PASURUAN (RadarJatim.id) — Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), puluhan masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Akar Runjam menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah titik di Kota Pasuruan.
Dalam aksi tersebut, aliansi ini menyuarakan kritik terhadap sejumlah persoalan nasional, mulai dari keterbatasan lapangan kerja, kenaikan harga kebutuhan pokok, persoalan pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga evaluasi program pemerintah.
Aksi yang dikoordinasikan oleh Putra Firdaus Pradana selaku koordinator lapangan itu menyasar empat titik strategis. Keempatnya: Simpang Empat Penjara, Kebonagung, Purut, dan kawasan Alun-alun Kota Pasuruan.
Di sepanjang rute aksi, aliansi membentangkan dan membagikan selebaran berisi sejumlah persoalan sosial-ekonomi yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Lapangan Kerja
Salah satu isu utama yang disoroti Aliansi Akar Runjam adalah ketimpangan antara jumlah lulusan institusi pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja. Menurut mereka, pertumbuhan jumlah lulusan belum diimbangi dengan kesempatan kerja yang memadai.
Dalam infografis yang dibawa saat aksi, mereka mencantumkan proyeksi jumlah lulusan yang meningkat dari sekitar 2 juta orang pada 2023 menjadi 3,2 juta orang pada 2026. Data tersebut menjadi dasar kritik mahasiswa terhadap kebijakan ketenagakerjaan yang dinilai belum mampu menjawab kebutuhan para pencari kerja.
Selain keterbatasan lowongan, Aliansi juga menyoroti persyaratan rekrutmen yang mencantumkan batas usia maksimal dan pengalaman kerja. Menurut mereka, persyaratan semacam itu dapat menjadi hambatan bagi lulusan baru yang hendak memasuki dunia kerja.
Persoalan ekonomi masyarakat turut menjadi perhatian dalam aksi tersebut. Aliansi menyinggung tekanan harga kebutuhan pokok serta mencantumkan angka inflasi tahunan sebesar 3,28 persen dan inflasi bulanan sebesar 0,30 persen, yang mereka atribusikan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2026.
“Perkembangan harga pangan perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat,” ujar Firdaus.
Aliansi Akar Runjam juga menyoroti persoalan pembatasan atau keterbatasan stok BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Menurut pandangan mahasiswa, gangguan pasokan BBM berpotensi menghambat distribusi logistik dan meningkatkan biaya transportasi, yang selanjutnya dapat memengaruhi harga barang kebutuhan pokok.
Komoditas yang menjadi perhatian meliputi beras, minyak goreng, telur, sayur-mayur, dan daging. Mahasiswa menekankan pentingnya kebijakan yang mampu menjaga ketersediaan pasokan serta keterjangkauan harga kebutuhan dasar masyarakat.
Karhutla dan Program MBG
Selain persoalan ketenagakerjaan, pangan, dan energi, Aliansi turut menyuarakan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka menilai, penanganan karhutla perlu dilakukan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan agar dampak terhadap lingkungan serta masyarakat dapat diminimalkan.
Aliansi Akar Runjam juga mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut mereka, program tersebut perlu dijalankan dengan tata kelola yang baik, pengawasan yang memadai, serta penyaluran yang tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Aksi yang berlangsung di sejumlah titik di Kota Pasuruan itu menjadi bentuk penyampaian aspirasi rakyat dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Melalui orasi dan selebaran, Aliansi Akar Runjam mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam menjawab persoalan pendidikan, ketenagakerjaan, ketahanan pangan, dan energi. Mereka juga menegaskan, bahwa kritik publik merupakan bagian dari kontrol sosial dalam kehidupan demokrasi. Mereka berharap, aspirasi yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Momentum Hari Sumpah Pemuda, menurut pesan yang diusung dalam aksi tersebut, bukan sekadar peringatan sejarah perjuangan generasi muda, melainkan juga kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya tanggung jawab bersama dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. (uba)








