisi pasar sekaligus keberlanjutan usaha.
Digitalisasi UMKM
Setelah mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, peserta melanjutkan kegiatan dengan materi digitalisasi operasional UMKM yang disampaikan oleh Rena Latifta Ria dari Kasir Pintar. Materi ini memperkenalkan pemanfaatan sistem digital sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual dan membantu pelaku usaha mengelola data bisnis secara lebih terstruktur.
Rena memperkenalkan konsep ekosistem digital UMKM, termasuk pentingnya pengelolaan data pelanggan. Data pelanggan yang tercatat dapat membantu pelaku usaha memahami riwayat transaksi serta mendukung kegiatan promosi dan tindak lanjut pelanggan. Pengelolaan data tersebut juga dapat menjadi salah satu pendukung ketika usaha berkembang dan memiliki rencana untuk membuka cabang baru.
Materi kemudian dilanjutkan dengan simulasi penggunaan aplikasi Kasir Pintar secara langsung. Peserta mempraktikkan cara memasukkan master data produk, mengategorikan barang, serta memperbarui jumlah stok sehingga persediaan dapat dipantau secara lebih terstruktur.
Peserta juga mempraktikkan manajemen data pelanggan, mulai dari penginputan profil hingga pencatatan riwayat pelanggan. Selain itu, diperagakan pula proses pencatatan piutang atau kasbon pelanggan, termasuk pencatatan transaksi kredit, pemantauan jatuh tempo, hingga pelunasan piutang dalam sistem.
Pada proses transaksi, peserta melakukan simulasi pencatatan penjualan harian melalui aplikasi. Sistem tersebut dapat membantu menghasilkan rekapitulasi dan laporan secara otomatis sehingga pelaku usaha tidak perlu melakukan rekapitulasi secara manual untuk setiap transaksi.
Kasir Pintar juga memperkenalkan ekosistem layanan digital lainnya, seperti Blazwa untuk mendukung integrasi pesan otomatis dan Pintar HR untuk pengelolaan sumber daya manusia secara sederhana. Berbagai fitur tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai pemanfaatan teknologi untuk mendukung aktivitas bisnis secara lebih terintegrasi.
Setelah seluruh materi dan praktik selesai, peserta mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada tiga peserta yang aktif selama pelatihan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.
Sebagai bentuk apresiasi kepada para pemateri, Ketua Kegiatan Abmas, Mohamad Rijal Iskandar Zhulqurnain, SM, MComm, memberikan sertifikat kepada pemateri. Pemberian sertifikat tersebut menjadi bagian dari rangkaian penutup kegiatan pelatihan.
Melalui rangkaian pelatihan dan praktik tersebut, kegiatan Abmas Manajemen Bisnis ITS diharapkan dapat membantu pelaku UMKM di Pare, Kediri, meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan, mencatat transaksi, mengendalikan arus kas, serta memanfaatkan teknologi digital dalam operasional usaha. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, pelaku UMKM diharapkan dapat mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi usaha yang lebih terukur dan membangun bisnis yang sehat serta berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Manajemen Bisnis ITS dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM, untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan usaha di tengah perkembangan ekosistem bisnis digital. (RJ2)





