SURABAYA (RadarJatim.id) – Pohon kelor yang tumbuh di lingkungan sekolah ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar tanaman penghijauan. Di SDN Sawunggaling I/382 Surabaya, tanaman yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal itu, menjadi titik awal lahirnya inovasi pangan lokal melalui program GERCEP KELOR (Gerakan Cerdas Pemberdayaan Kelor).
Program yang digagas mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru 2026 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengajak guru mengenal manfaat daun kelor, sekaligus mempraktikkan pengolahannya menjadi produk pangan yang lebih menarik, yakni puding dan cendol kelor.
Ketua Pelaksana GERCEP KELOR, Ekananda Nurrohmad, menjelaskan, bahwa program ini dirancang dengan memandang tanaman kelor sebagai aset yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara mahasiswa dan warga sekolah.
“Melalui GERCEP KELOR, kami ingin menunjukkan, bahwa potensi yang ada di lingkungan sekolah dapat menjadi titik awal sebuah perubahan. Tanaman kelor tidak hanya dikenalkan sebagai bahan pangan lokal, tetapi juga sebagai sumber belajar yang dapat dikembangkan melalui kreativitas dan keterlibatan guru,” ujar Ekananda, Kamis (22/10/2026).
Dikatakan, GERCEP KELOR berangkat dari gagasan sederhana: potensi yang tersedia di sekitar sekolah dapat dikembangkan menjadi sumber belajar, sarana edukasi gizi, sekaligus peluang menciptakan produk pangan bernilai tambah. Melalui pendekatan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap pemanfaatan pangan lokal.
Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi mengenai gizi seimbang dan potensi daun kelor, demonstrasi pengolahan, serta pengenalan produk pangan berbahan dasar kelor. Sebanyak 25 guru mengikuti kegiatan yang berlangsung pada 11 dan 18 September 2026.
Dalam pelaksanaannya, peserta dikenalkan pada proses pengolahan daun kelor menjadi bubuk yang dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk makanan. Bubuk kelor kemudian dimanfaatkan dalam pengembangan puding dan cendol, sehingga tanaman yang tumbuh di lingkungan sekolah dapat dikenalkan melalui bentuk olahan yang lebih akrab bagi masyarakat.
Kegiatan ini tidak berhenti pada demonstrasi memasak. Guru juga memperoleh brosur resep dan buklet edukasi yang berisi informasi pemanfaatan kelor, tahapan pengolahan, resep produk, serta informasi nilai gizi yang dihitung oleh ahli gizi. Media tersebut diharapkan dapat membantu guru mempraktikkan kembali pengolahan kelor setelah kegiatan selesai.
Berdasarkan rekapitulasi program, rata-rata nilai pre-test tercatat sebesar 50%, sedangkan nilai post-test mencapai 98%. Selisihnya sebesar 48 poin persentase. Hasil tersebut menjadi indikasi positif, bahwa edukasi yang disertai demonstrasi dan pengalaman langsung dapat membantu guru memahami materi yang diberikan.
Kepala SDN Sawunggaling I/382 Surabaya, Mohammad Taukit, MPd, juga memberikan pandangan mengenai manfaat program bagi sekolah, terutama dalam pemanfaatan aset lingkungan, penguatan wawasan guru, dan peluang penerapan kegiatan serupa secara berkelanjutan.
“Program GERCEP KELOR menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan pemanfaatan potensi yang ada di lingkungan sekolah. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru kepada guru, tetapi juga mendorong kreativitas dalam pembelajaran dan membangun kepedulian terhadap pangan lokal. Ke depan, potensi tanaman kelor di sekolah diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan berkelanjutan,” ungkap Taukit.
Ekaknanda menambahkan, GERCEP KELOR menempatkan guru sebagai penggerak perubahan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diteruskan kepada murid melalui pembelajaran kontekstual maupun pembiasaan di lingkungan sekolah dan keluarga.
Gagasan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 2 tentang Pengentasan Kelaparan dan Penguatan Ketahanan Pangan, Tujuan 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan, serta Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui GERCEP KELOR, pemanfaatan pangan lokal diperkenalkan sebagai praktik yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Pohon yang telah tumbuh di halaman sekolah menjadi pengingat, bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari sesuatu yang baru. Terkadang, perubahan justru dimulai ketika potensi yang sudah tersedia dikenali, diolah, dan dimanfaatkan bersama. (rj2)








