SURABAYA (Radarjatim.id) – Ketua Dewan Juri FNRP XXXI, Sukatno, mengungkap fakta baru, dirinya mengaku sempat dihubungi dan dilobi oleh peserta sebelum penjurian berlangsung. Ini terkait polemik hasil Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 kian memanas. Di tengah gelombang protes dan kecurigaan publik atas hasil penjurian
FNRP menegaskan ini, disampaikan Sukatno saat memberikan penjelasan mengenai proses penilaian FNRP XXXI yang belakangan menuai sorotan. Ia menegaskan, upaya pendekatan dari peserta memang ada, namun dirinya memilih menolak demi menjaga independensi sebagai juri.
“Kalau misalnya lobi-lobi, minta untuk disupervisi atau ditinjau, itu selalu ada godaan-godaan seperti itu. Saya juga diminta, saya ditelepon, untuk melihat. Tapi saya menolak,” kata Sukatno saat ditemui di Surabaya.
Pernyataan itu mempertegas bahwa di balik kompetisi seni paling bergengsi di Ponorogo tersebut, terdapat upaya-upaya pendekatan kepada juri yang berpotensi memengaruhi objektivitas penilaian. Meski Sukatno mengaku menolak, ia tidak bisa memastikan apakah pendekatan serupa juga terjadi kepada juri lain.
“Kalau Anda tanya kepada saya, saya pribadi pernah diminta, tapi saya menolak. Itu jawaban saya, dan itu real dari saya. Kalau berkaitan dengan dinamika yang terjadi hari ini dan opini publik yang berkembang, silakan dicari dan digali sejauh mana informasi itu,” ujarnya.
Sukatno menegaskan, sejak awal dirinya bersedia menjadi juri dengan satu syarat, tidak boleh ada intervensi dalam bentuk apa pun. Jika ada campur tangan terhadap independensi dewan juri, ia mengaku lebih memilih mundur.
“Kalau ada intervensi, saya sudah menyatakan lebih baik pulang. Sejak awal saya seperti itu,” tegasnya.
Di tengah polemik yang berkembang, Sukatno mengakui hasil sebuah kompetisi memang tidak akan pernah memuaskan semua pihak. Namun, situasi menjadi jauh lebih rumit ketika muncul dugaan-dugaan yang memicu kecurigaan publik.
“Di dalam sebuah kompetisi, hasil penilaian kadang-kadang tidak bisa memuaskan semua pihak. Apalagi kalau kemudian ada indikator-indikator atau indikasi-indikasi yang mencurigakan, itu tambah runyam. Padahal kami berusaha seobjektif mungkin dan seindependen mungkin,” katanya.
Ia menyebut kompetisi FNRP tahun ini berlangsung sangat ketat. Menurutnya, hampir seluruh peserta memiliki kualitas tinggi sehingga membuat proses penilaian tidak mudah.
“Barangnya sama, formulanya reog Ponorogo. Diolah sedemikian rupa, tetap reog. Juri pun tidak gampang mencari angle-angle kekuatan masing-masing. Rata-rata yang bertanding semuanya sudah ahli,” ujarnya.
Sukatno bukan sosok baru dalam penjurian festival reog. Ia mengaku mulai terlibat dalam penjurian FNRP sejak 2016, justru setelah muncul dinamika besar pada festival tahun sebelumnya. Ironisnya, setelah satu dekade bergelut di ruang penilaian, ia kembali menghadapi polemik serupa pada FNRP XXXI 2026.
“Sebetulnya saya sudah ingin off. Tahun kemarin saya juga sudah menolak, tapi tahun ini diminta lagi. Saya tidak mengharapkan ada dinamika seperti sekarang ini,” katanya.
Terkait mekanisme penilaian, Sukatno menjelaskan bahwa sistem yang digunakan mengacu pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis lomba. Ada empat aspek utama yang dinilai, yakni kepenarian, koreografi, penyajian, dan garap musik.
Aspek kepenarian mencakup kualitas seluruh penari, mulai warok, jatil, ganong, klono hingga dadak merak. Penilaian meliputi unsur wiraga atau kemampuan gerak, wirama atau kesesuaian dengan tempo dan musik, serta wirasa atau ekspresi dan penghayatan.
Sementara aspek koreografi menilai kreativitas penggarapan panggung, komposisi, dramatika, alur pertunjukan, pengolahan ruang, dan pola gerak. Adapun aspek penyajian mencakup kemantapan penampilan, kelancaran perpindahan, kekompakan, hingga minimnya gangguan artistik selama pertunjukan. Satu aspek lainnya adalah garap musik.
“Dari aspek-aspek itu, masing-masing juri memberikan angka. Setelah direkap, keluar ranking masing-masing juri. Kemudian ranking itu diakumulasi. Yang total rankingnya paling kecil, dia berada di posisi paling atas,” jelasnya.
Meski telah menjelaskan sistem penilaian, pengakuan Sukatno soal adanya upaya lobi justru menambah dimensi baru dalam polemik FNRP XXXI. Sebab, publik kini tak hanya mempertanyakan hasil akhir penjurian, tetapi juga menyoroti kemungkinan adanya upaya memengaruhi proses sebelum penilaian dilakukan.
Sukatno berharap polemik yang mencuat tahun ini menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi dewan juri maupun penyelenggara. Menurut dia, kualitas akademik dan pengalaman saja tidak cukup, integritas juri menjadi faktor penentu dalam menjaga marwah festival.
“Harapannya, juri dipilih karena kemampuannya dan integritasnya. Karena kadang-kadang ada yang benar-benar tahan godaan, kadang ada yang tidak. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. (RJ9)







