JAKARTA (RadarJatim.id) — Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung hingga awal Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,39 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi domestik, investasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap kuat di tengah tekanan eksternal.
BPS mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan I 2026 mencapai Rp 6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447,7 triliun. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional dengan porsi 54,26 persen terhadap PDB. Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, tumbuh 5,96 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional masih didukung oleh daya beli masyarakat dan meningkatnya mobilitas selama periode libur nasional dan hari besar keagamaan.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen (y-on-y), salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta.
Konsumsi Domestik Jadi Penopang
Konsumsi rumah tangga, lanjutnya, masih menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global. BPS mencatat, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen, sedangkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen seiring meningkatnya aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Selain konsumsi, pemerintah juga terus mendorong investasi pada sektor hilirisasi industri, infrastruktur, dan ekonomi digital guna menjaga momentum pertumbuhan jangka panjang.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. BI menilai, permintaan domestik dan sinergi kebijakan fiskal serta moneter masih menjadi faktor utama penopang ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2026 diprakirakan tetap kuat dalam kisaran 4,9–5,7 persen,” tulis pernyataan resmi Bank Indonesia dalam siaran persnya.
Tekanan Eksternal Masih Membayangi
Meski kondisi domestik relatif stabil, tekanan eksternal masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, perlambatan perdagangan global, serta konflik geopolitik di sejumlah kawasan dunia masih memicu volatilitas pasar keuangan internasional.
Reuters melaporkan, inflasi Indonesia pada Mei 2026 diperkirakan meningkat menjadi 2,97 persen akibat kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi, tarif transportasi udara, serta harga minyak goreng. Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia diproyeksikan menyusut seiring perlambatan permintaan ekspor global.
Tekanan terhadap stabilitas ekonomi juga muncul dari meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing di pasar domestik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal melalui koordinasi kebijakan bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait.
Optimisme Tetap Dijaga
Sejumlah ekonom menilai kekuatan pasar domestik masih menjadi modal utama Indonesia menghadapi perlambatan ekonomi global. Struktur ekonomi yang ditopang konsumsi rumah tangga dinilai membuat Indonesia lebih tahan terhadap gejolak eksternal dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Di sisi lain, pengamat mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kepastian regulasi agar kepercayaan investor tetap terjaga. Reformasi struktural dan peningkatan produktivitas industri juga dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Dengan kondisi global yang masih dinamis, kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas akan menjadi faktor penentu ketahanan ekonomi nasional pada tahun-tahun mendatang. (red)
Kontributor: Faiq Abdil Hafidz, Mahasiswa Prodi Ekonomi Syari’ah, Fakultas Ilmu Ke-Islaman, Universitas Trunodjoyo Madura.







