SIDOARJO (RadarJatim.id) – Ditengah gencarnya program swasembada pangan nasional, capaian sektor pertanian di Kabupaten Sidoarjo justru belum mampu berbicara banyak. Target laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian tahun 2025 gagal tercapai, dan menuai sorotan tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo.
Saat ini pemerintah pusat sedang masif memperkuat ketahanan pangan nasional dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Lahan-lahan tidur mulai digarap untuk tanaman pangan, seperti jagung, padi dan komoditas lainnya.
Kondisi itu dinilai harusnya juga diimbangi dengan dukungan serius dari pemerintah daerah agar program swasembada pangan berjalan selaras antara pusat dan daerah.
Dalam dokumen Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tahun 2025, Dinas Pangan dan Pertanian (DP2) Kabupaten Sidoarjo menargetkan pertumbuhan PDRB sektor pertanian sebesar 3,11 persen. Namun realisasinya hanya menyentuh di angka 1,39 persen atau sekitar 44,69 persen dari target yang ditetapkan.
Rendahnya capaian pertumbuhan sektor pertanian dipengaruhi sejumlah faktor, diantaranya dominasi sektor industri dan perdagangan di Kabupaten Sidoarjo yang membuat kontribusi pertanian terhadap struktur PDRB relatif kecil.
Selain itu, sektor pertanian disebut sangat sensitif terhadap perubahan musim dan faktor eksternal dibanding sektor industri. Tekanan lain juga datang dari tingginya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan maupun industri.
Kusumo Adi Nugroho, Wakil Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo menilai kegagalan target tersebut tidak bisa dianggap biasa dan harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah, Rabu (6/5/2026).
“Jangan sampai lahan hijau berubah jadi kuning dan abu-abu. Artinya sawah berubah jadi perumahan atau pabrik terus-menerus,” kata Kusumo Adi Nugrohon saat ditemui awak media diruang Fraksi PDI-P DPRD Sidoarjo.

Disampaikan oleh Kusumo bahwa persoalan alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata bagi masa depan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Meski diwilayah perkotaan lahan pertanian mulai menyusut, namun seperti di Kecamatan Balongbendo serta Tarik masih memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan harus dijaga.
Ia juga menyampaikan bahwa kondisi perubahan iklim berdampak terhadap produktivitas pertanian, bahkan fenomena cuaca ekstrem seperti el nino turut mempengaruhi pola tanam petani.
Untuk itu, inovasi di sektor pertanian tidak boleh berhenti. Salah satunya melalui pengembangan teknologi pertanian dan edukasi penggunaan pupuk cair untuk meningkatkan kualitas tanah dan produksi tanaman.
“Kalau bicara inovasi, ya harus terus jalan. Kemarin, kami juga mencoba membagikan bibit bawang dan ternyata bisa tumbuh di Sidoarjo,” ujarnya.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu meminta adanya pendampingan terhadap petani melalui penyuluh pertanian. Karena banyak persoalan teknis dilapangan yang masih membutuhkan perhatian serius, mulai dari kesuburan tanah hingga persoalan irigasi.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah pertanian yang mulai mengandalkan sumur pompa karena persoalan pengairan. Namun, penggunaan sumur tersebut dinilai belum maksimal karena debit air cepat menurun.
“Ada beberapa kasus pengairan yang perlu dievaluasi. Teman-teman petani memakai sumur pompa tapi airnya cepat kering. Ini harus dicek lagi kedalaman air tanahnya. MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut, red)-nya berapa? Kalau memang harus dibor lebih dalam supaya airnya lebih tinggi, ya harus dilakukan,” terangnya. (mams)






