SIDOARJO (RadarJatim.id) – Bencana luapan lumpur Lapindo yang menerpa sebagian kecil wilayah Sidoarjo ternyata menyimpan potensi besar di tangan generasi muda yang kreatif. Yakni berhasil menciptakan produk penjernih air berbahan dasar lumpur Lapindo yang mengantarkan mereka meraih medali emas tingkat nasional tahun 2026.
Dialah Monica Eillen Fenisia Toha dan Jihan Anindya Syafira, siswa kelas XII SMA Negeri 2 Sidoarjo berhasil meraih medali Emas ajang FIKSI (Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia) tingkat nasional 2026, yang dilaksanakan mulai tanggal ada 12–17 Oktober 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali.
Ditemui di sekolahnya pada (20/10/2026) pagi, Jihan menceritakan, berawal dari tema kearifan lokal yang dilombakan dalam ajang FIKSI Nasional 2026 itulah akhirnya kami terus menggali ide, mencari inovasi berbasis kearifan lokal khas Sidoarjo.
“Tema FIKSI tahun ini adalah tentang kearifan lokal. Kami berpikir di Sidoarjo ada potensi apa, kalau bukan kupang, udang, ya Lumpur Lapindo. Karena lumpur Lapindo sudah menjadi bencana nasional, kami melihat ada peluang besar jika dimanfaatkan sebagai bahan dasar,” ungkap Jihan.
Sebelum mengeksekusi ide tersebut, mereka melakukan riset literatur dan membaca jurnal-jurnal ilmiah untuk memastikan keamanan bahan baku. Setelah menemukan referensi yang menyatakan bahwa lumpur Lapindo aman dan efektif digunakan untuk filtrasi air, mereka berkonsultasi dengan guru pembimbing, Bu Asri, hingga terciptalah produk bernama Zeolap Filter.
Menurut Eillen kalau produk yang dikembangkan ini masuk ke dalam kategori Pengembangan Usaha pada ajang FIKSI. Berbeda dengan kategori Rencana Usaha yang baru berupa proposal, kategori ini menuntut bukti nyata berupa operasional usaha selama 3 bulan, hasil penjualan, hingga testimoni pelanggan.
Menurutnya, Zeolap Filter ini merupakan media filtrasi kimiawi utama berbahan lumpur Lapindo. Saat ini, difokuskan untuk skala akuarium kecil berukuran sekitar 40 hingga 50 cm. “Manfaat utamanya untuk menghilangkan dan mengurangi bau tidak sedap pada air akuarium. Juga menjernihkan air akuarium yang dapat digunakan berulang kali (reusable) dengan cara dicuci seminggu sekali,” jelas Eillen.
Proses riset dan ujicoba (trial and error) memakan waktu sekitar satu bulan sebelum pendaftaran lomba. Sebagai siswa kelas 12, Eillen dan Jihan harus membagi waktu antara tugas sekolah, persiapan tes/TKA, dan pengembangan produk.
Namun, dukungan penuh dari pihak sekolah menjadi kunci sukses mereka. Sekolah memberikan kelonggaran waktu (dispensasi) untuk penelitian dan pembuatan produk, serta memfasilitasi pencarian bahan baku, calon pelanggan, hingga kerja sama dengan berbagai mitra.
Saat pengumuman pemenang, Eillen dan Jihan mengaku sangat terkejut.”Pertama shock dan kaget banget. Jujur, target awal saya pribadi cuma medali perunggu. Waktu nama kami tidak dipanggil di pengumuman perunggu, sempat pasrah kira-kira tidak dapat apa-apa. Ternyata begitu dipanggil dapat juara 1 (medali emas), rasanya senang sekali,” ungkap keduanya riang.
Sementara itu, Nurul Hidayati, S.Pd M.Si guru yang mendampingi waktu festival di Bali juga mengungkapkan kalau proses pembelajaran yang penuh ketelatenan, perjuangan, serta kerja keras membuahkan hasil manis.
“Para siswa berhasil meraih kemenangan berkat inovasi yang berakar dari budaya lokal. Budaya lokal tersebut dikembangkan menjadi produk-produk kreatif hasil karya anak-anak, yang kemudian melalui proses validasi ketat dari berbagai instansi terkait,” ungkapnya.

Dalam pengembangannya, para siswa menggandeng dua perusahaan yang berkaitan dengan sektor air, sehingga bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Selain itu, karena berkaitan dengan komoditas ikan, mereka juga menggandeng Dinas Perikanan.
“Untuk memperluas pemasaran dan pengembangan bisnisnya, produk-produk buatan anak-anak ini dititipkan dan bekerja sama dengan Toko Alifah, sebuah toko yang menyediakan berbagai produk seperti ikan, akuarium, dan perlengkapan lainnya,” katanya.
Saat menghadapi ujian, para siswa telah menguasai seluruh proses secara mendalam, mulai dari proses kimiawi hingga biologis. Hal ini dikarenakan produk dan konsep mereka telah melalui tahap validasi bersama tim ahli dari PDAM dan Dinas Perikanan.
“Berkat persiapan yang matang tersebut, para siswa mampu menjawab seluruh pertanyaan dan melakukan presentasi dengan lancar. Meskipun sempat mendapat pertanyaan tak terduga mengenai bagaimana jika akuarium dibentuk bulat (padahal fokus produk mereka adalah akuarium berbentuk persegi), para siswa tetap mampu melewatinya dengan baik dan presentasi berjalan sukses serta lancar,” terang Bu Nurul_sapaan akrabnya.
“Keberhasilan ini dicapai setelah melalui persaingan ketat dengan lima finalis lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia. Lima finalis tersebut berasal dari Sumatera Selatan, Kalimantan, Aceh, Jogja dan Sidoarjo dalam hal ini kami SMA Negeri 2 Sidoarjo,” jelasnya.(mad)







