SIDOARJO (RadarJatim.id) — Program kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia, INOVASI, bekerja sama dengan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menggelar Workshop Pengembangan Media Pembelajaran (Learning Kit) Literasi dan Numerasi Berbasis Isu Perubahan Iklim.
Kegiatan lintas organisasi yang berlangsung selama tiga hari, mulai 23 hingga 25 September 2026, bertempat di Gedung GKB 7 Lantai 6, Kampus 3 UMSIDA Lebo Sidoarjo.
Bertemakan ‘Go Designing Inklusive Climate Change Learning Kit For Primary School’ dengan harapan bisa mengedukasi edukasi penguatan pendidikan inklusif dan penghematan energi di sekolah.
Workshop ini diselenggarakan untuk memperluas jangkauan Pendidikan Perubahan Iklim (PPI) yang sebelumnya telah diimplementasikan di 18 satuan pendidikan serta disebarluaskan di Kecamatan Taman, Buduran, Sedati, dan Candi.
Dibuka secara resmi dengan agenda sambutan dari Deputy Director INOVASI, Feiny Santosa, serta sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Ridho Prasetyo, S.STP M.AP terkait kebijakan pendidikan ramah lingkungan.

Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo Ridho Prasetyo menyambut baik kerjasama antara INOVASI -PGSD UMSIDA dengan menggandeng sekolah-sekola di Sidoarjo. “Dengan begitu mendekatkan kampus pencetak guru dengan satuan pendidikan, sehingga satuan pendidikan terutama SD dapat menjadi tempat belajar untuk mahasiswa calon guru,” katanya singkat.
Ketua Program Studi PGSD Umsida, Dr. Kemil Wachidah, S.Pd.I M.Pd menjelaskan kalau konsep inklusif sejatinya tidak hanya terbatas pada penyandang disabilitas, melainkan mencakup keberagaman latar belakang ekonomi, rasa, hingga agama. Kendati demikian, penerapan media pembelajaran yang benar-benar ramah dan responsif terhadap anak berkebutuhan khusus dinilai masih menghadapi tantangan di lapangan.
Selain materi inklusivitas, pendidik juga didorong untuk memberikan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari terkait penghematan energi dan kesadaran lingkungan. “Kebiasaan kecil seperti mematikan pendingin udara (AC), mematikan listrik saat keluar ruangan, serta memperhitungkan efisiensi penggunaan air bersih menjadi poin penting yang perlu diajarkan secara terbiasa kepada murid,” jelasnya.
“Pengembangan learning kit ini dirancang untuk menjawab kebutuhan perangkat pendukung pembelajaran terintegrasi isu lingkungan. Dengan melibatkan empat sekolah dasar di Sidoarjo sebagai lokasi uji coba, yakni SD Negeri 1 Pucang, SD Islam Al Azhar, SD Muhammadiyah 1 Candi, dan MIN 1 Sidoarjo, ” terang Dr. Kemil.
Sementara itu, Afifuddin dariTim INOVASI menjelaskan kalau media pembelajaran ini dirancang terintegrasi dengan penguatan literasi dan numerasi. Melalui kerja sama ini, INOVASI memberikan pendampingan teknis kepada para guru, kepala sekolah, dosen, serta mahasiswa semester 5 Umsida yang sedang menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). “Dukungan materi juga diberikan untuk meningkatkan kapasitas para pendidik dalam menyusun dan menguji coba learning kit tersebut,” jelas Afifuddin.

Kegiatan ini turut melibat sejumlah narasumber dan mitra dari program Kemitraan Indonesia-Australia, seperti SIAP SIAGA dan KONEKSI, yang menghadirkan perwakilan dari BMKG, BNPB, serta Puskapa UI, juga ITS. Selain itu, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sidoarjo juga diundang untuk memberikan perspektif inklusi disabilitas.
Pengembangan learning kit ini ditargetkan pada skala kecil terlebih dahulu agar penyusunan dan fasilitasi dapat berjalan lebih fokus. “Pelaksanaan uji coba awal melibatkan empat sekolah, yakni tiga sekolah yang merupakan bagian dari proyek percontohan pendidikan perubahan iklim di Sidoarjo serta satu SD Laboratorium Umsida,” terangnya.(mad)








