GRESIK (RadarJatim.id) — Pelatihan fortifikasi pangan lokal di tingkat desa diharapkan mampu menjadi motor penggerak kesehatan, sekaligus ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Harapan tersebut mengemuka saat tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dari Unesa menggelar pelatihan berbasis teknologi ekstraksi nutrisi pada Minggu (6/9/2026) di RW XIII Desa Petiken, Kecamatan Driyorejo, Gresik.
Kegiatan pemberdayaan ini menyuguhkan solusi inovatif pencegahan anemia dengan mengolah bahan lokal kaya zat besi, seperti hati ayam dan daun kelor, menjadi produk camilan kue kering yang lezat.
Langkah kreatif ibu-ibu PKK ini memanfaatkan potensi bahan pangan yang melimpah di sekitar pemukiman warga.
Menurut pelaksana PKM, Ika Nurmaya, inovasi ini tidak hanya menjadi simbol penguatan gizi keluarga, tetapi juga solusi konkret penanganan anemia pada kelompok rentan seperti remaja putri, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Teknologi ekstraksi nutrisi yang diperkenalkan memungkinkan warga mengolah bahan pangan tanpa merusak kandungan gizi mikronya,” jelasnya.
“Langkah ini dinilai efektif untuk menciptakan olahan pangan fungsional yang disukai anak-anak dan ibu hamil sebagai solusi selain tablet tambah darah,” terang Ika.
Ika menambahkan, pemanfaatan bahan lokal untuk produk pangan kaya zat besi ini secara langsung mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
Dalam pelatihan tersebut, para Kader PKK dibekali teori gizi, kesehatan reproduksi, hingga praktik langsung menggunakan alat ekstraksi sederhana yang terjangkau untuk skala rumah tangga.
Tidak hanya itu, peserta juga diajarkan menyusun rencana bisnis (business plan) agar olahan ini memiliki keberlanjutan usaha.
Disebutnya, model olahan gizi berbasis teknologi sederhana ini bukan sekadar kegiatan edukasi biasa, melainkan langkah nyata mendorong kemandirian ekonomi warga berbasis potensi sekitar.
“Sebagian anggota PKK sudah memiliki UMKM makanan dan minuman. Melalui penyediaan produk snack sehat ini, kita tidak hanya meningkatkan literasi gizi masyarakat secara preventif berkelanjutan, tetapi juga membuka peluang tumbuh kembangnya ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PKK RW XIII Petiken, Juni, menyambut baik hadirnya pelatihan tersebut di wilayahnya.
Menurutnya, bahan pangan seperti kelor dan hati ayam sangat mudah didapat, namun sering kali kurang diminati anak-anak jika diolah secara konvensional.
Pihaknya berharap program ini tidak berhenti di RW XIII Petiken saja, melainkan dapat direplikasi hingga tingkat RT maupun desa-desa sekitar demi menekan angka anemia dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Melalui teknologi ini, olahan jadi lebih disukai anak-anak dan ibu hamil. Kami berharap kegiatan serupa bisa terus diadakan untuk mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mendongkrak perekonomian kreatif warga Petiken,” harap Juni.(mad)







