Oleh Much. Khoiri
Selama ini, konferensi internasional sering diukur keberhasilannya dari jumlah peserta, kualitas pembicara, atau indeksasi prosiding. Semua itu penting. Namun, ada satu dimensi yang kerap luput dari sorotan: bagaimana konferensi mampu menjadi katalisator kerja sama kelembagaan yang nyata dan terdokumentasi.
Di sinilah AICoMS 3 (The 3rd APEBSKID International Conference on Multidisciplinary Studies) menawarkan sesuatu yang berbeda. Konferensi yang digelar di BBPMP Jawa Timur, 18–20 September 2026 ini, bukan sekadar ajang presentasi makalah. Ia adalah laboratorium kerja sama antarperguruan tinggi, serta antara perguruan tinggi dan Asosiasi Peneliti Bahasa, Sastra, dan Budaya (APEBSKID) yang hasilnya dapat diukur secara konkret.
Data dari Laporan Hasil Inisiasi dan Realisasi Dokumen Kerja Sama AICoMS 3 menunjukkan capaian yang patut diapresiasi, yakni 33 dokumen kerja sama telah terfasilitasi. Rinciannya: 8 MoU antara APEBSKID dan perguruan tinggi, 4 MoU antarperguruan tinggi, 9 PKS antara perguruan tinggi dan APEBSKID, dan 5 PKS antarperguruan tinggi. Sementara itu, masih ada 3 dokumen MoU dan 3 dokumen PKS yang berada dalam proses penyusunan.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan jaringan kolaborasi yang terbangun dari kesepakatan formal, sebuah fondasi yang jauh lebih kokoh dibandingkan sekadar pertukaran kartu nama atau foto bersama di atas panggung.
Dari Palembang hingga Toraja
Dari daftar mitra yang ada, terlihat jelas, bahwa AICoMS 3 menjangkau lintas pulau dan lintas institusi: Universitas PGRI Palembang, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, STKIP Syekh Manshur, Universitas Kristen Indonesia Toraja, STKIP Agama Hindu Amlapura, PUI Educational Resilience UNY, Universitas Widya Dharma Klaten, hingga PUI Unesa dan FBS Unesa.
Kerja sama ini tidak berhenti pada tataran institusi. Beberapa dokumen bahkan menyentuh unit kerja yang lebih spesifik: FBS Unesa, FT Unesa, dan Fispol Unesa. Ini menunjukkan, bahwa realisasi kerja sama tidak hanya bersifat simbolis di tingkat rektorat, tetapi turun ke level fakultas dan program studi, di mana kolaborasi akademik sesungguhnya terjadi.
Selaku Ketua Panitia AICoMS 3, penulis melihat, bahwa capaian inisiasi dan realisasi ini adalah bukti, bahwa APEBSKID dan Unesa serius membangun ekosistem kolaborasi. Ini bukan akhir, tapi justru awal dari tindak lanjut yang harus dijaga bersama. Entah berapa dokumen akan hadir sebagai bukti kolaborasi yang saling menguntungkan.
Satu hal penting: inisiasi hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya adalah realisasi dan keberlanjutan. Dokumen kerja sama yang sudah siap harus dihidupkan melalui program nyata: pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, publikasi kolaboratif, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Konferensi, Infrastruktur Kolaborasi
Apa yang dilakukan AICoMS 3 mengingatkan pada satu gagasan sederhana namun mendasar: konferensi adalah infrastruktur. Ia bukan sekadar peristiwa sesaat, melainkan ruang di mana institusi-institusi bertemu, berbicara, dan mengikatkan diri pada komitmen bersama.
Dalam konteks ini, tema besar AICoMS 3 —Embedding the SDGs into Culture, Language, Literature, Communication, Arts, and Design for a Digital Age— menjadi relevan bukan hanya sebagai wacana akademik, tetapi sebagai kerangka kerja sama. Sustainable Development Goals (SDG) 17 tentang Partnerships for the Goals secara eksplisit menegaskan, bahwa kemitraan adalah kunci. Dan, AICoMS 3 telah menerjemahkan prinsip itu ke dalam dokumen-dokumen yang dapat ditindaklanjuti.
Tentu, masih ada pekerjaan rumah. Enam dokumen yang masih dalam proses penyusunan harus segera dirampungkan. Dokumen-dokumen yang sudah siap harus memiliki rencana aksi yang jelas, terukur, dan berjadwal. Tanpa itu, kerja sama hanya akan menjadi arsip tanpa napas.
Namun, arahnya sudah benar. Dan, dalam dunia akademik yang sering terjebak pada seremoni tanpa substansi, langkah AICoMS 3 adalah angin segar. Diharapkan, ke depan gagasan ini semakin diperkuat dengan rangkaian realisasi dengan jumlah dokumen yang meningkat dan lebih berdampak.
Lebih dari Sekadar Konferensi
AICoMS 3 telah menunjukkan, bahwa konferensi dapat menjadi lebih dari sekadar konferensi. Ia dapat menjadi mesin kolaborasi yang menghasilkan dokumen, komitmen, dan —pada akhirnya— dampak nyata.
Dengan 33 dokumen kerja sama yang telah terfasilitasi, APEBSKID dan Unesa telah menancapkan tonggak. Tugas berikutnya adalah memastikan tonggak itu tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi jembatan yang kokoh menuju masa depan akademik yang lebih terhubung, kolaboratif, dan berdampak.{*}
*) Dr Drs Much. Khoiri, MSi adalah Ketua Panitia AICoMS 3 Surabaya; Dosen dan Peneliti dari Unesa; Founder Rumah Virus Literasi; Editor dan Penulis 82 buku.








