SIDOARJO (Radarjatim.id) — Upaya mencegah terjadinya penyakit perilaku seksualitas di kalangan remaja. Dinas P3AKB (Perdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana) Kabupaten Sidoarjo memberikan edukasi, atau pemahaman kepada para siswa SMP Negeri 2 Sidoarjo tentang Kespro (Kesehatan Reproduksi), pada (28/9/2026) pagi di Aula SMP Negeri 2 Sidoarjo.
Prosesi pembukaan kegiatan dilakukan langsung oleh Kepala SMP Negeri 2 Sidoarjo, Sukardi, S.Pd M.Pd serta dari Dinas P3AKB diwakili oleh Kabid KBKK (Keluarga Berencana Ketahanan dan Kesejahteraan Keluaraga) Hery Djatmiko, S.Sos MM berserta jajarannya.
Dalam edukasi tersebut pihak Dinas P3AKB Sidorajo menghadirkan Pemateri, dr. Ana Puji Rahayu, SpOG, M. Ked, Klin yang memamparkan banyak hal tentang kesehatan reproduksi, yang diberikan paparannya kepada perwakilan kelas 7, 8 dan kelas 9.
Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Sidoarjo, Heni Kristiani, S.Pd MM menjelaskan bahwa, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi bagi remaja laki-laki maupun perempuan.
Langkah edukatif ini diharapkan dapat membentengi para siswa dari berbagai risiko sosial dan kesehatan reproduksi, pencegahan HIV/Aids, narkoba, pernikahan dini, stuning dan termasuk juga pengendalian kependudukan dan yang lainnya.
“Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai bahaya pernikahan dini, risiko perilaku seks di luar nikah, hingga bahaya penyakit menular seksual yang timbul akibat pergaulan bebas, karena mereka belum memahami tentang Kespro,” jelas Heni Kristiani.
“Melalui edukasi ini, diharapkan para siswa memiliki kesadaran yang lebih baik dalam menjaga diri serta menghindari dampak negatif pergaulan bebas demi masa depan yang lebih cerah,” harap Bu Heni_sapaan akrabnya.
Dalam paparannya, dr Ana Puji Rahayu memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) penting dilakukan guna memberikan pemahaman yang benar dan meluruskan berbagai mitos seputar pubertas.
dr. Ana menerangkan bahwa usia remaja (10–19 tahun menurut WHO) merupakan masa peralihan yang ditandai dengan perubahan fisik dan hormon. Siswa diajak untuk memahami perubahan tubuh biologis secara normal, seperti menstruasi pada remaja putri dan mimpi basah pada remaja putra, serta pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi setiap hari.

Selain aspek fisik, kegiatan ini menekankan pentingnya menjaga batas diri, kewaspadaan terhadap kekerasan seksual di dunia nyata maupun digital, serta pencegahan perilaku seksual berisiko dan pernikahan dini,” paparanya.
“Remaja juga diajarkan nilai moral dan agama, seperti meneladani pesan QS. Al-Isra’ ayat 32 untuk menjaga kehormatan diri dan menghindari pergaulan yang merugikan,” terangnya.
Termasuk juga melalui 5 pesan kunci, mengenali tubuh, memahami pubertas, menjaga batas diri, menghindari risiko seks pranikah, serta berani berkata tidak dan meminta bantuan. “Diharapkan para remaja dapat menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan bertanggung jawab demi masa depan yang hebat,” harap dr. Ana.(mad)







