SIDOARJO (RadarJatim.id) — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Sidoarjo telah menggelar kegiatan roadshow, untuk edukasi Kesehatan Reproduksi (Kespro) bagi para siswa SMP di wilayah Sidoarjo.
Diawali dari SMP Negeri 2 Sidoarjo, SMP Negeri 1 Krian, SMP Negeri 2 Gedangan dan SMP Negeri 1 Tanggulangin.
Melalui edukasi ini, para siswa diharapkan mampu menjadi tutor sebaya yang menyebarkan pemahaman positif kepada rekan-rekannya.
Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Sidoarjo, Heni Kristiani, S.Pd M.M, menyampaikan bahwa pendekatan tutor sebaya dinilai lebih efektif dan nyaman dalam proses sosialisasi di lingkungan sekolah.

“Siswa yang telah mendapatkan pemahaman diharapkan bisa menjadi tutor sebaya bagi teman-temannya. Sosialisasi antar teman sepermainan biasanya terasa lebih mudah dan enak untuk diterima,” jelas Heni Kristiani, pada (2/10/2026) pagi.
Dalam pelaksanaannya, Dinas P3AKB Sidoarjo menugaskan Kepala Bidang Keluarga Berencana, Ketahanan, dan Kesejahteraan Keluarga, Heri Djatmiko, S.Sos., M.M., bersama timnya untuk keliling sekolah-sekolah.
Materi edukasi disampaikan langsung oleh pakar di bidangnya, dr. Anna Puji Rahayu, Sp.OG., M. Ked., Klin, kepada perwakilan siswa kelas 7, 8, dan 9.
Edukasi Kespro tersebut mencakup berbagai bahasan krusial, antara lain, dampak bila melakukan pernikahan dini. Pemahaman mengenai efek fisik dan psikologis akibat pernikahan di usia muda.
Bahaya perilaku seks bebas, risiko hubungan seksual di luar nikah serta bahaya Penyakit Menular Seksual (PMS).
Pencegahan HIV & NAPZA, edukasi langkah pencegahan penyebaran HIV, pengaruh buruk pergaulan bebas, serta penyalahgunaan narkoba.
Melalui program roadshow ini, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap dapat membentuk generasi muda yang lebih paham akan kesehatan reproduksi serta mampu saling menjaga dalam pergaulan sehari-hari.
“Sehingga pencegahan bahaya narkoba, HIV/AIDs dan stunting bisa ditekan sedini mungkin,” harapnya.
Dalam paparannya, dr Ana Puji Rahayu memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) penting dilakukan guna memberikan pemahaman yang benar dan meluruskan berbagai mitos seputar pubertas.
dr. Ana menerangkan bahwa usia remaja (10–19 tahun menurut WHO) merupakan masa peralihan yang ditandai dengan perubahan fisik dan hormon. Siswa diajak untuk memahami perubahan tubuh biologis secara normal, seperti menstruasi pada remaja putri dan mimpi basah pada remaja putra, serta pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi setiap hari.

Selain aspek fisik, kegiatan ini menekankan pentingnya menjaga batas diri, kewaspadaan terhadap kekerasan seksual di dunia nyata maupun digital, serta pencegahan perilaku seksual berisiko dan pernikahan dini,” paparnya.
“Remaja juga diajarkan nilai moral dan agama, seperti meneladani pesan QS. Al-Isra’ ayat 32 untuk menjaga kehormatan diri dan menghindari pergaulan yang merugikan,” terangnya.
Termasuk juga melalui 5 pesan kunci, mengenali tubuh, memahami pubertas, menjaga batas diri, menghindari risiko seks pranikah, serta berani berkata tidak dan meminta bantuan.
“Diharapkan para remaja dapat menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan bertanggung jawab demi masa depan yang hebat,” harap dr. Ana.(mad)








