SIDOARJO (RadarJatim.id) — Kesadaran akan pentingnya pendidikan perubahan iklim sejak dini terus digalakkan. SD MICA (Muhammadiyah 1 Candi) Labschool Umsida berkesempatan menjadi salah satu peserta dalam kegiatan pelatihan dan kolaborasi pendidikan perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Program untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan Indonesia dan Australia dengan PGDS Umsida.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut mempertemukan sebanyak 4 sekolah dari berbagai latar belakang, mulai dari SD Muhammadiyah, sekolah Islam swasta Al-Azhar, Madrasah Ibtidaiyah (MI), hingga Sekolah Dasar Negeri (SDN).
Kepala SD Muhammadiyah 1 Candi, Muhammad Rizky Hidayat, M.Pd., Gr., C.RM., mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas keterlibatan sekolahnya dalam forum ini.
Menurutnya, kolaborasi antar sekolah yang memiliki karakteristik berbeda ini memberikan ruang brainstorming yang sangat berharga.
Pendidikan perubahan iklim itu sangat penting untuk murid-murid kami. Meskipun secara umum potensi bencana di Sidoarjo relatif aman, sikap mitigasi dan kesadaran terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. “Jadi apa yang kita ajarkan sekarang akan sangat bermanfaat 20 hingga 30 tahun mendatang saat mereka dewasa,” ujar Ustad Rizky usai mempresentasikan karya inovasinya, pada (25/9/2026) sore.
Menurutnya, selain membahas mitigasi bencana, kegiatan ini juga mendorong para pendidik untuk berinovasi menciptakan media pembelajaran, baik teknologi digital maupun non-digital, yang mempermudah proses belajar anak serta mendukung prinsip inklusivitas.
Dalam kesempatan ini, sebagai sekolah dasar yang memiliki basis inklusi, SD Muhammadiyah 1 Candi bersama para peserta lainnya diajak untuk semakin terbuka terhadap konsep pendidikan inklusif.
“Ragam presentasi karya dari 4 sekolah peserta memperlihatkan daya dukung yang kuat terhadap terciptanya lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh anak,” ungkapnya.
Lanjutnya, dalam kesempatan tersebut, tim SD Muhammadiyah 1 Candi memamerkan produk inovasi pembelajaran yang diberi nama “APOTEJI”. Nama unik ini merupakan akronim dari kalimat tanya “Apa yang terjadi jika…”.
Ustad Rizky menjelaskan bahwa pemilihan nama dan konsep akronim ini bertujuan untuk menarik minat dan rasa ingin tahu siswa (user).
Media pembelajaran ini dirancang khusus bagi siswa kelas 3 SD untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mengenai hubungan sebab-akibat.
”APOTEJI mengintegrasikan tiga mata pelajaran sekaligus, yaitu Bahasa Indonesia, Seni, dan IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) tingkat dasar. Melalui pendekatan ‘apa yang terjadi jika’, anak-anak diajak memahami bentuk-bentuk mitigasi sebelum bencana, seperti banjir, terjadi, sehingga pemahaman lingkungan tidak terlambat ditanamkan,” jelas pria lulusan S1 dan S2 Teknologi Pendidikan tersebut.
”Saya berharap, inovasi media pembelajaran seperti APOTEJI dan ruang kolaborasi antar-sekolah ini dapat terus berkembang serta memberikan dampak positif yang lebih luas bagi dunia pendidikan.
“Khususnya dalam membangun generasi yang peduli lingkungan tentang kondisi perubahan iklim dan pendidikan inklusif,” harap Ustad Rizky.(mad)








