SURABAYA (RadarJatim.id) — Pelaku usaha logistik Jawa Timur memprediksi volume ekspor barang dari Bali mencapai 1.000 TEUs per bulan dan akan terus tumbuh pada masa mendatang. Barang ekspor dari Bali itu sebagian besar berupa ikan dan produk kerajinan khas Bali.
Besarnya peluang ekspor dari Bali itu hendaknya diimbangi dengan optimalisasi layanan penyeberangan di Pelabuhan Ketapang – Gilimantuk yang menjadi penghubung arus barang dari Bali menuju pelabuhan ekspor di Jawa. Karena itu, disayangkan jika problem penyeberangan Ketapang – Gilimanuk tidak segera diselesaikan.
“Dalam catatan kami, ekspor dari Bali mencapai 1.000 TEUs per bulan dan akan terus bertambah untuk tahun berikutnya. Sayang sekali kalau masalah penyeberangan Ketapang – Gilimanuk tidak segera diselesaikan,” ungkap Iko Sukma, Pengurus Bidang Perdagangan Internasional DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Selasa (13/10/2026).
Hal yang harus dipercepat, lanjutnya, adalah realisasi investasi dermaga berkapasitas memadai dan kualitas dermaga harus ditingkatkan. Armada kapal penyeberangan juga diperbesar supaya bisa menampung lebih banyak kendaraan.
“Masalahnya, pertumbuhannya bukan hanya barang, tetap arus wisatawan juga ikut meningkat,” kata Iko.
Sementara dari pelaku usaha pelayaran menilai, arus logistik bisa lancar kalau pemerintah mau membuka rute kapal petikemas Surabaya – Benoa. Hal itu bisa dilakukan dengan membuka dermaga khusus, mendatangkan peralatan bongkar muat dan membuka lapangan penumpukan.
“Kami siap, kapal ada. Tinggal regulatornya saja membuka izin dan fasilitas di Benoa sana,” ujar salah satu pengusaha pelayaran di Surabaya.
Yang cocok, lanjut dia, rute Surabaya – Benoa dibuka seminggu sekali menggunakan kontainer 40 feet.
“Butuh satu hati untuk menciptakan kelancaran transportasi Jawa Timur dan Bali,” tambahnya. (fai)





