Oleh Moh. Husen*
Suatu hari A.S. Laksana, atau khalayak mungkin lebih mengenalnya dengan panggilan Mas Sulak, menyampaikan dalam sebuah channel YouTube, bahwa bercerita itu lebih enjoy atau menyenangkan daripada memaparkan sebuah ide, gagasan, teori, apalagi kritik.
Kalau ada yang belum kenal Mas Sulak, Wikipedia bertutur: “AS Laksana merupakan pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 25 Desember 1968. Ia merupakan lulusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia telah menulis beberapa buku dan cerpen yang telah diterbitkan di berbagai media.”
Kita sebagai pembaca –mungkin karena berbagai sebab– terkadang merasa terteror atau terancam tatkala membaca judul-judul yang berbau opini. Berbagai macam spekulasi muncul di benak kita: wah, kita mau diceramahin nih, mau dikritik dan dinasihati nih. Dan, kita sudah bosan dan capek dengan semua itu.
Maka saya sepakat dengan Mas Sulak.
“Tidak ada orang yang menolak cerita,” katanya di YouTube. “Bahkan kalau kita bertemu teman, kita selalu berbagi cerita, bukan berbagi teori,” lanjutnya.
“Cerita tidak mengancam pikiran. Tapi teori bisa bikin orang waspada. Karena itu, teknik bercerita yang bagus kita perlukan,” tandasnya.
Kemudian Mas Sulak memberikan contoh, bahwa dengan metode bercerita, dirinya dengan ringannya menceritakan orang yang berpindah-pindah agama tanpa harus kena “cekal”, misalnya mempermainkan agama.
Jika hari-hari ini kita sedang sedemikian lelah dan capeknya dengan berita atau opini politik, coba diganti dengan membaca cerpen politik. Bedanya, dalam cerpen politik kita tidak menjumpai nama-nama seperti Jokowi, Anies-Muhaimin, Prabowo-Gibran, atau Ganjar-Mahfud.
Bedanya lagi, penulis cerpen politik rawan dituduh penakut dan pengecut, karena tidak berani menyebut nama secara terang-terangan. Padahal justru karena tak menyebut nama secara jelas, bisa jadi penulisnya lebih sangat terang-terangan membuka kedok kejahatan seorang tokoh nasional.
Ada kalanya penulis cerpen itu lebih terhormat, berakhlak dan tahu diri, daripada orang yang terang-terangan menghujat tokoh nasional dengan menulis namanya secara jelas, namun dia sendiri diam-diam merindukan jabatan yang sama, serta ingin melakukan “kekejaman” yang sama atau bahkan lebih parah.
Ah, kok ngelantur ke mana-mana. Padahal untuk kepentingan refreshing dan bercermin sesaat, saya ini sedang kangen ingin baca-baca cerpen politik. Apakah para penulis cerpen masih ada yang berani menyebut Kerbau, Ular, Tikus, Gajah, Harimau, Burung Nuri, atau Musang dalam cerpennya? Saya kangen dan penasaran.
Saya berani menulis Jokowi, namun saya takut menulis Tikus.
Banyuwangi, 21 Desember 2023
*) Catatan kultural jurnalis RadarJatim.id, Moh. Husen, tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.






