SIDOARJO (RadarJatim.id) – Bukan sekadar menghasilkan sayuran untuk dipasarkan, kegiatan pertanian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya atau Lapas Porong, Sidoarjo, juga menjadi jalan bagi warga binaan untuk mengasah keterampilan sekaligus memperoleh apresiasi atas hasil kerja mereka.
Dalam sepekan terakhir, program pertanian di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) berhasil menghasilkan 73 kilogram kangkung.
Hasil panen tersebut selanjutnya dipasarkan untuk memenuhi pesanan yang telah masuk serta memasok kebutuhan sayuran di Pasar Porong.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Surabaya Sohibur Rachman mengatakan, kegiatan pertanian produktif tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya mendapatkan keterampilan praktis, tetapi juga belajar membangun etos kerja, tanggung jawab, dan kemandirian.
Menurutnya, pembinaan melalui sektor pertanian diharapkan mampu memberikan bekal yang bermanfaat bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Kami terus mendorong agar program pembinaan kemandirian tidak hanya memberikan keterampilan kepada warga binaan, tetapi juga menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Sohibur, Rabu (21/10).
Dia berharap, kegiatan pertanian tersebut dapat menumbuhkan semangat warga binaan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan produktif setelah menyelesaikan masa pidana.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas I Surabaya Supriyanto menjelaskan, produksi 73 kilogram kangkung merupakan akumulasi hasil panen selama satu minggu terakhir.
Hasil panen tersebut akan didistribusikan untuk memenuhi pesanan yang telah diterima serta dipasarkan ke Pasar Porong. Dengan begitu, produk pertanian dari lahan SAE dapat terserap dengan baik sehingga kegiatan produksi bisa terus berlanjut.
“Selanjutnya, hasil panen akan kami gunakan untuk memenuhi pesanan yang sudah masuk dan didistribusikan ke Pasar Porong,” jelasnya.
Selain memanen kangkung, Lapas Kelas I Surabaya juga melanjutkan kegiatan dengan membagikan premi kepada warga binaan yang terlibat dalam aktivitas kerja dan produksi.
Pemberian premi tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi warga binaan dalam mendukung kegiatan pertanian. Langkah ini sekaligus menjadi motivasi agar mereka terus meningkatkan produktivitas dan keterampilan selama mengikuti program pembinaan.
Melalui pengelolaan lahan SAE, Lapas Kelas I Surabaya berupaya mengintegrasikan pembinaan keterampilan dengan kegiatan ekonomi produktif.
Hasil pertanian yang dapat dipasarkan menjadi bukti bahwa kegiatan pembinaan tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga berpotensi menghasilkan nilai tambah.
Ke depan, produktivitas lahan SAE diharapkan terus meningkat, disertai perluasan pemanfaatan hasil pertanian dan keberlanjutan pemasaran.
Dengan demikian, warga binaan memiliki bekal keterampilan dan pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat. (RJ/Red)








