SURABAYA (RadarJatim.id) — Bagi sebagian besar mahasiswa, berjalan dari satu gedung ke gedung lain di kampus merupakan hal biasa dari rutinitas perkuliahan. Namun, hal tersebut dapat berbeda bagi mahasiswa pengguna kursi roda.
Jalur yang terputus, permukaan yang tidak rata, perubahan elevasi tanpa transisi memadai, hingga ramp yang sulit digunakan secara mandiri, dapat mengubah perjalanan sederhana menuju ruang kelas menjadi sebuah tantangan tersendiri.
Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan penelitian evaluasi Physical Accessibility di lingkungan kampus UPN “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT). Penelitian yang dilakukan SULD “Bela Negara” bersama Program Studi Desain Interior pada Juli–September 2026 ini mengevaluasi sejumlah elemen fisik kampus dengan mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.
Hasil evaluasi menunjukkan, pedestrian memiliki tingkat kepatuhan terendah, yaitu 20,7 persen, sementara ramp mencapai 48,7 persen. Sebagai perbandingan, tingkat kepatuhan tangga masuk tercatat 62,3 persen dan pintu masuk 89,5 persen.
“Angka tersebut tidak serta-merta berarti kampus tidak memiliki fasilitas aksesibel. Temuan justru menunjukkan bahwa tantangannya terletak pada keterhubungan, kualitas, dan kemandirian penggunaan fasilitas.” ungkap Nabila Anindya Widiarini, SDs, MDs, dosen Fakultas Arsitektur dan Desain UPNVJT, Rabu (23/9/2026)
Dalam penelitian ini, pedestrian dievaluasi berdasarkan ketersediaan jalur, kemungkinan dilalui kursi roda, kondisi permukaan, bebas hambatan, penanganan perubahan level, serta keberadaan dan keterhubungan guiding block. Untuk ramp, evaluasi mencakup kemiringan, lebar efektif, landing, handrail, kondisi permukaan, hambatan, dan kemungkinan digunakan secara mandiri.

Di sejumlah area, jalur pedestrian belum membentuk jaringan yang kontinu dan belum tersebar secara konsisten antarklaster kampus. Menurut Zahrotul Munawwaroh, SIKom, MSi, peneliti dalam riset evaluasi aksesibilitas sekaligus Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat SULD “Bela Negara” UPNVJT, beberapa jalur juga memiliki permukaan yang rusak atau terlalu kasar, sementara perubahan elevasi belum selalu dilengkapi transisi yang memadai.
“Persoalan lain muncul ketika pedestrian juga berfungsi sebagai jalur kendaraan bermotor, sehingga mobilitas pejalan kaki menjadi kurang aman,” tambahnya.
Kondisi tersebut dinilai penting, karena aksesibilitas bukan sekadar persoalan apakah sebuah fasilitas tersedia. Akses baru benar-benar tercipta ketika seseorang dapat bergerak dari satu titik ke titik lain dengan aman, nyaman, dan mandiri. Prinsip ini sejalan dengan Convention on the Rights of Persons with Disabilities yang menempatkan akses terhadap lingkungan fisik dan fasilitas publik sebagai bagian dari hak penyandang disabilitas (United Nations, 2006).
Ramp dan Persoalan Kemandirian
Tantangan serupa ditemukan pada ramp. Tidak semua bangunan aktif memiliki ramp, sementara fasilitas yang tersedia menunjukkan variasi ukuran dan kondisi. Beberapa memiliki ruang manuver terbatas, transisi elevasi yang kurang halus, permukaan yang rusak atau licin, hingga hambatan berupa barang yang diletakkan di jalur.
Bagi pengguna kursi roda, ungkap penelitian itu, detail tersebut menentukan apakah sebuah perjalanan dapat dilakukan secara mandiri atau membutuhkan bantuan orang lain. Studi Maldonado-Garcés et al. (2025) juga menunjukkan, bahwa evaluasi fisik lingkungan perguruan tinggi dapat mengidentifikasi hambatan yang membatasi mobilitas, otonomi, dan kemandirian mahasiswa penyandang disabilitas.
Penelitian UPNVJT merekomendasikan perbaikan secara bertahap, dimulai dari membangun jaringan pedestrian yang kontinu, memperbaiki ramp dan transisi elevasi, hingga mengembangkan Accessibility Master Plan yang mengintegrasikan pedestrian, ramp, pintu masuk, parkir, wayfinding, dan fasilitas aksesibilitas lainnya sebagai satu jaringan kampus.
Menurut Zahrotul, pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Universal Design yang mendorong lingkungan dirancang agar dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang tanpa membutuhkan adaptasi khusus (Fleet & Kondrashov, 2019).
Kampus inklusif, lanjutnya, tidak bisa hanya berhenti pada membangun ramp dan pedestrian. Terciptanya rantai perjalanan yang utuh, dari gerbang hingga ruang kelas adalah purpose dan goal yang harus diusahakan. Jika salah satu bagian terputus, aksesibilitas belum sepenuhnya tercipta.
Bagi UPNVJT, data kondisi eksisting ini dapat menjadi baseline untuk menentukan prioritas pembangunan kampus yang memungkinkan setiap mahasiswa bergerak, belajar, dan beraktivitas dengan lebih aman dan mandiri. (Nabila Anindya Widiarini, SDs, MDs)





